LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
Di SANDRA


__ADS_3

ditengah malam dikerajaan Duyung ketika semua orang sedang terlelap dalam tidurnya Xiao wen justru terjaga dan tidak dapat terlelap. ada sesuatu yang membuatnya merasa gelisah tetapi dia tidak tau apa itu.


sebenarnya tadi ketika Xiao wen dan Ayana baru saja kembali dari hutan emas, Xiao wen tidak sengaja melihat sebuah lukisan air terjun yang indah. dia seperti memiliki kenangan tentang air terjun tetapi Xiao wen tidak dapat mengingatnya, hal itu membuatnya gelisah dan sulit tidur.


karena bisan Xiao wen memutuskan untuk pergi mencari udara segar. Xiao wen memutuskan untuk pergi ke tempat dimana dia biasanya berlatih memanah yaitu dibukit Liu.


bukit itu terletak tidak jauh dari istana negeri duyung, dengan menggunakan exelirnya Xiao wen hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk sampai disana.


ketika Xiao wen sampai disana dia duduk dan menikmati sejuknya angin malam. Xiao wen memperhatikan keselilingnya hanya ada pohon, semak belukar dan bunga-bunga liar.


Xiao wen melihat setangkai bunga mawar, kemudian dia mendekati bunga itu. dia melihat bunga itu tumbuh dengan kurang baik, daunnya penuh lubang karena dimakan serangga, batangnya kecil dan kurus, warna bunganya juga pucat dan terlihat sangat tidak terawat.


"andai kau dirawat dengan baik, kau pasti akan tumbuh menjadi bunga yang cantik" ucap Xiao wen dalam hati.


~di istana duyung~


Ayana tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya. saat Ayana berjalan menuju kamar Xiao wen dia melihat panglima Arow sedang dalam posisi siaga dan terlihat seperti sedang mengamati sesuatu. Ayana kemudian mendekati sang panglima dan menyapanya.


"apa yang sedang kau amati?" ucap Ayana penasaran.


"maaf paduka tapi tadi saya menemukan ini" sahut sang panglima sembari menunjukan sebuah botol berisi surat yang entah dari mana datangnya.


Ayana kemudian membuka surat itu karena penasaran dan juga karena dirinya ingin memastikan apa isi dari surat botol itu.

__ADS_1


didalam surat itu tertulis "ratu negeri duyung Ayana, aku ratu negeri peri aku meminta untuk bertemu dengan mu datanglah ke bukit Liu apabila kau tidak datang maka mungkin kau tidak akan melihat putra mu lagi saat fajar tiba."


saat membaca surat itu Ayana tersentak dan naik pitam. Ayana segera mengganti gaun malamnya dengan pakaian santai kerajaan dan mengambil pedang kematian miliknya, Ayana meminta panglima Arow untuk membangunkan seisi istana dan memberikan perintah untuk siaga.


sementara itu Ayana segera menuju bukit Liu dengan secepat mungkin menggunakan exelirnya untuk melakukan teleportasi. sesampainya dibukit itu Ayana melepaskan selendangnya dan menerbangkan ke udara agar ratu negeri peri mengetahui kedatangannya.


Ayana kemudian mendapatkan pesan balasan dari ratu negeri peri berupa taburan kelopak bunga mawar. Ayana bergegas menuju kearah kelopak bunga itu dijatuhkan.


saat sampai ditempat itu Ayana melihat Xiao wen yang sedang tidak sadarkan diri sedang di ikat dengan menggunakan tali perak. melihat hal itu Ayana meradang dan mencabut pedang kematian dari tempatnya.


"apa yang kau inginkan?! kenapa kau menculik anakku?!" ucap Ayana yang telah terbakar emosi saat melihat Xiao wen dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"aku tidak berniat jahat Ayana. aku hanya ingin bertemu dengan mu" sahut ratu negeri peri dengan raut wajah tanpa rasa bersalah.


"karena jika aku tidak melakukannya kau pasti tidak akan datang menemui ku disini" ucap ratu negeri peri sembari berjalan mendekati Ayana.


Aya kemudian menodongkan pedangnya ke arah leher ratu Yuri dan mengancam akan membunuhnya jika dia tidak melepaskan ikatan yang ada ditubuh Xiao wen.


"jika kau tidak melepaskan ikatan itu dari tubuh anakku akan ku pastikan jika pedang ku ini akan menembus lehermu" ucap Ayana dengan tatapan mata yang dingin.


Ayana kemudian menurunkan pedangnya dan memerintahkan ratu Yuri untuk melepaskan ikatan dari tubuh Xiao wen. ratu Yuri kemudian berjalan ke arah Xiao wen dan melepaskan tali perak itu dengan exelirnya.


Ayana segera mendekati Xiao wen dan segera membangunkannya. ketika terbangun Xiao wen bingung saat mendapati dirinya sudah berada disamping Ayana.

__ADS_1


"ibu disini?" ucap Xiao wen dengan lirih.


"kau baik-baik saja?" sahut Ayana balik bertanya untuk memastikan keadaan Xiao wen saat itu. Xiao wen hanya menjawab pertanyaan Ayana dengan senyuman yang menandakan jika dirinya baik-baik saja.


Ayana kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati ratu Yuri. Ayana mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah ratu Yuri, ratu Yuri juga mengeluarkan pedang emas miliknya dan mengarahkan pedang itu pada Ayana. keduanya saling menatap dengan tatapan sinis.


"kenapa kau menculik anakku? dan memancing ku untuk datang kemari?" tanya Ayana dengan berusaha menahan emosinya.


"aku ingin menemui mu karena aku ingin mengajukan kerja sama... aku ingin kau membantuku untuk menghancurkan negeri angin dan negeri seribu bambu" sahut ratu Yuri membujuk Ayana.


"aku tidak ada urusan dengan kedua negeri itu lantas kenapa kau mengajukan kerja sama?"sahut Ayana sembari tersenyum sinis. ratu Yuri kemudian menyarungkan pedangnya dan tersenyum kepada Ayana.


"bukankah kau juga punya dendam dengan negeri Angin setelah mereka membunuh seluruh anggota keluarga mu? lantas kenapa kau tidak ingin membalas dendam?" ucap ratu Yuri balik bertanya kepada Ayana dengan raut wajah seakan meledek Ayana.


"dendam ku sudah ku kubur dalam-dalam... kalaupun nantinya aku harus menghancurkan negeri angin dan membunuh raja San itu semua bukan karena dendam tapi demi keadilan" sahut Ayana sembari menurunkan pedangnya.


"kau memang sangat mirip dengan ibu mu, kalian sama-sama sangat menjunjung tinggi keadilan... tapi Ayana apakah menurutmu para leluhur dan anggota keluarga mu tidak akan kecewa jika kau tidak menuntut balas atas kematian mereka?" ucap ratu Yuri mencoba meyakinkan Ayana dengan raut wajah tidak merasa bersalah sama sekali.


"aku rasa kau sama sekali tidak ada hubunganya dengan itu. karena semua itu adalah urusan pribadiku" sahut Ayana dengan sinis.


"aku masih menunggu kesedian mu untuk bekerja sama dengan ku menghancurkan negeri-negeri dibawah pimpinan raja busuk itu, ingatlah Ayana ini bukan hanya soal dendam tetapi juga soal keadilan... coba kau pikirkan ada berapa banyak korban yang sudah dibunuh oleh raja San dan anak buahnya?! bukan 1 atau 2 orang Ayana! tapi ratusan bahkan ribuan dari bangsawan hingga rakyat jelata telah mereka bantai. termasuk rakyat dan juga kakak perempuan ku pikirkanlah semuanya baik-baik Ayana... aku akan menunggu jawaban mu kapan pun kau siap bergabung maka aku akan menyambutmu dengan suka cita" ucap ratu Yuri kembali meyakinkan Ayana sebelum dia meninggalkan tempat itu.


setelah ratu Yuri meninggalkan tempat itu Ayana kembali menyarungkan pedangnya dan terdiam sejenak. Ayana kemudian mendatang Xiao wen yang masih terlihat lemah dan memegangi kepalanya yang terluka, setelah itu Ayana segera membawa sang anak kembali ke istana dan meminta para tabib untuk mengobati lukanya.

__ADS_1


__ADS_2