LANTAI TIGA

LANTAI TIGA
BAB 51


__ADS_3

Bukan hanya mereka yang terkejut, Megan, Laura, Olivia, Zergan dan Rian sama terkejutnya melihat pemandangan mengerikan di depan mata mereka.


"BELLA!!!" Ujar Laura dengan terkejut.


Laura menghampiri Bella yang masih berdiri dengan keterkejutan-nya saat melihat ada orang lain selain Laura.


Saat sudah di depan Bella, langsung saja Laura menampar pipi kanan Bella yang membuatnya harus tertoleh kebelakang.


Bella memegangi pipi kanannya yang berdenyut sakit karna tampar yang dilayangkan oleh Laura.


"Bella aku gak nyangka kamu bisa berbuat seperti ini." Ucap Laura saat sudah menampar pipi Bella dengan keras.


Bella menatap Laura dengan tajam. Bella benar-benar tidak habis fikir dengan Laura yang menamparnya hanya dan membela Gita. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Bella Laura menampar dirinya seperti ini.


"Kamu nampar aku? KAMU NAMPAR AKU DAN NGEBELA GITA? GILA KAMU LAURA!!." Ucap Bella tak menyangka.


"Aku sepupu kamu dan kamu malah lebih milih buat Bela dia dibanding aku?" Dengan ekspresi tak menyangka Bella.


"Ini gak ada hubungannya dengan kita sepupu Bel! Tapi kamu udah keterlaluan." Ujarnya dengan memandang Bella tajam.


Zergan yang dari tadi hanya menonton saja tiba-tiba berjalan menghampiri Bella dan langsung memukul Bella yang membuat Bella harus tersungkur ke bawah.


"SIALAN LO BELLA!! BANGSAT ANJJNG BABI! MATI LO ANJING MATI!!" Ucap Zergan yang masih memukuli Bella membabi buta.


Bella tak bisa banyak melakukan apa-apa karena pukulan Zergan yang amat kuat.


Polisi yang melihat itu sontak memisahkan Zergan agar berhenti memukuli Bella. Olivia, Megan, dan Rian menghampiri Gita dan membantunya berdiri.


Olivia menatap miris keadaan Gita sekarang. Olivia tidak menyangka Bella bisa menjadi seorang psychopat seperti ini. Sedangkan Rian memandang Gita dengan khawatir.


"Tuan tolong hentikan anda bisa membunuh dia." Ucap salah satu dari polisi itu.


"Gue gak peduli!" Balasnya dan masih berniat untuk memukul Bella kembali sebelum Megan segera menarik Zergan.


"Sudah hentikan Zergan biar polisi saja yang menangani Bella." Ucapnya


Nafas Zergan masih memburu sebelum dirinya lalu menghampiri Gita yang sedang merintih kesakitan.


Sedangkan Laura menatap tajam Jihan dan Lia yang sekarang sudah ketakutan. Takut nanti mereka akan dipenjara.


Laura menghampiri mereka berdua dan langsung mencekal tangan kedua orang itu dibantu oleh Megan yang memegang tangan Lia.


"Gue minta maaf sumpah. Gue gak pernah ngapa-ngapain Gita, gue cuma nampar dia doang." Ujar Lia dengan ketakutan.


"DIAM!!" Ucap Megan dengan menatap Lia raja yang membuat nyali Lia semakin menciut.


"Lo berdua kenapa mau di suruh sama Bella hah?" Tanya Laura kepada Lia dan Jihan.


"Gue butuh duit dan Bella mau ngasih gue duit banyak asal gue harus bantu dia." Balas Jihan dengan nada yang ketakutan juga.


Lia pun mengangguk setuju pada Jihan. "Gue juga sama. Gue harus bayar pengobatan adek gue di rumah sakit. Jadi mau gak mau gue harus bantu Bella." Lia mengatakan itu dengan air mata yang mulai mengalir.


"Mau apa pun alesan kalian! TETAP SAJA APA YANG KALIAN LAKUKAN ITU SALAH!!" Ucap Rian dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras membahasi pipinya.


"Kita berdua minta maaf Om!" Ucap Lia dan Jihan berbarengan.


"Sudah cukup kalian bertiga akan kami tahan karna kasus penculikan dan penyiksaan." Ujar Polisi itu dan segera memborgol tangan Bella.


"Benar Pak penjarakan mereka. Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan kepada Keponakan saya." Ucap Rian dengan memandang tiga orang itu tajam.


"Kalo pengen penjarain gue silahkan! Gue gak peduli, lagian gue udah seneng nyiksa tuh orang." Ucap Bella dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


Zergan yang mendengar itu seketika di buat emosi. "BANGSAT LO BELLA!!" Ujarnya penuh dendam.


Bella tak menanggapi Zergan karena polisi itu mulai membawa Bella keluar dari ruangan itu diikuti oleh Laura dan Megan yang membawa Jihan dan Lia keluar juga.


"BELLA GUE BENCI SAMA LO! GARA-GARA LO GUE HARUS DI PENJARA SIALAN!" Ujar Jihan dengan memberontak.


"Bella i hate you!!" Ucap Lia


"I don't care." Balas Bella


"Kalo lo cuma mau nangkep gue doang lo salah. Karena salah satu dari keluarga Gita juga ikut serta dalam kasus ini." Ucapnya sebelum Bella mulai benar-benar pergi.


Setelah kepergian Bella. Zergan, Olivia dan Rian di buat terdiam. Apa maksud dari perkataan Bella tadi? Salah satu dari keluarga Bella ikut serta dalam kasus ini?


Tiba-tiba pikiran Rian langsung terlintas Rudi. Apakah Rudi ikut serta dalam masalah ini?


"Gita lo pasti kuat Gita!!" Ujar Zergan membaut Rian langsung menatap sang keponakan.


"Sayang kamu tahan ya kita akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang." Ujarnya dan mengangkat tubuh Gita.


"O-om a-aku mm-mau ngucapin terima k-kasih karna udah mau nolongin aku. T-tapi a-aku u-udah gak sanggup l-lagi. To-tolong j-jaga Ma-ma!" Ucap Gita sebelum Gita mulai menutup mata dengan rapat.


Rian menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tidak ini tidak mungkin, Gita tidak mungkin meninggalkan dirinya begitu saja.


"Enggak-enggak sayang bangun, bangun Gita kamu gak boleh ninggalin Om gitu aja! GITAAA!!!" Ucap Rian dengan teriakan di akhirnya dan mulai menangis dengan keras.


Olivia dan Zergan tak kuasa menahan air matanya. Mereka berdua merasa tidak becus dalam melindungi Gita. Ketiga orang itu mulai menangis dengan keras.

__ADS_1


...****************...


Polisi itu membuka pintu mobil dan menyuruh Bella untuk masuk ke dalam. Namun tiba-tiba Bella berhenti dan menatap Laura dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kamu tau kan Laura alasan kenapa aku ngelakuin ini?" Tanyanya dan dibalas anggukan oleh Laura.


"Seharusnya kamu gak benci sama aku. Aku cuma balasin dendam Kakak Sandra, dia juga Kakak kamu Laura." Ucap Bella dengan masih menatap Laura.


"Aku tau Bel. Tapi cara kamu salah, aku udah dari dulu nasehatin kamu buat jangan kaya gini tapi kamu gak mau dengarin kata aku."


Bella menghembuskan nafasnya pelan, mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, lagian Bella juga senang akhirnya rencana yang ia susun dari lama telah tercapai dengan lancar, mskipun dirinya harus menanggung akibat dari perbuatan-nya ini. Bella juga tidak menyesal karena telah membunuh seseorang.


"Jaga diri kamu baik-baik Laura." Ucap Bella dan tiba-tiba saja Bella mengecup pelan bibir Laura membuat sang empu terkejut akan tindakan Bella.


"I love you." Ucap Bella pelan sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil polisi.


Laura masih terdiam, dirinya benar-benar tidak menyangka akan tindakan yang di lakukan oleh Bella yang tiba-tiba mengecup pelan bibirnya.


"GITAAA!!" Teriakan itu membuat Laura tersadar dan menoleh ke dalam bangunan gedung tua itu.


Apa yang terjadi dengan Gita? Bukan hanya Laura saja yang terkejut, tapi Megan dan yang lain pun ikut terkejut.


Bella yang mendengar teriakan itu pun tersenyum lebar. Apakah dia berhasil telah membunuh Gita?


"Jadi Gita beneran udah mati? Bagus lah kalo gitu." Ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Laura dan Megan.


Laura dan Megan langsung berlari untuk memasuki gedung itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Mobil yang membawa Bella kini sudah pergi menuju kantor polisi untuk minindak lanjuti kasus ini.


...****************...


Megan dan Laura berlari dengan sangat kencang dan saat mereka sudah sampai di ruangan itu, mereka berdua terkejut melihat semua orang menangis dan Gita yang sudah menutup mata.


"G-Gita!!" Ucap Megan dan berlari menghampiri Gita dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Megan merasa tidak becus dalam menjaga Gita, padahal dirinya sudah berjanji pada Katrina untuk menjaga Gita, namun ternyata ia tidak bisa menjaga Adik dari orang yang ia cintai.


Laura pun ikut menghampiri Gita dengan air mata yang menetes.


"Gita maafin Bella, gara-gara dia lo jadi kaya gini." Ucap Laura pelan.


...****************...


Di sini lah sekarang mereka berada. Kejadian yang menimpa Gita tadi pagi masih terus berputar di kepala mereka. Benar-benar tidak menyangka jika Gita harus berakhir seperti ini.


Megan merasa benar-benar hancur sekarang. Ditinggalkan oleh orang yang dicintainya dan juga orang yang sudah Megan anggap seperti adik sendiri.


"Gita maafin Om yang gak bisa jagain kamu sayang." Ucap Rian dengan mencium batu nisan itu lama.


Olivia pun ikut berjongkok dan mengelus batu nisan itu. "Sorry kita dateng telat buat nolongin lo Git." Ucap Olivia tak menyangka bahwa Gita akan sangat cepat meninggalkan dirinya.


"Udah lebih baik kita jangan sedih lagi. Kalo kita sedih Gita juga bakalan sedih di sana. Gita sekarang udah seneng kerena udah ketemu sama Kakaknya." Ucap Laura yang membuat mereka mengangguk mengerti.


Tiba-tiba Rian teringat akan perkataan dari Bella sebelum Bella di bawa oleh Polisi. Rian teringat jika salah satu dari keluarga Gita ikut serta dalam penculikan Gita berarti itu adalah Rudi!


"Sebelum sepupu kamu di bawa oleh polisi Bukankah dia sempat mengatakan jika keluarga Gita ikut serta dalam kasus ini?" Ucap Rian yang diangguki semua orang.


"Iya Om. Apa Om tau siapa orangnya?" Tanya Zergan di balas anggukan oleh Rian.


"Kita ke sana sekarang!!" Ucap Rian dengan mata tajamnya pergi meninggalkan makam Gita di ikuti yang lain di belakang Rian.


...****************...


Rian keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa menuju rumah miliknya. Rian segera membuka pintu dengan kasar membuat ketiga orang di dalam rumah itu terkejut.


"Mas kamu kenapa?" Tanya Mina yang melihat sang Suami pulang dengan keadaan tidak baik-baik saja.


Rian mengabaikan pertanyaan Mina, matanya menatap tajam Rudi yang sedang memeluk Melinda.


Rian menghampiri Rudi dan menarik kuat kerah baju Rudi, memukul Rudi sangat kuat membuat Rudi tersungkur ke bawah.


Tentu saja tindakan Rian membuat Mina dan Melinda terkejut. Ada apa ini, kenapa Rian seperti orang kesetanan.


"Mas kamu kenapa pukul Kak Rudi kaya gitu!" Ucap Mina berusaha memisahkan Rudi tapi tidak bisa.


"MATI LO KAK MATI!!." Ucapnya dengan masih memukul Rudi kuat.


Megan, Laura, Olivia, dan juga Zergan yang melihat Rian memukul Rudi dengan kuat pun bergegas menghampiri Rian dan langsung menarik kuat tubuh Rian membuat Rian terhuyung.


"Om berhenti Om nanti dia bisa mati!" Ucap Olivia dengan masih menahan tubuh Rian.


"Om gak peduli Oliv dia harus mati detik ini juga." Ujarnya yang memberontak.


"Kalo Om bunuh dia sama aja Om dan dia itu gak ada bedanya, sama-sama pembunuh." Olivia mengatakan itu dengan masih menahan kuat tubuh Rian membuat Rian terdiam namun dengan nafas yang masih memburu.


Benar yang dikatakan Olivia. Jika dirinya membunuh Rudi maka sama saja jika ia dan sang Kakak sama-sama pembunuh.


Melinda menghampiri Rudi dan membantunya berdiri dengan air mata menetes.

__ADS_1


"Kenapa kamu pukul Kakak kamu Rian! KENAPA!!" Ucap Melinda menatap sang adik ipar.


"KARENA DIA GITA MATI!! KARENA DIA GITA NINGGALIN KITA SEMUA!!" Ucapan Rian membuat Mina dan Melinda terkejut.


"A-apa!!" Ucap Melinda pelan.


"Mas jawab ini semua gak bener kan? Gita gak mungkin meninggal." Ucap Mina dengan memandang sang Suami.


"Buat apa aku bohong Mina? Kalo kamu gak percaya kamu bisa tanya sama mereka. Kita baru saja pulang dari makam Gita." Ucap Rian membuat Mina menatap teman-teman Gita.


"Benar?" Tanya Mina memastikan dan diagguki oleh teman-teman Gita.


"G-gak mungkin Gita meninggal! Kamu bohong kan Rian kamu bohong." Ucap Melinda dengan memukul bahu Rian.


"BUAT APA AKU BOHONG KAK BUAT APA!! INI SEMUA EMANG ADA KAITANNYA SAMA RUDI. RUDI JUGA NGEBANTU ORANG YANG MAU BALASIN DENDAM KAKAKNYA YANG MATI KARENA KATRINA! ANAK PERTAMA KAK MELIDNA DENGAN SUAMI LAMA KAKAK!!" Ucap Rian dengan nafas tak beraturan.


"A-apa maksud kamu Rian? Mana mungkin Katrina membunuh orang lain." Melinda tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Bahkan Katrina sudah meninggal Tante!!" Tiba-tiba Megan berucap membuat Melinda menatap Megan dengan tak percaya.


"BOHONG!! KAMU PASTI BOHONG KAN!!" Tunjuk Melinda pada Megan.


"Sudah Tante sudah berhenti, ini semua sudah terjadi." Ucap Olivia pelan.


Melinda menatap sang Suami dengan tajam dan dirinya langsung menghampiri Rudi dan memukulli Rudi kuat.


"DASAR PEMBUNUH KAMU MAS PEMBUNUH!! DIA ANAK KAMU MAS, BISA-BISANYA KAMU BUNUH DIA!" Ucap Melinda yang masih memukuli Rudi.


Rudi yang tak tahan pun menggenggam tangan Melinda dan menatap Melinda tajam.


"Anak saya? KAMU BILANG KALO DIA ANAK SAYA? DIA BUKAN ANAK KANDUNG SAYA MELINDA! DIA ANAK KAMU DENGAN MANTAN SUAMI KAMU ITU!!" Ucap Rudi membuat Melinda terdiam.


"Ya Kak memang benar jika Gita bukan anak kandung Kak Rudi, tapi anak kandung Kakak dengan mantan Suami Kakak." Rian mengatakan iti


"Saya menikahi kamu karena saya kira anak dalam kandungan kamu itu anak saya ternyata bukan. Saya hanya berpura-pura menyayangi Gita agar kamu tidak curiga dengan saya." Ucap Rudi.


Tiba-tiba saja beberapa orang polisi masuk kedalam rumah Rian dan langsung menangkap Rudi.


"Anda kami tahan atas dugaan penculikan yang anda lakukan pada mendiang Anggita Rahma Sari." Ucap polisi itu dan memborgol tanggan Rudi lalu membawanya keluar rumah.


Melinda menangis sejadi-jadinya. Dirinya tidak menyangka jika Gita adalah anak dari dia dan Johan, mantan Suaminya.


Seandainya dulu Melinda tidak berselingkuh dengan Rudi, maka ia sekarang hidup bahagia dengan Suami serta kedua anaknya. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dirinya tidak bisa mengembalikan itu semua.


Mina menghampiri Melinda dan memeluk tubuh Melinda, mengusap pelan punggung Melinda.


"Maafin Mama Gita seharusnya Mama gak ngelakuin hal menjijikan itu. Seandainya Mama gak Selingkuh dengan Rudi, maka kamu dan Kakak kamu masih hidup sampai sekarang sayang." Ucapnya dengan suara yang mulai serak.


Tiba-tiba saja pandangan Melinda mulai kabur dan tak lama setelah itu Melinda tidak sadarkan dirinya.


"KAKAK/TANTE!!" Ucap semua orang yang ada dirumah Rian terkejut kala melihat Melinda yang sudah pingsan.


...****************...


Di sebuah tempat dengan nuansa putih itu, terdapat seseorang dengan senyum miris tercetak di bibir manisnya.


"Meskipun aku harus mati dengan cara kaya gini gak papa deh dari pada harus hidup dalam siksaan dia." Ucap orang itu pelan


Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Adek!" Ucapnya membuat orang itu membalikan badannya.


"Siapa ya?" Tanyanya tak paham.


"Masa gak tau sih! Ini Kakak sayang. Kak Katrina." Ucap Katrina membuat Gita membelakan matanya terkejut.


"Kakak!" Balas Gita dan langsung memeluk tubuh sang Kakak.


"Kenapa ada di sini?" Tanya Katrina dengan mengelus pelan surai Gita.


"Seperti yang Kakak lihat kalo aku udah mati."


"Mati di tangan keluarga yang sama."


"Kak Gita mau tanya, Kakak waktu itu muncul di kelas aku waktu aku gak mau pulang?" Tanya Gita


Katrina mengangguk pelan. "Kakak kangen sama kamu." Balasnya.


"Sekarang kita udah bareng, kita gak akan pernah pisah lagi." Ucap Katrina dengan mengeratkan pelukannya pada Gita.


Gita pun ikut mengeratkan pelukan Katrina. "Benar kali ini kita akan bareng terus." Ucap Gita tersenyum membuat Katrina ikut tersenyum


Mereka lantas tertawa bersama dalam dunia yang berbeda ini. Mereka akan terus bersama-sama dan tidak akan pernah terpisah lagi.


...END...


...****************...


Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita gaje ini. akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita ini setelah menulis cerita ini dengan membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.

__ADS_1


Saya ucapkan sekali lagi terima kasih buat kalian yang membaca cerita ini. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu bye-bye


__ADS_2