LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
RENCANA


__ADS_3

"kenapa paduka mengatakan jika saya adalah adik paduka?" tanya Arow kepada Ayana larena penasaran.


"aku adalah yang tertua di istana duyung... itu artinya semua anggota keluarga istana adalah adikku begitu juga dengan mu" sahut Ayana dengan lembut sembari memperhatikan bunga yang ada ditangannya.


"paduka begitu baik... dulu paduka telah menyelamatkan saya ketika saya hampir di jadikan makanan hewan liar, dan paduka merawat kemudian menjadikam saya sebagai panglima, bagaimana saya dapat membalas jasa paduka?" ucap Arow mengingat semua kebaikan Ayana kepadanya.


Ayana hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban kepada Arow. bagi Ayana semua orang yang dia pilih untuk menjadi anggota baru di istana duyung adalah keluarga begitu juga dengan Arow.


"kau ini sudah dewasa tapi begitu perasa..." sahut Ayana sembari tersenyum lebar.


Ayana kemudian membalikan tubuhnya dan melihat kearah Nord yang sedang menyirami tanamannya. sejenak Ayana merasa seperti mengenali Nord tetapi dia tidak begitu menghiraukan perasaan itu dan segera menunggangi kudanya.


ketika Ayana duduk diatas kudanya dia melihat ke sekeliling dan menghirup udara segar. Ayana merasa sangat ingin menikmati pemandangan itu meski hanya sebentar lagi, tetapi Ayana sadar jika dia harus segera pergi ke tempat tujuanya.

__ADS_1


Nord memandangi Ayana yang sudah duduk diatas kudanya dan bersiap untuk pergi. Ayana terlihat menyukai bunga yang diberikan oleh Nord, Ayana pun menggenggam bunga itu erat-erat agar tidak terjatuh ketika dia memacu kudanya. setelah beberapa saat kemudian Ayana dan Arow memacu kuda mereka menuju perguruan Naga Emas.


"racun itu akan segera mulai bekerja... Ayana kau jangan cemas anak itu tidak akan mati karena itu bukan racun yang berbahaya, dengan ini rencana pertama ku akan berjalan dengan baik" ucap Nord dalam hati sembari merapikan dedaunan kering yang ada dibawah bunga liar itu.


perlahan Arow mulai merasakan jika ada tang salah dengan dirinya. dia merasa pusing dan berkunang-kunang, Arow tidak dapat melihat jalan dengan baik dan dia juga tidak dapat mengendalikan kudanya dengan baik.


kuda Arow mulai kehilangan kendali dan berlari dengan sangat cepat didepan Ayana. ketika melihat hal itu Ayana merasa aneh karena tidak biasanya Arow memacu kudanya secepat itu, karena cemas Ayana segera mengikuti kemana Arow pergi.


Ayana berusaha untuk dapat mendekati Arow dan kudanya tetapi kuda yang ditunggangi oleh Ayana tidak cukup cepat untuk mengikuti kuda Arow yang kehilangan kendali.


"apa yang terjadi? ada apa dengannya?!" tanya Ayana didalam hati.


disaat kuda Arow mulai menjadi liar dan mengangkat kakinya Arow hampir saja terjatuh dari kudanya, tetapi Nord menangkap tubuh Arow dan membawanya menjauh dari kuda itu.

__ADS_1


Ayana yang tadinya merasa sangat tegang dan khawatir akhirnya dapat merasa sedikit lega. Ayana kemudian turun dari kudanya dan bergegas mendekati Arow dan Nord.


"Arow... bangunlah. ada apa dengan mu? Arow?" ucap Ayana yang berusaha membangunkan Arow.


"percuma saja dia tidak akan bangun" ucap Nord sembari meletakan kepala Arow ditanah dan mencabut jarum beracun dari leher Arow kemudian menyembunyikanya.


"apa maksud mu?!" tanya Ayana dengan wajah cemas.


"dia sepertinya sudah meracuni dirinya sendiri" ucap Nord sembari membelakangi Ayana.


karena tidak percaya Ayana memeriksa keadaan Arow dan saat itu Ayana baru menyadari jika Arow sedang mengalami keracunan, dan Ayana tidak tau jebis racun apa yang ada didalam tubuh Arow atau apa penawarnya. Ayana sama sekali tidak tau.


"dia tidak meracuni dirinya sendiri! Arow bukan anak yang seperti itu!" sahut Ayana keda Nord sembari meletakan kepala Arow dipangkuanya.

__ADS_1


"jangan coba-coba mengalirkan exelir untuk menghilangkan racun itu, karena kau bisa saja membunuhnya bukan mengobatinya" ucap Nord memberikan peringatan.


"lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Ayana dengan berusaha menutupi kepanikanya.


__ADS_2