LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
NASEHAT SENJA.


__ADS_3

Ayana dan Xiao wen duduk dibawah pohon emas seribu tahun dan menikmati pemandangan senja. Xiao wen meletakan kepalanya diatas pangkuan Ayana, dan Ayana membelai rambut sang anak sembari menatap langit senja.


Ayana tersenyum saat membayangkan pernikahan Xiao wen. dia membayangkan seandainya nanti Xiao wen menikah dan punya banyak anak maka semua kesepian dan kepedihannya pasti akan terhapuskan. canda tawa dan senda gurau anak-anak pasti akan menghiasi hari-hari tuanya nanti.


Ayana tiba-tiba teringat kepada Hanan. didalam hatinya dia bertanya bagaimana keadaan Hanan saat ini apakah dia masih hidup atau mungkinkah saat ini dia sudah tiada, sepuluh tahun berlalu dan Hanan belum mengetahui tentang kabar kematian adiknya.


"Hanan apa yang harus aku katakan kepada mu, jika suatu hari nanti kita bertemu? kau pasti sangat kecewa pada ku karena aku tidak bisa menjaga Ranum... tapi Hanan disini ada anak yang juga memiliki exelir Ranum dan memiliki ikatan dengan mu... aku harap kita akan segera bertemu Hanan tolong tunggu aku sebentar lagi" ucap Ayana dalam hati sembari membelai rambut Xiao wen dipangkuanya.


"ibu... "


"hm..." sahut Ayana dengan lembut.


"apa yang sedang ibu pikirkan?" tanya Xiao wen kepada Ayana setelah melihat wajah Ayana yang terlihat tidak tenang.


"ibu hanya sedang memikirkan tentang pernikahan mu" sahut Ayana dengan menyembunyikan semua pikirannya tentang Hanan dari Xiao wen.

__ADS_1


"ibu aku masih tidak ingin menikah. aku masih 27 tahun jika aku menikah semuda ini pasti akan terjadi banyak masalah dalam hidup ku" sahut Xiao wen dengan suara yang terdengar kesal. Xiao wen kemudian duduk dihadapan Ayana dan menatap Ayana dengan tatapan matanya


"kau akan menikah saat usia mu 150 tahun, seperti para bangsawan pada umumnya tetapi akan lebih baik jika ibu memikirkan tentang hal itu mulai dari sekarang" ucap Ayana menggoda Xiao wen.


"aku tidak mau memikirkannya... aku tidak mau menikah" sahut Xiao wen sembari beranjak dari duduknya.


"ibu akan menikahkan mu dengan orang yang kau cintai Xiao wen... tetapi sebelum itu ibu harus menemui seseorang dan mungkin ibu juga harus membunuh seseorang untuk melindungi kebahagiaan mu" ucap Ayana dalam hati sembari menatap Xiao wen yang sedang membelakanginya.


"ibu... aku punya pertanyaan apa ibu mau menjawabnya dengan jujut?" ucap Xiao wen sembari menatap hampran pemandangan lautan lepas.


"apa ibu akan membunuh raja San yang telah menghabisi keluarga kita?" tanya Xiao wen kepada Ayana.


Ayana terdiam tanpa kata saat mendengar pertanyaan dari putranya. dia tidak tau ingin menjawab apa karena jika Ayana menjawab iya maka Xiao wen pasti akan ikut terlibat dalam masalah besar yang dapat membahayakan nyawanya dan Ayana tidak menginginkan hal itu, tetapi jika Ayana mengatakan tidak maka dia yakin Xiao wen pasti akan kesal dan mungkin akan berbuat nekat dengan membalaskan dendam itu seorang diri.


"ada baiknya kita tidak usah membahas hal itu sekarang" sahut Ayana mengalihkan topik pembicaraan dengan kekhawatiran dihatinya.

__ADS_1


"ibu apakah ibu akan membalaskan dendam keluarga kita atau tidak?" ucap Xiao wen mempertegas pertanyaannya. Ayana terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.


"Xiao wen... ibu tidak akan membalas dendam kepada raja San karena dendam dan peperangan hanya akan membawa kehancuran dan membuat korban berjatuhan, ibu hanya akan menegakan keadilan dan membuat raja San mempertanggung jawabkan segala perbuatan jahatnya" sahut Ayana yang kemudian memalingkan tubuhnya menghadap kearah batang pohon emas 1000 tahun.


Xiao wen terdiam setelah mendengar jawaban dari Ayana. ada banyak hal yang sangat ingin dia tanyakan kepada Ayana, tetapi dia tau jika dia tidak boleh menanyakan hal itu karena jika dia menanyakannya maka Ayana pasti akan kembali mengingat luka masa lalu yang ingin dia lupakan.


selama sepuluh tahun terakhir Ayana belajar untuk memendam rasa sakit hatinya juga dendamnya. Ayana hanya ingin membesarkan Xiao wen menjadi anak yang baik, serta membangun kembali negeri tabib dan negeri duyung.


meski begitu bukan berarti Ayana tidak ingin menghukum raja San atas segala perbuatannya. Ayana tetap ingin menghukum raja San dengan balasan yang setimpal tetapi bukan karena dendam melainkan karena keadilan.


"Xiao wen... apa kau tau kelak ketika kau menjadi raja maka kau akan dituntut untuk lebih mementingkan rakyat mu daribpada urusan pribadi mu, dan menegakan keadilan jauh lebih penting dari pada sekedar membalas dendam" ucap Ayana memberikan nasehat kepada putranya.


"ibu... aku berjanji kelak aku akan menjadi raja yang baik dan bijak" sahut Xiao wen sembari berlutut dihadapan Ayana dan memberikan penghormatan.


tiba-tiba sebuah bunga emas jatuh diatas kepala Xiao wen. Ayana pun berjalan mendekati Xiao wen dan mengambil bunga itu dari atas kepala putranya, Ayana kemudian mengalirkan exelir ke bunga emas itu dan mengubahnya menajdi sebuk emas yang berkilauan.

__ADS_1


"Xiao wen... kelak jadilah raja yang adil jangan biarkan kejahatan berkembang dinegeri ini, janganlah kau kejar kekuasaan dan kekuatan tetapi tegakanlah keadilan dan dirikanlah kesejahteraan bagi negeri ini... karena kita sebagai makhluk bagaikan bunga emas ini yang datang hanya untuk singgah dan kembali ke yang kuasa untuk keabadian. karena mereka yang datang pasti akan pergi dan mereka yang pergi pasti akan kembali" ucap Ayana kembali memberikan putranya nasehat dan kemudian meniup serbuh bunga emas itu ke udara. Kilau serbuk emas itu terlihat indah beterbangan, menghiasi senja Ayana dan Xiao wen dengan kilauanya yang mengagumkan.


__ADS_2