LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
API DENDAM SANG MAWAR BERDARAH.


__ADS_3

setelah Ayana mengambil sumpah dia meminta panglima elang untuk mendidik keponakannya. dan pemakaman seluruh anggota keluarganya itu diadakan pada hari itu juga.


dihadapan makam sang kakak Ayana meletakan bunga teratai berwarna merah darah sebagai tanda kasih sayangnya kepada sang kakak.


air matanya berlinang ketika melihat kehancuran diwajah keponakannya. dia memeluk sang keponakan dan mencium keningnya, kemudian mengajaknya pulang.


berita mengenai pembantaian seluruh anggota kerajaan negeri tabib ternyata sampai ke telinga Hanan dan adiknya.


sehingga keduanya datang untuk menghadiri pemakaman keluarga kerajaan itu. ketika Ayana melihat kedatangan kedua pangeran itu dia menghadang keduanya agar tidak mendekati area pemakaman.


"berhenti pangeran cukuplah sudah kau melangkah, jangan kau teruskan langkah mu" ucap Ayana sembari menitikan air mata.


"aku tau putri kau pasti sangat terluka dengan apa yang telah dilakukan oleh ayah ku dan aku meminta maaf untuk itu" sahut Hanan sembari memberikan hormat.

__ADS_1


"maaf? kau meminta maaf?! apa kau tau pangeran hidup ku hancur seketika saat aku melihat kedua keponakan kembarku meninggal dihadapan ku, didepan mataku dan disaat tanah makam mereka masih basah aku justru kehilangan kakak dan seluruh anggota keluarganya dengan cara yang sangat mengenaskan" ucap Ayana dengan hati yang berapi-api.


"aku mengerti perasaan mu putri. dan aku meminta maaf dari hati ku yang paling dalam kepada mu" sahut Hanan mencoba menenangkan Ayana.


"andaikan kata maaf mu bisa menghidupkan kembali kakak dan keponakan ku, aku pasti akan memaafkan mu Hanan tapi apa kau tau jika permintaan maaf mu ini justru semakin melukai hati ku." ucap Ayana sembari menundukan wajahnya.


"aku tau itu putri dan aku pun menyesali tindakan ayah ku itu" sahut Hanan menahan malu.


ketika Ayana melangkah kembali ke pemakaman tiba-tiba Feisa terjatuh dan pingsan. setelah tabib istana memeriksanya ternyata Feisa telah meminum racun buatannya sendiri untuk mengakhiri hidupnya.


Ayana hanya bisa menangisi kepergian keponakan terakhirnya itu. dengan hati yang amat sangat terluka Ayana menggali dua buah lubang pemakaman, dia menggali menggunakan tangannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain.


setiap ada orang yang ingin membantu Ayana dia selalu menolaknya dan memperingatkan orang itu untuk tidak mendekat. Hanan yang menyaksikan kejadian itu menitikan air mata penyesalan karena dia tidak dapat mencegah perbuatan keji ayahnya.

__ADS_1


disaat yang bersamaan hujan turun dengan sangat deras seakan seluruh semesta ikut menangis melihat kehancuran hati seorang gadis cantik yang malang itu.


Ayana memakamkan Feisa dengan tangannya sendiri dan dia membekali jasad keponakannya dengan mutiara air mata berwarna merah darah sebagai saksi kehancuran hati dan betapa tersiksanya hati Ayana atas kepergian semua orang yang sangat dicintainya.


setelah memakamkan keponakannya Ayana melepaskan mahkota tanda keputriannya dan mengembalikannya kepada sang ibunda.


"ibunda aku mengembalikan mahkota ini kepada mu ibunda. dengan tanpa mengurangi rasa hormat ku kepada mu dan seluruh rakyat negeri ini aku ingin turun dari tahta ku sebagai seorang putri mahkota" ucap Ayana sembari berlutut dihadapan sang ibunda.


"mulai hari ini aku bukan lagi anggota kerajaan putri duyung, dan mulai hari ini nama ku bukanlah Ayana. mulai saat ini nama ku adalah mawar berdarah, dan aku akan membalaskan semua dendam ku kepada mereka yang telah membuat aku kehilangan keponakan, kakak, kakak ipar dan juga sahabat ku" ucap Ayana dengan mata yang telah dipenuhi api dendam.


"pangeran Hanan lihatlah dihadapan mu kini ada 124 makam yang telah diisi oleh jenazah semua orang yang aku sayangi, dan lubang ke 125 yang masih kosong itu akan menjadi makam ku. ingatlah sumpah ku ini pangeran bahwa aku akan membuat kerajaan mu merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh kerajaan Tabib dan aku tidak akan mengampuni siapapun baik itu dirimu ataupun kerabatmu jadi bersiaplah" ucap Ayana sembari menatap makam Feisa.


Ayana pun melangkah dengan hati penuh dendam dan amarah. dia pergi kembali ke istana dan mengambil pedang kematian pemberian panglima elang dan kemudian berjalan menuju kerajaan Angin dengan hati yang terbakar oleh dendam Ayana memulai perjalannya dengan satu tujuan yaitu menghancurkan kerajaan Angin dan membangun kembali kerajaan Tabib.

__ADS_1


__ADS_2