
Ayana mengumpulkan semua kekuatan exelirnya dan mengeluarkan mutiara kehidupan dari dalam tubuhnya dan ingin memberikanya kepada Yamai.
Ayana tau benar jika dia memberikan mutiara kehidupan itu kepada Yamai maka dia akan mati. akan tetapi Ayana juga tidak memiliki pilihan lain dan Yamai sudah tidak memiliki banyak waktu.
hanya hal itu yang bisa dilakukan oleh Ayana untuk menyelamatkan Yamai.
"Yamai... hiduplah dengan baik jangan pernah menyimpan dendam kepada siapapun, biarlah hanya aku yang mati bersama dendam ku tapi kau jangan jadi seperti ku" ucap Ayana dalam hati sembari mengumpulkan exelirnya.
pada saat Ayana mengumpulkan exelir dia mengingat wajah semua orang yang dia cintai. dia mengingat tentang masa kecilnya diistana duyung, dia mengingat keponakan, kakak, kerabat, guru, dan juga panglima elang penasehatnya.
senyuman diwajah semua orang yang dicintai oleh Ayana memberikan dia kekuatan dan juga keyakinan untuk menyelamatkan Yamai dan pergi menemui mereka semua dialam keabadian.
"Ibu... kita akan berjumpa kembali... Xiao Jin, Xiao Ai, Feisa... bibi merindukan kalian" ucap Ayana dalam hati sembari menitikan air mata.
Ayana menangis bukan karena dia menyesali keputusannya tetapi karena dia ingin menguburkan semua dendamnya dan menggantinya dengan keihlasan agar dia bisa pergi dengan tenang.
Ayana tidak menyesali keputusannya untuk menyelamatkan Yamai karena dia ingin Yamai tetap hidup dan mencari ayahnya. selain itu tidaka ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa Yamai selain dengan memberinya mutiara kehidupan.
pada saat Ayana mengumpulkan exelirnya Ranum bisa merasakan keberadaan Ayana dan ingin segera menghampirinya.
__ADS_1
"putri Ayana apakah itu kau? tapi kenapa kau mengumpulkan exelir mu? apa kau dalam masalah? ataukah itu bukan diri mu putri?" ucap Ranum dalam hati.
awalnya Ranum merasa ragu jika itu adalah Ayana karena ada banyak anggota keluarga kerajaan negeri putri duyung yang memiliki exelir yang kuat.
akan tetapi Ranum memutuskan untuk tetap pergi menuju sumber kekuatan exelir itu berasal dan memastikan apakah itu Ayana atau bukan.
Ranum pun pergi ke sungai tempat Ayana mengumpulkan exelirnya. tetapi ketika dia sampai disana Ranum merasakan energi kesedihan, dan juga harapan.
"Putri Ayana apakah itu kau?" ucap Ranum sembari mendekati batu tempat Yamai tergeletak.
"siapa kau?" sahut Ayana sembari terus mengumpulkan exelirnya.
"aku Ranum adik pangeran Hanan" sahut Ranum yang yakin jika wanita itu adalah Ayana.
"aku membawa pesan dari kakakku" sahut Ranum yang berlajan mendekati Ayana.
"jangan mendekat pangeran. kini aku sedang mengumpulkan exelir didalam diri ku dan akan segera mengeluarkan mutiara kehidupanku" ucap Ayana memberikan peringatan.
"kenapa kau lakukan itu?" tanya Ranum kebingungan.
__ADS_1
"karena ayahmu sudah menghabisi seluruh anggota keluarga ku dan juga kerabat ku, aku pun merasa ingin mati dan menyusul mereka tetapi karena kebodohan ku aku justru hampir membunuh seorang anak yang selama ini begitu setia menjadi pengikutku..." sahut Ayana memberikan penjelasan.
"dan kau ingin memberikan hidup mu untuk menyelamatkan dia?!" ucap Ranum dengan kesal.
"iya" sahut Ayana.
tak beberapa lama kemudian Ayana telah berhasil mengumpulkan semua kekuatan exelirnya dan hanya tinggal mengeluarkan mutiara kehidupan miliknya.
ketika Ayana berdiri disamping Yamai dan akan segera melepaskan mutiara kehidupannya. Ranum memegang tangan Ayana dan menghalanginya.
"kakak ku mengatakan jika dia sangat mencintai mu" ucap Ranum sembari menggenggam tangan Ayana.
"jika dia mencintai ku... dia tidak akan membiarkan ayahnya membunuh semua keluarga ku" ucap Ayana dengan hati yang pilu.
"kakak ku tidak bisa menjegah pembantaian di negeri Tabib karena saat itu dia tidak tau jika ayah kami akan melakukan pembantaian itu, dan untuk pembantaian dinegeri duyung kakak ku tidak bisa mencegahnya karena mungkin saat ini dia sudah tiada" sahut Ranum dengan yang juga terluka.
"apa maksud mu?" tanya Ayana.
"kakak ku mencoba untuk meminta pertanggung jawaban ayah kami terhadap pembantaian yang dia lakukan kepada kerabat mu dinegeri angin, tetapi kakak ku justru dihukum dan aku tidak tau bagaimana keadaanya sekarang" sahut Ranum kepada Ayana.
__ADS_1
"apa hukuman yang dia terima? dan bagaimana kau bisa pergi dari istana?" tanya Ayana dengan bingung.
"aku di perintahkan kakakku untuk pergi dari istana sebelum fajar tiba, dan aku tidak tau hukuman apa yang dia terima ketika fajar tiba. tapi kakak ku bilang ada kemungkinan dia akan dicambuk dengan cambuk petir" sahut Ranum sembari melepaskan tangan Ayana.