
Ayana terduduk diatas sebuah kursi kayu yang mengarah langsung kearah pintu pemandian tempat Arow direndam dengan campuran rempah-rempah. Ayana melihat Nord memberikan beberapa obat kepada Arow yang sedang tidak sadarkan diri, dan disaat Arow mulai membuka matanya dia terlihat terkulai lemas dan menatap Ayana dari kejauhan dengan tatapan kesediha dan penyesalan.
Ayana hanya tersenyum dan memberikan isyarat tangan yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Ayana kemudian memalingkan wajahnya karena dia tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba saja jatuh ke pipinya.
disaat Ayana memanglingkan wajahnya tiba-tiba Arow sudah berdiri disampingnya dengan menggunakan pakaian yang basah. Ayana yang terkejut kemudian meraih tangan Arow tetapi Arow menolak tangan Ayana dengan lembut dan kemudian meletakan kepalanya dipangkuan Ayana.
Ayana ingin menahan air matanya tetapi matanya tidak sanggup membendungnya. air matanya pun jatuh tanpa dia minta, tak lama kemudian Arow memberikan bunga mawar kepada Ayana.
bunga itu adalah bunga yang sama yang diletakan Ayana disamping Arow sebelumnya. "kau sudah dewasa tetapi begitu perasa" ucap Ayana sembari menahan air matanya.
__ADS_1
"sejak kecil aku memang anak yang perasa. aku hanya ingin bibi bahagia tetapi aku justru menjadi penyebab bibi terjerumus ke dalam jurang penderitaan" sahut Arow sembari meletakan kepalanya kembali ke dalam pangkuan Ayana.
"sebelas tahun... aku harus menunggu selama sebelas tahun agar dapat mendengar mu memanggil ku bibi, ini bukan jurang penderitaan tetapi ini adalah bukti kasih sayang ku pada mu" sahut Ayana dengan lembut.
"bibi bilang bibi hanya mencintai pangeran Hanan tapi sekarang bibi harus menikahi orang yang tidak bibi cintai dan selain itu untuk seumur hidup bibi harus setia kepadanya dan melayaninya... tanpa cinta, dan terpaksa" ucap Arow dengan suara yang berat menahan air mata.
"cinta bukanlah hal yang harus kita miliki ada kalanya kita harus melupakan cinta itu karena satu dan lain hal, tetapi yang lebih penting adalah aku tidak menyesal karena mengorbankan cinta ku demi menyelamatkan mu" sahut Ayana sembari membelai rambut Arow.
"Ayana percayalah semua penderitaan mu akan segera berganti dengan kebahagiaan" ucap Nard dalam hati sembari berlalu pergi.
__ADS_1
Ayana kemudian meminta Arow untuk menggantin pakaianya yang basah. setelah Arow masuk untuk mengganti pakaianya Ayana berjalan menuju taman, Ayana melihat ada begitu banyak kunang-kunang beterbangan bercahaya bagaikan bintang yang bersinar digelapnya malam yang mendung saat itu.
disaat Ayana menangkap seekor kunang-kunang dia merasa iba terhadapnya dan melepaskanya. Ayana pun berjalan mengitari taman menikmati wanginya bunga dan cahaya sang kunang-kunang, Ayana kemudian melihat ke langit malam yang mendung.
"wahai yang kuasa... kini aku menyerahkan takdir cinta ku kepada mu, siapapun yang akan menjadi pendamping ku akan ku terima dengan ikhlas dan aku pun berjanji akan setia... meskipun untuk itu aku harus mengorbankan cinta sejati ku" ucap Ayana dalam hati sembari menutup matanya dan menghela nafas dalam-dalam.
disaat Ayana membuka matanya dia melihat seikat bunga dihadapanya. disaat dia menolehkan kepalanya dia melihat Nord ada disampingnya, Ayana pun memalingkan wajahnya dan berlalu pergi.
namun Nord menggenggam tanganya dan memberikan bunga itu tetapi Ayana tetap menolaknya. Nord pun tidak melepaskan tangan Ayana dan dia meletakan bunga itu digenggaman tangan Ayana kemudian dia pun memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"apa kau tidak ingin menikah dengan ku?" tanya Nord dengan lembut dan membelakangi Ayana.
"setiap janji haruslah ditepati karena aku tidak ingin memiliki hutang budi apalagi nyawa kepada orang lain" sahut Ayana yang juga membelakangi Nord.