LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
DIANTARA DUKA DAN KENYATAAN.


__ADS_3

Xiao Jin membawa Ayana kedepan jenazah saudara kembarnya. dengan berlinang air mata Ayana mendekati jenazah saudara seperguruannya itu, Ayana meletakan kepala sahabatnya itu dipangkuannya dan menangis sekuat yang dia bisa.


"apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ayana sembari menghapus air matanya.


"perang saudara antara negeri Tabib dan negeri Angin, sudah sangat lama dihindari namun akhirnya justru berubah menjadi perang dingin aku dan adik ku Xiao Ai adalah tombak utama negeri kami dan kematian kami memang sangat diinginkan" sahut Xiao jin dengan hati pilu.


"apa penyebab perang dingin ini? kenapa Xiao Ai sampai menjadi korban?" ucap Ayana kembali bertanya dengan hati penuh amarah.


"aku sendiri juga tidak tau... yang pasti raja San sangat menginginkan kematian selueruh keturunan kerajaan Tabib" sahut Xiao Jin sembari menatap Ayana yang masih menangis.


"mengapa mereka ingin meleyapkan kerabatnya sendiri? dan kenapa harus Xiao ai?!" ucap Ayana dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Xiao ai... kenapa kau harus pergi dengan cara seperti ini? seumur hidup ku semenjak aku mengenal mu aku hanya ingin mendengar suara mu sekali saja..., tapi kenapa kau tidak memberikan aku kesempatan itu?!" Ayana berbicara sembari menggerakan tubuh saudara seperguruan mencoba dan membangukannya.


"Ayana. sebelum Xiao ai meninggal dia merangkai gelang itu untuk mu" ucap Xiao jin sembari memegang gelang yang ada ditangan kanan Ayana.


"anak bodoh kenapa kau tidak melindunginya! bukankah kalian adalah bintang kembar?!" ucap Ayana yang masih terbakar emosi.

__ADS_1


Xiao jin hanya dapat terdiam tanpa kata dan diapun menangis.


"Andaikan aku bisa menukar nyawa ku dengan nyawa adikku itupun pasti sudah aku lakukan, tapi Xiao ai dibunuh dengan cara yang licik... dia diracuni menggunakan jarum ini" sahut Xiao jin sembari menunjukan sebuah jarum beracun kepada Ayana.


seketika Ayana menutup matanya dan meredakan emosinya. meskipun hatinya amat sangat terluka dengan kepergian sahabatnya sekaligus adik seperguruannya namun dia tetap berusaha untuk tenang, meakipun air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.


"Ayana. bisakah aku meminta sesuatu kepada mu?" ucap Xiao jin kepada Ayana.


"apa itu?" sahut Ayana sembari menutup matanya.


Ayana hanya bisa menerima perminta sahabatnya itu dan menganggukan kepalanya. dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Xiao jin saat itu.


Ayana menutup matanya dan menundukan kepalanya menatap jenazah Xiao ai dan kemudian Xiao jin mengambil pedang miliki Ayana dan menusukkannya ke dadanya. Xiao jin tewas seketika ditempat itu, dihadapan Ayana dan juga jenazah adiknya.


Ayana menangis dan hanya bisa menangis menyaksikan kedua sahabatnya tewas didepan matanya sendiri, hatinya dipenuhi oleh dendam, amarah, kebencian, dan kekecewaan.


Ayana pun meletakan jenazah Xiao ai dan mendekati jenazah Xiao jin. Ayana mencabut pedang yang tertancap didada Xiao jin dan mengusap darah yang membasahi pedang itu, air matanya tidak hentinya mengalir bersamaan dengan hal itu ratu Isabela datang menemui Ayana.

__ADS_1


sang ratu yang baru saja datang dan melihat kenazah kedua sahabat Ayana itupun seketika merasa sangat terkejut. sang ratu segera menghapiri jenazah itu satu persatu dan menangisi kematian keduanya, Ayana merasa sangat kebingungan dan menanyakan perihal yang dilakukan oleh ibundanya itu.


"ibu mengenal mereka?" tanya Ayana dengan suara yang sangat lirih.


"mereka adalah cucu ibu... keponakan mu. mereka adalah anak dari saudari mu yang bernama Naira" sahut ratu Isabela sembari terisak tangis.


seketika Ayana menjatuhkan pedangnya dan teduduk lemas dihadapan kenazah Xiao jin. dia tidak menyangka jika saudara seperguruan yang selama ini sangat dia sayangi dan telah ratusan tahun terpisah darinya ternyata adalah keponakannya sendiri.


Naira adalah putri ke 2 kerajaan putri duyung yang menikah dengan raja dari kerajaan negeri tabib. pernikahannya sempat tidak direstui oleh ratu kerajaan negeri putri duyung karena dia adalah calon putri mahkota, namun dengan tekat Naira yang kuat dan cintanya yang dalam kepada raja negeri Tabib pernikahan merekapun direstui namun dirahasiakan bahkan dari Ayana sendiri.


Ayana merasa hari itu adalah hari yang paling menyedihkan baginya. didepan matanya sendiri dia menyaksikan kematian anggota keluarganya, kedua jenazah keponakan Ayana dimakamkan dikerajaan negeri tabib.


disana Ayana bertemu dengan kakak perempuannya juga kakak iparnya. saat pemakaman tidak ada air mata yang menetes dari kedua mata indah Ayana, dia hanya berdiam diri seperti patung yang tak bernyawa. tatapan matanya kosong, hatinya hampa, dan dia bertingkah seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya.


setelah pemakaman Ayana masih menetap dinegeri Tabib hingga suatu malam ketika semua orang sedang tertidur dengan lelap. Ayana berjalan ke kamar kepokan bungsunya dia menatap wajah keponakanya yang masih berusia 18 tahun itu dengan seksama. dia menangis dikamar sang keponakan dan membelai rambut keponakannya.


keesokan harinya Ayana berpamitan kepada kerabatnya dinegeri Tabib untuk pulang ke negeri putri duyung dan membawa serta keponakannya yaitu pangeran bungsu negeri tabib. Ayana mendapatkan izin dari seluruh kerabatnya dan membawa sang keponakan pulang ke negeri putri duyung dengan hati yang masih sangat berduka.

__ADS_1


__ADS_2