
sementara itu disisi lain ketika Ayana sedang mengobati pria yang tidak dikenal itu. Hanan sedang menunggu sang ayah kembali ke istana Angin, Hanan ingin membuat sang ayah menyesali perbuatannya dan meminta sang ayah mempertanggung jawabkan tindakannya yang telah membantai anggota keluarga kerajaan negeri Tabib serta memperbudak rakyat negeri itu.
Hanan merasa sangat malu dan juga marah dengan tindakan sang ayah yang sangat keji. pembantaian anggota keluarga kerajaan tabib dengan cara seperti membantai binatang buruan sangatlah tidak pantas dilakukan oleh seorang bangsawan terlebih lagi jika bangsawan itu adalah seorang raja.
ketika raja San baru saja memasuki istana Hanan meminta izin untuk berbicara dengan raja San dan permaisurinya. raja San pun mengabulkan permintaan sang putra dan memerintahkan semua bawahannya untuk meninggalkan ruang rapat istana kecuali sang permaisuri dan sang putra. Hanan kemudian berlutut dihadapan sang ayah.
"ayah mengapa ayah menghancurkan negeri Tabib? apa kesalahan mereka ayah? mengapa ayah membunuh raja Naran beserta seluruh anggota keluarganya?" tanya Hanan meminta penjelasan dari sang ayah.
"Hanan sebagai seorang raja aku bertanggung jawab untuk memerdekakan rakyat ku, dan memper luas wilayah kekuasaan ku" sahut raja San tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"tapi mengapa ayah membantai 124 orang yang tidak bersalah itu?!" tanya Hanan dengan suara yang meninggi.
"itu karena mereka tidak mau tunduk kepada ku, dan permaisuri negeri itu sangat sombong dan menolak untuk menjadi selir ku yang ke seratus" sahut raja San dengan suara yang begitu tenang.
mendengar jawaban dari sang ayah Hanan pun segera bangkit dan berdiri. dia merasa sangat kecewa dengan perilaku ayahnya dan meminta sang ayah untuk mengakui kesalahannya serta mengembalikan kerajaan Tabib kepada mereka yang berhak.
"ayah apa kau sadar 124 orang yang telah kau bunuh itu adalah anak seseorang, adalah adik seseorang, adalah kakak seseorang, dan kerabat dari seseorang bagaimana jika seandainya semua itu terjadi kepada keluarga kita atau kerajaan kita ini ayah?!" ucap Hanan membentak sang ayah.
"aku tidak perduli karena siapapun yang berani menentang ku harus mendapatkan hukuman dan kematian adalah hukuman yang tepat bagi pembangkan seperti mereka" sahut raja San dengan suara yang sangat tenang.
"mereka bukan pembangkang ayah! mereka hanya ingin mempertahankan hak mereka." ucap Hanan menyalahkan perbuatan sang ayah.
"seharusnya kau senang karena kerajaan itu sekarang menjadi milik kita dan kita dapat memperluas daerah kekuasaan kita" sahut raja San tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"aku sama sekali tidak senang ataupun bangga dengan pencapai yang telah ayah dapatkan. aku justru merasa sangat malu dan menyesal telah dilahirkan sebagai putra mu" sahut Hanan meluapkan kekesalnya.
__ADS_1
"apa maksudmu?!" tanya raja San kepada Hanan dengan emosi.
"seandainya aku bisa menghentikan perbuatan mu ayah, aku akan melakukannya meskipun untuk itu aku harus mati" sahut Hanan dengan suara yang terdengar sangat lembut.
"apakah kau ingin menentang ayah mu!" ucap raja San kembali bertanya dengan amarah yang dapat terlihat dari tatapan matanya.
"aku hanya merasa sangat malu dan menyesalkan tindakan ayah yang sangat tidak pantas itu" sahut Hanan dengan sangat lembut.
"jaga mulutmu!!" ucap raja San membentak Hanan.
"ayahlah yang seharusnya menjaga tindakan ayah! dan nafsu keserakahan ayah itu! apa ayah tau karena perbuatan ayah ada anak-anak yang tidak berdosa yang ikut menjadi korban keserakahan mu ayah." sahut Hanan dengan lantang dan tegas.
raja San yang tidak terima dengan ucapan sang anak pun mencekik leher sang anak. namun sang permaisuri berhasil menghalangi sang raja untuk tidak menyakiti Hanan lebih jauh lagi.
"ayah. aku akan tetap menentang semua keburukan mu dan aku akan tetap memperjuangkan kebebasan rakyat negeri tabib, meski untuk itu aku harus menentang perintah mu ataupun bahkan turun dari kedudukan ku sebagai pangeran mahkota" sahut Hanan dengan lantang tanpa ada rasa ragu dihatinya.
mendengar jawaban dari sang anak raja San pun meradang dan menjatuhkan hukuman bagi Hanan.
"atas kelancangan mu dan ketidak sopanan mu itu kau akan dihukum cambuk sebanyak-banyaknya hingga kau menyadari kesalahan mu dan jika itu masih belum cukup untuk membuat mu meminta ampun kepada ku maka aku sendiri yang akan menghukum mu bahkan meleyapkan nyawa mu!" ucap raja San dengan hati terbakar amarah.
"lakukanlah jika hal itu bisa membuat ayah merasa puas. tapi aku tidak akan menyerah untuk menegakkan keadilan ayah, meskipun untuk itu aku harus kehilangan nyawa ku" sahut Hanan dengan gagah berani.
raja San meninghalkan ruangan itu dengan amarah yang membakar hatinya. setelah sang raja permaisuri meninggalkan ruangan itu Hanan segera kembali ke kamarnya. Hanan membayangkan seandainya yang menjadi korban adalah Ranum mungkin dia akan melakukan hal yang sama dengan Ayana, atau bahkan mungkin dia juga akan mengakhiri hidupnya.
untuk sejenak Hanan bisa mengerti penderitaan yang dirasakan oleh Ayana dan dia tidak menyalahkan Ayana jika Ayana mengambil sumpah untuk menghancurkan dirinya dan keluarganya. namun Hanan hanya ingin melihat adiknya tetap hidup meskipun untuk itu dia yang harus mati.
__ADS_1
perlahan Hanan mendekati Ranum dan membelai rambutnya. Ranum yang saat itu sedang tertidur pun terbangun.
"kakak apa ada masalah?" tanya Ranum dengan lembut.
"disaat fajar tiba pergilah dari istana ini Ranum" ucap Hanan dengan penuh kasih sayang.
"tapi kenapa kak?" sahut Ranum kebingungan.
"disaat fajar tiba kakak akan dihukum cambuk dan kakak tidak tau sampai berapa kali, mungkin 100 atau 1000 atau bahkan sampai kakak mati" ucap Hanan tanpa menunjukan kesedihannya.
"apa kesalahan mu kak? kenapa harus dihukum?" tanya Ranum dengan kepolosannya.
"kakak tidak membuat kesalahan. kakak hanya ingin menegakan keadilan" sahut Hanan menguatkan adiknya.
"Ranum... hukuman cambuk yang akan kakak terima hanyalah awal dari langkah kakak untuk menegakan keadilan, setelah hukuman ini berakhir kakak yakin pasti akan ada hukuman dan rintangan lain yang menanti didalam perjuangan kakak nanti. tapi perlu kau tau semua penderitaan dan siksaan yang kakak terima bukanlah karena kakak mu seorang penjahat ataupun pengkhianat tapi karena kakak mu adalah penegak keadilan" lanjut Hanan berucap.
mendengar ucapan sang kakak Ranum hanya bisa terdiam dan menangis. dia menangis bukan karena takut untuk meninggalkan kemewahan dan istananya akan tetapi dia takut kehilangan orang yang paling dikasihinya yaitu kakaknya.
"aku harus pergi kemana?" tanya Ranum kepada Hanan.
"pergi dan carilah putri Ayana, mengabdilah kepadanya, jadilah pengikutnya, berbaik hatilah kepadanya dan jagalah dia. dan tolong sampaikan kepadanya betapa aku mencintai dirinya dan memperjuangkan keadilan baginya disini" sahut Hanan sembari menggenggam tangan sang adik.
"kakak bagaimana jika kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi?" tanya Ranum kepada kakaknya.
"jika itu terjadi maka tetaplah hidup, jangan kau akhiri hidup mu dan hiduplah dengan baik jadilah dewasa aku yakin Ayana akan menyayangi diri mu dengan tulus" sahut Hanan dengan keyakinan dan ketegaran didalam hatinya.
__ADS_1