LANTAI TIGA

LANTAI TIGA
BAB 21


__ADS_3

Pagi telah tiba. Bulan sudah tergantikan dengan Matahari. Gita yang masih nyenyak dengan tidurnya pun merasa terganggu karna sinar matahari yang cukup menyilaukan mata


Gita mengucek matanya pelan dan duduk sebentar di atas kasur sebelum dirinya melangkah pergi ke kamar mandi


Akhirnya Gita pun beranjak dari duduknya dan pergi ke arah lemari untuk mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Setelah lima belas menit sudah Gita mandi, kini dirinya tengah bersiap-siap memakai seragam sekolah dan merias dirinya agar tidak terlihat pucat. Setelahnya Gita mengambil tas dan juga buku diary yang ia ambil semalam bersama dengan kedua temannya ia masukan kedalam tas. Gita pun turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya


Tap... Tap... Tap...


Suara derap langkah kaki yang berasal dari arah tangga membuat atensi orang yang berada dimeja makan menoleh ke arahnya


"Good Morning Mah Pah" sapa Gita kepada kedua orang tuanya dan tak lupa juga Gita memberikan ciuman di pipi keduanya


"Morning too Sayang" balas Melinda atau Mama Gita


"Morning juga Anak Papa" ujar Rudi, Papa Gita


"Semalem kamu pulang jam berapa?" tanya Rudi sebelum menyeruput kopi buatan Melinda


Gita yang mendengar Papanya mengatakan itu pun sontak bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan jika Gita menjawab dengan jujur jika dirinya pulang jam dua belas malam bisa-bisa ia akan dimarahi dan tidak akan di izinkan pergi malam lagi


"Duh mampus!! Jawab apa nih gue? Masa gue jujur sih kalo gue semalam pulang jam dua belas. Bisa-bisa gue gak di bolehin pergi malem lagi dong" ujar Gita dalam hati


Melinda dan Rudi yang melihat jika Anaknya hanya diam saja pun curiga jika Gita pulang larut malam


"Kok kamu diam aja sih Git!! Itu Papa kamu tanya loh! Semalem kamu pulang jam berapa emang?" tanya Melinda


Gita yang mendengar itu pun langsung tersadar dan menjawab dengan berbohong


"Emm anu Mah, semalam aku pulang jam sepuluh kok tenang" balas Gita sambil berbohong


"Bener kamu pulang jam sepuluh bukan larut malem?" tanya Rudi


"Ya enggak lah Pah!! Mana mungkin aku pulang larut malem. Papa kira aku Cewek apaan?" tanya Gita


"Bagus lah kalo kamu pulang gak larut malem" balas Rudi yang kini beranjak dari duduknya dan mengambil tas kerjanya


"Sayang aku berangkat dulu ya. Ini udah mau telat, aku ada rapat soalnya" pamit Rudi yang kini sedang mencium kening Melinda


"Kamu hati-hati dijalan ya Mas!! Jangan ngebut" balas Melinda mengingatkan


"Iya.. Yaudah aku pergi dulu ya Sayang, Gita" ucap Rudi yang kini sudah hilang dari pandangan Gita dan juga Melinda


Gita yang melihat jika Sang Papa telah pergi pun memilih melanjutkan makannya agar ia tidak terlambat ke Sekolah


Setelah makannya selesai, Gita pun pamit kepada Sang Mama sebelum ia pergi ke Sekolah

__ADS_1


"Mah aku udah selesai. Aku berangkat dulu ya" pamit Gita dengan mencium tangan Melinda


"Iya. Kamu juga hati-hati ya dijalan" balas Melinda


"Siap!!" balas Gita dengan memberikan hormat layaknya seorang prajurit


Gita pun melangkah keluar dan berjalan kearah garasi untuk ia tumpangi agar bisa cepat sampai ke Sekolah


Gita masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Saat diperjalanan menuju Sekolahnya, Gita pun teringat dengan tulisan yang ada dibuku diary itu sebelum dirinya tidur semalam. Gita mengerutkan keningnya yang seolah tidak mengerti dengan tulisan yang ada dibuku itu


"Sumpah lama-lama kepala gue bakalan pecah kalo gini caranya!! Banyak bat dah teka-tekinya" ucapnya dengan masih fokus menatap jalanan


Akhirnya tak memerlukan waktu lama, Gita telah sampai di Sekolahnya. Mobil Gita pun berjalan kearah Parkiran dan Gita segera memarkirkan mobilnya


Gita keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasnya. Seperti biasa, Gita selalu menjadi pusat perhatian saat dirinya melangkah pergi kekelas atau kekantin, pasti ada yang sedang membicarakannya, entah itu gombalan, pengakuan cinta atau bahkan tak segan-segan orang membicarakan hal buruk tentang Gita, namun Gita abai saja ia tak terlalu memikirkan itu


Akhirnya Gita sampai didepan kelasnya. Gita segera masuk kedalam kelas yang sudah mulai ramai ini. Dilihatnya meja Bella yang ternyata sudah ana Bella dan juga Laura yang sedang duduk dengan Bella yang menelusupkan kepalanya di atas meja dan Laura yang membaca buku


Gita meletakan tasnya di meja miliknya. Setelahnya Gita berjalan kearah meja Bella dan duduk di depan meja Bella


Laura yang menyadari jika Gita duduk di depannya pun sontak menatap kedepan hanya menatap sekilas setelahnya melanjutkan membacanya


"Lo kenapa Bel?" tanya Gita kepada Bella


"Anjir lah gue semalem gak bisa tidur anjir" balas Bella yang kini sudah menatap Gita


"Pas kita pulang dari sini, gue ngerasa kalo gue diikuti anjir. Nih ya semalam gue denger kaya ada orang nangis di kamar gue" ujar Bella membuka sesi gibahnya


"Nyokap lo kali lagi nangis" ucap Gita dengan ngawurnya


"Sembarangan lo kalo ngomong" balas Bella dengan sedikit menjitak kening Gita pelan


"Ya terus kalo bukan nyokap lo siapa dong?" tanya Gita dengan muka yang menjengkelkan menurut Bella


"Ya kalo gue tau juga gue gak bakal ngomong anjir" balas Bella yang sepertinya sudah lelah menghadapi kelakuan Gita


"Mana gue tau" ujar Gita yang membuat Bella ingin rasanya memukul kepala Gita


"Dah lah males gue ngomong sama lo bikin darting tau gak" ucap Bella menyerah


"Suka-suka lo deh Gita mau ngomong apa terserah lo" ujar Bella dalam hati


"Eh ngomong-ngomong masa semalam pas gue baca buku diary itu gue dibuat bingung anjir" ucap Gita yang membuat atensi Laura teralih yang tadinya menatap buku sekarang menatap Gita


"Bingung gimana?" tanya Laura dengan alis yang terangkat

__ADS_1


"Ya aneh masa dibuku itu ada nyebut nama nyokap gue sih" balas Gita


"Dan lagi-lagi ngomong tentang Kakak gue, sedangkan gue aja gak punya Kakak" sambung Gita


"Lo udah bilang sama nyokap lo?" tanya Laura yang kini sudah menutup bukunya


"Nanya gimana maksud lo?" tanya Gita tak mengerti


Laura yang mendengar itu pun ingin rasanya memukul kepala Gita dengan bangku yang sedang ia duduki ini. Sekarang ia tau bagaimana rasanya jadi Bella saat berbicara dengan Gita


"Ya ngomong kalo misal lo itu punya Kakak atau gak Anggita" ucap Laura dengan suara pelan namun penuh penekanan


"Oh yang itu... Gue udah tanya sama nyokap tapi kata nyokap kalo dia gak punya Anak selain gue" balas Gita


"Bentar deh!! Kayanya tuh buku ada sangkut pautnya deh sama keluarga lo Git" pertanyaan itu Tiba-tiba saja keluar dari mulut Bella


"Tapi kok bisa?" tanya Gita yang lagi-lagi membuat Bella dan juga Laura geram


"Ya mana gue tau setan!! Bener-bener ya ngomong sama lo itu kayanya harus ekstra sabar deh" ucap Bella


"Hah kok bisa?" tanya Gita lagi


Saat Bella akan mengucapkan sesuatu, Tiba-tiba saja bel masuk berbunyi yang membuat Bella tidak jadi mengatakan sesuatu


Kring.... Kring.... Kring....


Suara bel masuk menggema diseluruh penjuru Sekolah yang menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai


"Untung aja udah masuk coba kalo gak bisa-bisa gue mati muda gara-gara ngadepin nih bocah" ucap Bella dalam hati


Gita dan Laura pun kembali kebangku mereka dan menunggu Guru yang akan datang untuk memulai pelajaran


Seorang paruh baya datang memasuki kelas dengan wajah yang jutek yang mana membuat seisi kelas ini ketakutan karna Guru itu


Saat Gita sedang fokus belajar Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi seperti ada pesan masuk. Gita pun langsung mengeceknya, namun saat dicek itu adalah nomer orang yang waktu itu menelfonnya yang menurut Gita itu hanya orang iseng. Namun kali ini pesan itu bener-bener membuat tubuh Gita bergetar ketakutan. Laura yang menyadari itu pun bertanya kepada Gita namun dibalas golengan oleh Gita


"Gue bener-bener bakalan bikin hidup lo menderita dan juga gue bakalan hancurin keluarga lo!! Terutama nyokap lo yang bakalan gue bunuh pertama, baru setelah itu gue bakalan bunuh lo juga" begitulah isi pesan yang dikirim untuk Gita


Gita pun meletakan kembali ponselnya kedalam laci mejanya. Gita berfikir apakah dulu keluarganya membuat kesalahan hingga membuat orang lain merasa dendam


"Sebenarnya ini ada apa sih!! Kenapa gue selalu dapet ancaman" ujarnya dalam hati


Gita tak bisa fokus dengan pembelajaran ini hingga ia memutuskan untuk izin ke toilet


"Pak maaf saya izin ke toilet bentar boleh gak Pak?" izin Gita

__ADS_1


Guru itu pun hanya menganggukkan kepalanya dan Gita pun segera pergi keluar dari kelas. Saat di pertengahan jalan ia mendengar suara yang ia kenal sepertinya sedang bertengkar. Gita berjalan dengan pelan menuju sumber suara untuk melihat siapa yang sedang bertengkar itu. setelah sampai Gita pun mengintip dan melihat siapa orang itu. Namun mata Gita dibuat melotot saat tau siapa orang yang sedang bertengkar itu


"G-gak mungkin kan" ucapnya pelan dan segera berjalan pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang menetes


__ADS_2