LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
HARGA SEORANG ANAK


__ADS_3

"Xiao wen... ada kalanya kita harus melupakan sesuatu dan memulai sesuatu yang baru, jangan pernah membahas kenangan yang ingin dilupakan karena itu tidaklah baik" sahut Ayana kepada Xiao wen dengan menatap mata sang anak yang masih terlihat menyimpan sebuah beban dihatinya.


Ayana kemudian berjalan menuju hutan pohon emas dan Xiao wen pun mengikutinya. diperjalanan Ayana meminta Xiao wen untuk tetap berada didekatnya agar dia dapat mendengarkan semua yang dikatakan oleh Ayana dengan baik.


"ibu kenapa kita pergi ke hutan?" tanya Xiao wen kepada Ayana. sebelum ini Ayana memang tidak pernah mengajak Xiao wen pergi ke hutan emas bersama dengannya tetapi agaknya hari itu terasa sedikit berbeda.


Ayana tidak menjawab pertanyaan dari Xiao wen dan terus berjalan. ketika mereka sedang berjalan Ayana melihat sarang burung pipit diatas sebuah pohon kecil, Ayana kemudian berhenti berjalan dan memeperhatikannya dengan seksama.


Ayana melihat ada seekor anak burung bibit kecil yang sedang belajar untuk terbang namun selalu gagal. tetapi sang induk mengajarinya dengan penuh kasih sayang berharap sang anak dapat mandiri dan bertahan dalam alunan kehidupan yang amat pahit didunia yang kejam ini.


"Xiao wen" ucap Ayana dengan lembut memanggil putranya dengan pandangannya masih tertuju kepada sarang burung pipit itu.


Xiao wen yang mendengar panggilan dari sang ibu kemudian bergegas untuk mendekatinya.


"iya bu" sahut Xiao wen dengan penuh hormat.

__ADS_1


"lihatlah burung kecil itu... induknya berusaha untuk membuat dia bisa terbang dan hidup dengan bebas tetapi anak burung itu tetap ragu untuk melangkah" ucap Ayana sembari menunjukan sarang burung pipit itu kepada Xiao wen.


mendengar ucapan sang ibu Xiao wen tau jika sang ibu sudah bisa menebak kecemasan yang kini sedang dia rasakan.


"Xiao wen... setiap orang tua didunia ini menginginkan agar anak mereka hidup dengan baik dan tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari pada dirinya sendiri, orang tua itu pasti pernah melakukan kesalahan tetapi dari kesalahan itu kami belajar dan sadar betapa berharganya anak-anak kami" ucap Ayana menyampaikan isi hatinya sembari masih menatap sarang burung pipit itu dengan mata berbinar-binar.


Xiao wen yang mendengar ucapan Ayana merasa tersentak dan ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Ayana. tetapi Xiao wen merasa takut jika nantinya Ayana akan marah dan justru kecewa kepada dirinya. Xiao wen pun tetap diam dan tidak mengatakan apapun meski didalam hatinya dia ingin sekali mengatakan segalanya kepada Ayana.


mereka pun melanjutkan perjalanan dan ketika mereka sampai digerbang menuju hutan emas Xiao wen merasakan ada sesuatu yang salah. dia merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia seperti mengingat sesuatu yang berhubungan dengan tempat itu tetapi dia tidak tau apa itu.


saat mereka sudah masuk ke dalam hutan Ayana mengajak Xiao wen ke tempat dimana dulu dia sering menari untuk meluapkan kesedihannya.


"ibu tau Xiao wen bukankah ada banyak hal yang ingin kau ketahui dan ada banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan pada ibu?... bukan maksud hati ibu ingin membuatmu sedih dengan tidak menceritakan masa lalu ibu nak, tetapi hidup tidak selalu mengenai masa lalu tetapi hidup itu selalu mengenai masa depan" ucap Ayana sembari menatap kearah sang surya dengan cahaya keemasannya yang menandakan jika sang mentari akan pergi untuk nanti akan kembali lagi.


mendengar ucapa sang ibu Xiao wen merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri. sebenarnya selama ini Xiao wen memata-matai Ayana dan menyelidiki semua tentang masa lalu mereka yang telah hilang dari ingatannya, Xiao wen juga sering mencari informasi dengan cara bertanya secara langsung kepada para penduduk negeri duyung dan negeri tabib bahkan dia bertanya kepada semua orang yang tua yang ada didua kerajaan itu, Xiao wen juga sering membuntuti Ayana kemana pun dia pergi demi untuk mencari tau kebenaran tentang masa lalu mereka.

__ADS_1


Xiao wen sangat ingin tau kenapa Ayana selalu terlihat terbebani dan terkadang murung. Xiao wen khawatir kepada Ayana yang selalu menyibukan diri dengan urusan kerajaan, berlatih kekuatan exelir dan pedang, serta mengurus Xiao wen. Xiao wen merasa jika semua hal yang dilakukan oleh Ayana hanyalah sebagai tameng untuk menutupi masalah besar yang selama ini selalu dia hadapi seorang diri.


"Xiao wen... ibu tidak marah pada mu karena ibu tau jika semua itu kau lakukan karena kau khawatir pada ibu, tetapi kau juga harus tau jika disaat ibu merahasiakan sesuatu dari mu itu bukan berarti ibu tidak sayang pada mu nak tetapi ibu melakukannya justru karwna ibu sangat menyayangi diri mu" ucap Ayana dengan menatap kearah mentari yang mulai kehilangan sinarnya.


"apa yang sebenarnya ibu rahasiakan?" tanya Xiao wen dengan hati yang dipenuhi oleh rasa bersalah.


"ada kalanya lebih baik semua rahasia itu tersimpan untuk selamanya hingga ibu tiada..." sahut Ayana sembari menahan air mata.


"kenapa ibu merahasiakannya?" tanya Xiao wen sembari berjalan mendekati Ayana.


"tidak satupun orang tua didunia ini yang ingin melibatkan anaknya didalam dukanya" sahut Ayana dengan hati yang berusaha untuk menahan semua beban itu.


"aku tau ibu merasa terbebani, aku tau ibu sedih, dan terluka... bisakah aku meringankan beban ibu itu?"


"jika kau ingin mengurangi beban hati ibu... maka ibu minta kepada mu jangan lagi menanyakan ataupun mencari tau mengenai masa lalu yang pahit itu... karena mengingatnya membuat ibu merasa sesak dan ingin mati" sahut Ayana sembari menitikan air mata.

__ADS_1


melihat hal itu Xiao wen segera memeluk Ayana dan meminta maaf. dia merasa sangat bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi semua tindakannya itu, dia tidak ingin Ayana merasa semakin terluka hanya karena ke egoisannya.


"ditempat ini dulu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang memberitahu ku betapa menyakitkannya kehilangan mereka yang sangat dicintai... dan kini aku hanya memiliki Xiao wen didalam hidup ku, dan aku tidak ingin siapapun merenggutnya dari ku. dia adalah anak ku tidak ada satupun hal didunia ini yang bisa menggantikannya ataupun senilai untuk ditukar dengannya" ucap Ayana dalam hati sembari membalas pelukan sang anak dengan sentuhan hangat penuh kasih dan cinta seorang ibu


__ADS_2