
"bagaimana jika aku membunuh mu sekarang juga!" ucap raja San yang memperkuat cengkraman tanganya.
"apa kau lupa? kau sudah pernah membunuh ku berulang kali! setiap kali kau membunuh orang-orang tak berdosa itu pada saat itulah kau sudah membunuh ku" sahut Hanan dengan tatapan mata yang tajam penuh keberanian.
"tidak ku sangka hari ini aku akan membunuh anak yang paling aku sayangi" ucap raja San dengan ekspresi wajahnya yang masih saja terlihat dingin.
"jika kau menyayangi ku kau tidak akan pernah membunuh mereka dan membuat ku membanci mu" sahut Hanan dengan tatapan matanya yang tajam.
raja San kemudian melepaskan cekraman tangannya dan berjalan meninggalkan Hanan. ketika sampai didepan pintu penjara langkah raja San pun terhenti, untuk sejenak dia menatap wajah Hanan dengan tatapan mata yang berbeda. saat itu untuk sejenak Hanan merasakan jika ada sedikit rasa kasih sayang yang masih tersipan didalam hati sang ayah.
"kenapa kau membunuh mereka ayah?!" ucap Hanan dalam hati.
saat itu Hanan tidak tau apakah dia harus membenci ayahnya atau tidak. dia bahkan tidak sanggup untuk membayangkan kematian sang ayah tetapi dia juga tidak bisa melupakan kematian ibu dan juga kerabatnya serta semua orang tidak berdosa yang dibantai dengan keji oleh ayahnya.
"penjaga bakar dupa beracun didalam penjara ini agar dia segera pergi menemui ibunya" ucap raja San memberikan perintah kepada para prajuritnya.
para perajurit segera mengerjakan perintah dari raja San. begitu sang raja keluar dari ruang tahanan itu para prajurit segera menyalakan dupa beracun didekat Hanan, dupa itu dinyalakan dan diletakan mengeliling tubuh Hanan.
setelah para prajurit itu selesai menyalakan dupa dan meletakannya didekat Hanan mereka segera keluar dari ruang tahanan secepat mungkin. Hanan yang melihat semua dupa beracun yang sedang mengliling tubuhnya saat itu tidak merasa takut ataupun menyesal.
dia percaya kalaupun pada akhirnya dia harus mati maka kenangannya akan tetap hidup dengan nama lain keadilan dan cinta. asap dari semua dupa beracun itu memenuhi ruang tahanan tempat Hanan berada, perlahan tapi pasti asap beracun itu mulai memenuhi paru-paru Hanan dan membuatnya kesulitan bernafas.
"Ayana... aku mencintai mu" ucap Hanan dalam hati.
__ADS_1
perlahan Hanan mulai kehilangan kesadaranya dan terlelap didalam dunia yang gelap. Hanan pun sudah tidak merasakan apapun lagi semua rasa sakit yang dia derita karena diberi minum racun setiap hari, dipasung dan disiksa dengan sejanta cambuk petir milik sang ayah perlahan menghilang dan tidak terasa lagi.
tiba-tiba Hanan terbangun disuatu tempat yang sunyi sepi namun indah bercahaya. ditempat itu Hanan menemukan tubuhnya dalam keadaan yang sehat dan baik-baik saja tanpa luka sama sekali.
"pada akhirnya aku mati dengan cara seperti ini" ucap Hanan menggerutu sembari menghela nafas panjang.
"kakak..." ucap seorang pria tampan yang tidak lain adalah Ranum dari arah belakang Hanan.
Hanan mengenali suara itu dengan sangat baik dan kemudian menoleh kearah itu. Hanan melihat Ranum dengan wajah yang berseri dan dia melihat adiknya dengan keadaan yang normal dan bisa melihat dirinya.
Hanan yang masih merasa tidak percaya berjalan kearah Ranum dan menyentuh wajahnya. Hanan kemudian menitikan air mata bukan air mata kesedihan ataupun air mata penyesalan melainkan air mata kebahagiaan.
"Ranum... kau bisa melihat ku?" ucap Hanan yang ingin meyakinkan dirinya jika Ranum sudah tidak buta lagi.
"kakak... kini aku sudah berada didunia yang lebih baik, aku tidak lagi hidup didalam kegelapan dan kesedihan, kini aku sudah bahagia dan tenang didunia ku sendiri" sahut Ranum dengan tersenyum manja.
"kenapa kau ada disini? apa ayah membunuh mu juga?!" tanya Hanan sembari melepaskan pelukannya.
"tidak kak... aku ada disini karena keinginan ku sendiri" sahut Ranum sembari tersenyum lembut.
" kenapa kau bisa ada disini?" tanya Hanan yang sangat ingin mengetahui penyebab kematian adiknya itu.
"aku bisa ada disini karena aku mengorbankan diri ku untuk menyelamatkan orang lain, yaitu putri Ayana dan putranya Xiao wen" sahut Ranum menjawab pertanyaan sang kakak.
__ADS_1
"Ayana memiliki anak? dari pria lain?" ucap Hanan terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari adiknya.
Ranum tersenyum geli melihat ekapresi sang kakak yang mengambil kesimpulan sendiri dari ucapanya tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
"kakak putri Ayana itu wanita yang baik... dia hanya mencintai mu dan bahkan hingga saat ini dia masih setia kepada mu" sahut Ranum sembari tersenyum geli.
"tapi tadi kau bilang dia itu punya anak?!" tanya Hanan yang kebingungan.
"putri Ayana mempunyai anak dari perjanjian berdarah kak" sahut Ranum sembari memegang pundak kakaknya.
"perjanjian ikatan tali darah maksudmu?" tanya Hanan yang masih tidak percaya.
"iya...." sahut Ranum dengan singkat dan menurunkan tangannya dari bahu sang kakak.
"tapi kenapa dia melakukan hal itu? dan bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Hanan yang masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"hari itu ayah membunuh semua anggota keluarga kerajaan duyung dan kabar itu sampai ke telinga putri Ayana... dia merasa putus asa dan ingin bunuh diri sayangnya hari itu dia tidak sengaja melukai pengikutnya yang masih berusia 17 tahun. karena merasa bersalah juga putus asa putri Ayana berkeinginan untuk memberikan mutiara kehidupannya kepada anak itu, tetapi aku berhasil menghalanginya dan saat itu akulah yang memberikan mutiara kehidupan ku kepada anak bernama Yamai itu untuk menyelamatkan nyawanya... setelah itu putri Ayana dan juga leluhurnya yaitu ratu Selina mengikat anak itu dengan perjanjian ikatan darah. semenjak hari itulah anak bernama Yamai itu menjadi anak putri Ayana dan diberi nama Xiao wen" ucap Ranum menjelaskan segalanya kepada kakaknya.
mendengar hal itu Hanan merasa tidak percaya dan mengira jika Ranum hanya mengarang cerita. Ranum kemudian meyakinkan Hanan dengan menceritakan semua kejadiannya dengan rinci, mulai dari saat dia mencari Ayana hingga dia berubah menjadi butiran cahaya Ranum menceritakannya dengan rinci kepada Hanan.
disaat itu tangis Hanan pecah dia tidak mengerti harus bagaimana lagi. cintanya, kehidupannya, adiknya, dan orang tuanya serta seluruh kerabatnya telah kerabatnya telah direnggut darinya baginya sudah tidak ada lagi yang tersisa untuknya saat ini.
"kakak kau tidak boleh mati... karena kau harus hidup dan melindungi putri Ayana" ucap Ranum dengan menggenggam tangan kakaknya.
__ADS_1
"untuk apa? apakah dia masih mencintai aku? aku adalah anak dari orang yang sudah membunuh semua anggota keluarganya dan penyebab dia hampir kehilangan anaknya" sahut Hanan yang sudah tidak bersemangat lagi.
"kakak aku sudah mengorbankan diri ku untuk membuat putri Ayana tetap hidup dan itu aku lakuakn demi diri mu... aku mohon jangan buat pengorbanan ku sia-sia, selain itu didalam tubuh Xiao wen ada exelir ku itu artinya dia memiliki ikatan dengan mu juga... walau bukan ikatan dekat tetapi dia adalah kebahagiaan yang dimiliki oleh putri Ayana saat ini kak... aku mohon kembalilah dan hiduplah bahagia bersama mereka jika kau melakukannya maka akupun akan bahagia melihat mu dari sini kak" ucap Ranuh yang kemudian melepaskan tangan Hanan dengan lembut dan perlahan.