LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
PEKAN RAYA


__ADS_3

saat pagi tiba Ayana dan Yamai kembali melanjutkan perjalanan mereka. Yamai berlarian kesana dan kemari mengagumi tumbuhan dan hewan yang ada dihutan tanah para bangsawan.


Ayana hanya tersenyim kecil sembari sesekali memperingatkan Yamai agar tidak terjutuh ke dalam jurang atau sungai. didalam perjalanannya Ayana dan Yamai bertemu dengan seorang pencari kayu bakar yang kesulitan untuk membawa kayunya, Yamai dengan segera membantu pencari kayu bakar itu agar dapat menggendong kayu bakar miliknya.


"nenek segera pulang saja ya..." ucap Yamai sembari mengikat kayu bakar itu.


"iya... terimakasih anak baik" sahut sang wanita tua memberikan pujian.


Ayana yang melihat perbuatan baik Yamai pun tersenyum dan didalam hatinya Ayana memberikan Yamai pujian.


"kau anak yang baik" ucap Ayana dalam hati.


mereka pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai ke sebuah desa. karena kebetulan mereka sampai didesa itu ketika senja maka Ayana dan Yamai segera mencari tempat untuk bermalam.


setelah mendapatkan tempat untuk bermalam Ayana segera membersihkan diri dan mulai melakukan meditasi untuk menenangkan pikirannya.


sampai akhirnya semua ketenangan itu pun hilang karena Yamai mulai berulah.


"bibi..." ucap Yamai yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ayana.


"apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?" sahut Ayana memberikan teguran.


"maaf bi" sahut Yamai dengan wajah yang terlihat murung.


Ayana yang melihat hal itu segera mengakhiri meditasinya dan kemudian menuangkan teh kedalam cangkir untuk dinikmati olehnya sendiri.


"bibi. ayo pergi ke pekan raya ini" ucap Yamai setengah merengek.

__ADS_1


"untuk apa?" tanya Ayana sembari menikmati tehnya.


"untuk jalan-jalan" sahut Yamai dengan tersenyum lebar.


"apa kau kurang puas berjalan kaki?" tanya Ayana yang kemudian menikmati aroma tehnya dengan menutup mata.


"bibi ayolah... aku ingin sekali pergi bi" sahut Yamai dengan manja seperti anak kecil.


"Yamai kalau mau pergi, pergilah sendiri bibi tidak ikut" sahut Ayana.


"baiklah kalau begitu kita tidak usah pergi" ucap Yamai sembari berjalan meninggalkan kamar Ayana dan kembali ke kamarnya.


melihat perilaku Yamai, Ayana tidak banyak merespon dan tetap menikmati teh sarta camilanya. kemudian Ayana menggunakan kekuatan exelirnya dengan mengirimkan seekor lebah madu pembawa berita ke kamar Yamai. dari lebah itu nantinya Ayana dapat mengetahui apa yang dilakukan dan dibicarakan oleh Yamai dikamarnya.


"bibi selalu saja bersikap santai seperti itu, aku hanya mengajaknya pergi jalan-jalan tapi dia malah menolak dan tidak perduli" ucap Yamai sembari berbaring diatas tempat tidurnya.


"ibu dan nenek selalu melarangku pergi ke pekan raya seperti ini, mereka juga sering meninggalkan aku dirumah sendirian untuk pergi menonton perayaan tanpa diri ku... ibu... apakah aku ini benar-benar pembawa sial sampai ibu harus meninggal setelah menyuapi aku?... kenapa orang-orang itu membunuh ibu? dan kenapa nenek sangat membenci ku?" ucap Yamai sembari melihat pekan raya dari jendela.


kamar Yamai dan Ayana saling berhadapan dan kamar keduanya berada dilantai 2 sehingga mereka bisa melihat pekan raya dari jendela kamarnya masing-masing.


"Yamai apa kau semenderita itu?" tanya Ayana dalam hati.


"bibi aku hanya ingin pergi ke pekan raya bersama dengan bibi... sekali ini saja bi aku juga ingin melihat bibi bahagia, apa bibi juga menganggap bahwa aku ini pembawa sial karena itulah bibi tidak mau pergi bersama ku?" ucap Yamai dengan naifnya dan menangis seperti anak kecil.


ketika Ayana melihat dan mendengar segalanya dari lebah pembawa berita Ayana pun memanggil seorang pelayan. Ayana meminta pelayan itu untuk mengantarkan makanan kepada Yamai, namun Yamai tidak memakan makanannya dan hanya melihat keluar jendela tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.


Ayana yang melihat hal itu dari lebah pembawa berita akhirnya beranjak dari duduknya dan menghampiri Yamai dikamarnya.

__ADS_1


"Yamai" ucap Ayana mengejutkan Yamai.


dengan bergegas Yamai menghapus air matanya dan menghampiri Ayana. Yamai berlutut dihadapan Ayana dan memberikan penghormatan kepada Ayana sebagai tanda permintaan maafnya karena telah bersikap tidak sopan tadi.


"bibi aku minta maaf karena telah tidak sopan, hanya karena aku ingin melihat pekan raya aku justru bertindak tidak sopan kepada bibi yang sudah sangat baik kepada ku" ucap Yamai dengan penuh penyesalan.


"Yamai apa kau benar-benar ingin pergi ke pekan raya?" tanya Ayana kepada Yamai.


"tidak jika tanpa bibi" sahut Yamai sembari menurunkan tangannya.


"kenapa?" tanya Ayana yang mulai sedikit menjaili Yamai.


"tidak ada alasan" sahut Yamai menutupi niatnya untuk membuat Ayana merasakan sedikit bahagia.


"kau yakin?" ucap Ayana kembali menjaili Yamai.


"iya" sahut Yamai dengan gugup.


"kalau begitu baiklah" sahut Ayana sembari berpura-pura akan meninggalkan kamar Yamai.


"bibi tunggu" ucap Yamai menghentikan langkah Ayana.


"ada apa?" sahut Ayana dengan singkat.


"bibi aku ingin pergi ke pekan raya dengan bibi. karena aku ingin bibi tersenyum dan tidak menangis lagi" ucap Yamai dengan wajah yang sedikit memerah karena malu mengakui hal itu.


"bersiaplah kita akan pergi ke pekan raya itu" sahut Ayana sembari melangkah untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


mendengar jawaban Ayana Yamai merasa senang dan segera bersiap untuk pergi, dia juga memakan semua makanan yang dikirimkan oleh Ayana melalui pelayan tadi.


__ADS_2