
ketika mentari mulai bersinar Ayana pergi untuk mencari buah-buahan untuk diberikan kepada pemuda itu. Ayana pun pergi ke dalam hutan dan mulai memetik setiap buah yang dapat dimakan yang dia temui.
ketika sedang mencari buah-buahan Ayana melihat setangkai bunga angrek dan mendekatinya. Ayana terpesona dengan keindahan bunga itu dan kemudian memetiknya.
usai mencari makanan Ayana kembali ke tepi sungai. disaat dia kembali dia melihat pemuda itu sedang duduk dan melamun, Ayana kemudian mendekati pemuda itu dan menyodorkan buah untuk dimakan.
melihat buah itu pemuda ingin memakan semuanya sekaligus namun Ayana melarangnya karena ada luka dileher dan perutnya. ditambah lagi Ayana tau jika pemuda itu sudah tidak makan selama beberapa hari, Ayana hanya tidak ingin jika keadaan pemuda itu kembali memburuk.
"apa kau mendapat kesulitan saat datang kemari?" tanya Ayana dengan penuh perhatian.
"tidak juga. kecuali aku sangat kelaparan dan aku diserang oleh orang-orang tidak dikenal itu" sahut pemuda itu dengan wajah yang masih tetap terlihat ceria.
"kau tau kenapa mereka mengerang mu?" tanya Ayana mencoba memberikan petunjuk.
"tidak" sahut pemuda itu sambil terus mengunyah.
"anak yang naif, mereka menyerang mu karena mereka tau kau bukan berasal dari kaum bangsawan" ucap Ayana memberikan penjelasan.
"tapi kenapa mereka ingin membunuh aku?" tanya pria itu dengan sangat naif.
"aku juga tidak tau karena seharusnya kau tidak dibunuh tapi dikembalikan ke dunia manusia untuk diadili oleh raja disana" sahut Ayana yang juga merasa agak keheranan.
usai pemuda itu makan Ayana mengalirkan kekuatan exelirnya untuk memulihkan tubuh pria itu. setelah Ayana selesai mengobati pria itu dan memulihkan sebagian dari luka ditubuh pria itu Ayana segera mencerburkan diri kedalam air dan memulihkan tenaga dalamnya.
pemuda itu merasa aangat keheranan karena seumur hidupnya dia belum pernah melihat seorang putri duyung. Ayana yang ketika itu sedang memulihkan kekuatannya memang dengan sengaja berubah wujud menjadi seorang putri duyung untuk mempermudah pemulihannya dan mempercepat pengembalian kekuatannya dengan dibantu oleh kekuatan alam yaitu air dan udara.
setelah Ayana keluar dari air dia segera mengerikan tubuh dan pakaiaanya dengan menggunakan kekuatan exelirnya.
kemudian Ayana duduk ditepian sungai. pemuda itupun berjalan mendekati Ayana, dan duduk disampingnya.
__ADS_1
" kau bisa mengobati sebagian besar luka ku dengan capat lalu kenapa tidak kau lakukan dari semalam?" tanya pemuda itu penasaran.
"itu karena kemarin malam aku masih ragu untuk menolong mu, selain itu kemarin malam aku juga meminumkan biji teratai ajaib dan aku takut jika aku akan membunuhmu jika mengalirkan exelir kepada mu" sahut Ayana menjelaskan dengan rinci.
"siapa nama mu?" ucap Ayana balik bertanya.
"Yamai" sahut pemuda itu dengan singkat.
"berapa usia mu?" ucap Ayana kembali bertanya.
"17 tahun" sahutnya dengan singkat.
"kalau nama mu siapa?" tanya Yamai kepada Ayana.
"tidak ada" sahut Ayana dengan singkat.
"jadi aku harus memanggil mu siapa?" ucap Yamai kembali bertanya.
"berapa usia mu? beritahu aku agar aku bisa memanggilmu dengan sopan." ucap Yamai dengan setengah berteriak kepada Ayana yang berjalan menjauhinya.
"usia ku jauh lebih tua dari pada dirimu" sahut Ayana dalam hati.
Ayana mengambil pedangnya dan berniat meninggalkan Yamai. Ayana ingin melanjutkan perjalanannya ke negeri Angin dan membalaskan dendamnya, namun Yamai terus saja mengikuti dirinya.
awalnya Ayana hanya diam dan membiarkannya. Ayana berpura-pura tidak tau dan terus melanjutkan perjalanannya sampai ketika Ayana sudah merasa sangat tidak nyaman dia pun menghentikan langkahnya.
"Yamai kenapa kau mengikuti ku?" tanya Ayana kepada Yamai yang bersembunyi dibalik semak-semak.
"aku tidak mengenal siapapun disini, aku juga tidak tau harus kemana. mau pulang juga tidak mungkin karena nenek pasti akan membunuhku jika aku pulang" ucap Yamai kepada Ayana.
__ADS_1
mendengar jawaban dari Yamai, Ayana pun mendekatinya dan bertanya kenapa dia berkata demikian.
"kenapa nenek mu membenci mu?" tanya Ayana dengan lemah lembut.
"karena kata nenek aku ini hanyalah pembawa sial. semua orang yang menyayangi ku selalu saja mati termasuk ibuku" sahut Yamai dengan wajah yang agak murung.
"kalau kau ikut dengan ku kau akan mendapatkan banyak masalah, dan mungkin kau akan terluka" ucap Ayana memperingatkan.
"kau sudah menyelawatkan nyawaku, maka aku akan membalasnya dengan mengabdikan diri ku kepada mu" sahut Yamai dengan penuh keyakinan.
"lalu bagaimana dengan tujuan mu untuk mencari ayah mu?" tanya Ayana kepada Yamai.
"aku akan terus berharap bisa menemukan ayah ku didalam perjalanan ku mengikuti mu, lagi pula aku tidak memiliki petunjuk apapun tentang ayah ku bahkan namanya saja aku tidak tau" sahut Yamai meyakinkan Ayana.
"baiklah kau boleh ikut dengan ku, tapi berjanjilah untuk setia dan jangan pernah mengkhianati ku" ucap Ayana kembali memberikan peringatan.
"aku akan menjadi pengikutmu yang setia, aku bahkan akan menyerahkan seluruh hidup ku kepada mu" sahut Yamai dengan sangat yakin.
"tapi aku harus memanggil mu siapa?" tanya Yamai dengan sangat naif.
"bibi" sahut Ayana sembari berlalu pergi.
Yamai pun mengikuti Ayana dan berjalan dibelakang Ayana. dia menceritakan lelucon dan juga semua hal yang dia lalui ketika dalam perjalanan didalam dunia para bangsawan.
Semenjak saat itu Yamai mengikuti kemana pun Ayana pergi. dia juga selalu menyiapkan makanan untuk Ayana, membawakan barang-barangnya, dan juga melakukan perintah Ayana untuk memperlajari ilmu pengobatan.
Ayana senang melihat Yamai telah sembuh sepenuhnya dan dapat belajar dengan baik. Ayana tidak pernah memberi tahu Yamai mengenai tujuannya untuk membalas dendam karena dia tidak ingin Yamai terlibat didalam masalahnya.
Ayana sering mengajak Yamai masuk ke dalam hutan dan mengajarinya mengenai berbagai macam hal mengenai obat dan racun. Ayana juga memberi tau Yamai untuk tidak menyentuh pedang kematian miliknya karena itu sangat berbahaya.
__ADS_1
Yamai terlihat sangat ceria dan selalu terlihat bahagia. Yamai sering menceritakan perjalanan hidupnya kepada Ayana dan Ayana hanya menangapinya dengan senyuman. sesekali Ayana menasehati Yamai tetapi Ayana juga tidak melarang Yamai untuk melakukan hal yang disukainya yaitu bermain seruling.