LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
CINTA YANG SALAH DIWAKTU YANG SALAH


__ADS_3

disaat malam tiba Ayana duduk disamping Arow. Ayana memandang wajahnya dengan seksama dan kemudian tersenyum, Ayana teringat dulu disaat setelah pembataian itu terjadi Arow sangat sering menangis bahkan disaat dia mendengar suara ayam.


selain itu dulu Arow sering sekali mengalami demam. hampir setiap malam dia demam dan mengigau Ayana dengan sabar selalu duduk disampingnya dan merawatnya tetapi semua itu berakhir begitu saja saat Arow beranjak dewasa dan belajar banyak hal.


"aku sudah menyiapkan ramuan dipemandian untuknya, dia harus bangun dan berendam diair hangat yang sudah aku beri ramuan itu" ucap Nord yang tiba-tiba saja ada dibelakang Ayana.


"apa kau sudah menyiapkan pakaian mandi untuknya?" tanya Ayana sembari memeriksa suhu tubu Arow.


"sudah" sahut Nord dengan singkat.


"uruslah dia aku akan menunggu diluar..." ucap Ayana sembari beranjak dari duduknya.


"baiklah... setelah selesai aku akan memanggilamu" sahut Nord dengan lembut.


Ayana kemudian berjalan menuju taman, sesaat kemudian dia melihat bunga mawar yang indah ditaman itu. Ayana mendekati bunga itu dan teringat kepada Hanan.


Ayana merasa telah mengkhianati cintanya kepada Hanan karena dia menerima persyaratan dari Nord. tetapi dirinya juga tidak memiliki pilihan lain, karena hanya dengan cara itu dia dapat menyelamatkan Arow.


"apakah cinta kita memang cinta yang salah dan datang pada waktu yang salah juga? cinta ini terlalu menyakitkan untuk dilupakan tetapi juga tak mungkin aku pertahankan... Hanan jika kau masih hidup dan kini sedang menanti ku tolong maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga cinta ini untuk mu, tetapi Hanan aku tidak bisa egois dengan membiarkan Arow tiada demi mempertahankan cinta kita...


biarlah aku yang mengalah... sekalipun nantinya kau membenci ku pun akan aku terima, hidup ku sudah penuh dengan kesedihan dan kehilangan... aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi


cinta ini sejak awal memang salah dan mungkin memang sudah seharusnya berakhir dengan cara seperti ini" ucap Ayana dalam hati dengan menitikan air mata.

__ADS_1


sementara itu Arow yang telah bersiap dengan pakaian mandi berwarna serba putih untuk segera menjalani pengobatan juga ikut merasa sedih dan bersalah karena untuk menyelamatkan nyawanya Ayana harus rela mengorbankan harga diri dan juga cintanya.


"apa kau mencintainya?" ucap Arow bertanya kepada Nord yang sedang menuangkan madu ke dalam gelas.


"masuklah ke dalam air hangat itu, aku sudah memasukan ramuan penawar racun disana dan setelah itu minumlah madu ini" sahut Nord mengalihkan pembicaraan.


"jika kau mencintainya kenapa kau buat dia menangis?" ucap Arow yang terus mendesak Nord untuk memberikan dia jawaban.


"cepat masuklah ke air" sahut Nord sembari menghela nafas dalam-dalam.


"jika aku mati maka perjanjian itu akan batal bukan?" ucap Arow sembari tersenyum dengan hati penuh penyesalan.


"kau ingin mati?" sahut Nord balik bertanya.


"aku tidak akan membiarkan kau mati!" sahut Nord dengan sinis setelah menaruh gelas yang berisi madu ke atas meja.


"kenapa? karena kau ingin menguasai kerajaan duyung dan kerajaan tabib?! kemudian memperbudak bibi ku?!" ucap Arow dengan suara bernada tinggi.


"aku tidak serendah itu" sahut Nord dengan sinis.


"jika kau tidak serendah itu kau tidak akan mengajukan syarat semacan itu kepada bibi ku! kenapa kau tidak membunuh ku saja?! kenapa kau ingin menyakiti orang sebaik dia! apa kau tau selama ini dia sudah sangat banyak menderita?! dan sekarang kau ingin menambah penderitaanya itu?! kau memang manusia hina dan rendahan!" sahut Arow yang sudah mulai kehilangan kendali akan emosinya.


"terserah kau ingin bilang apa. tetapi aku hanya ingin meminta bayaran atas pekerjaan ku" sahut Nord yang berpura-pura tidak perduli dengan ucapan Arow.

__ADS_1


"sebejat itukah dirimu? sampai rasa malu pun kau tidak punya?! kau ingin memanfaatkan kasih sayang seorang wanita terhadap keluarganya hanya demi keuntangan mu sendiri?!" ucap Arow dengan suara setengah berteriak.


Ayana yang mendengar pembicaraan keduanya dari luar rumah pun menitikan air mata. Ayana tau jika Arow pasti tidak ingin melihatnya sedih dan terluka tetapi mereka pun tidak memiliki cara lain, selain dari menyetujui permintaan Nord demi menyelamatkan nyawa Arow.


Ayana kemudian menghapus air matanya dan berjalan ingin menemui Arow. saat dipintu masuk rumah Ayana dan Nord tidak sengaja berpapasan, keduanya pun saling beradu pandangan.


Nord adanya ketulusan dan kasih sayang dimata Ayana. tatapan mata yang begitu lembut penuh kasih yang tulus, berbinar indah menandakan ketulusan dan keikhlasan didalam setiap ucapan dan pengorbananya.


Ayana kemudian mengalihkan pandanganya dan kemudian melanjutkan langkahnya untuk menemui Arow. ketika dia sampai diruangan pemandia dia melihat Arow berusaha melukai dirinya menggunakan pedang kematian milik Ayana, melihat hal itu Ayana segera merebut pedang itu dari tangan Arow dan melemparkan pedang itu ke arah pintu.


Nord yang mendengar auara keributan dari ruang pemandian segera menghampiro keduanya dan dia melihat Ayana sedang mengangkat tanganya kemudian menampar wajah Arow dengan sangat keras. setelah itu Ayana menangis dan memeluk Arow, keduanya pun terduduk dilantai dengan Ayana yang berurai air mata.


"apa yang kau lakukan? kenapa kau bodoh sekali?" ucap Ayana sembari memeluk Arow dengan erat.


"jika aku mati maka paduka tidak perlu menikahi pria itu. aku tidak ingin ada kesedihan ataupun penderitaan lagi dikehidupan bibi" sahut Arow dengan suara yang sangat kecil.


"setelah sebelas tahun kini kau baru mau memanggil aku bibi, tapi kenapa kau ingin melakukan hal gila itu? pedang kematian bukanlah mainan tergores oleh pedang itu saja hidup mu bisa berakhir. kau kira dengan kau tiada maka aku akan terbebas dari penderitaan?! tidak!


jika kau tiada maka aku akan kehilangan orang yang sangat aku sayangi. aku tidak ingin kehilangan lagi, aku tidak ingin ada anggota keluarga ku yang tiada... aku menyayangi mu dan jika untuk menyelamatkan nyawa ku aku harus berkorban maka aku siap mengorbankan segalanya" ucap Ayana sembari menatap wajah Arow dan membantunya untuk berdiri.


"bibi..." ucap Arow yang kemudian kehilangan kesadarannya didalam pelukan Ayana.


"hiduplah untuk bibi... kau dan Xiao wen harus hidup dan saling melindungi serta saling menyayangi, aku akan melindungi kalian apapun yang terjadi" ucap Ayana sembari membelai rambut Arow.

__ADS_1


Nord kemudian menggendong tubuh Arow dan memasukanya ke dalam pemandian air hangat yang telah diberi ramuan penawar racun oleh Nord. Ayana pun kemudian meletakan setangkai bunga mawar disamping Arow dan kemudian pergi keluar meninggalkan Nord dan Arow diruangan pemandian.


__ADS_2