LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
PERTEMUAN


__ADS_3

"Ayana... berbaliklah dan kau akan melihat ku" ucap suara misterius itu kepada Ayana.


ketika Ayana membalikan tubuhnya dia melihat seorang wanita cantik berambut perak dengan mata biru yang indah. wanita itu mengenakan pakaian kerajaan, dan mengenakan mahkota kebesaran layaknya seorang ratu.


Ayana terpana dengan kecantikan wanita itu. dia terdiam dan memperhatikan wanita itu dengan seksama, wanita misterius itupun tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Ayana.


Ayana menggapai tangan wanita itu. tangannya terasa sedingin salju tapi selembut kelopak bunga lotus.


"Ayana... aku adalah Selina dan aku adalah pendiri negeri putri duyung" ucap wanita cantik itu sembari menggenggam tangan Ayana.


Ayana terdiam dan hanya menatap wanita cantik itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ayana aku sudah melihat segalanya... aku melihat keturunan ku dihabisi dan dimakamkan ditanah ini, dulu aku membangun negeri duyung sebagai lambang perdamaian tetapi yang terjadi jauh dari harapan ku. peperangan, pengorbanan, dan pembantaian membuat aku harus menyaksikan kematian dan pemakaman seluruh keturunan ku" ucap ratu Selina dengan wajah sendu.


"lalu kenapa kau tidak melindungi mereka semua?" tanya Ayana dengan suara yang lirih.


"putri ku... alam kita sudah berbeda tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk mereka, aku menyaksikan bagaimana semua keturunanku dibunuh dengan kejam tapi aku hanya bisa diam dan menangis" sahut ratu Selina sembari menundukan kepalanya.


"kini hanya aku keturunan negeri duyung yang tersisa eyang" ucap Ayana sembari menitikan air mata.


"karena itulah aku ingin kau tetap hidup dan membangun kembali negeri kita" sahut ratu Selina dengan mata berbinar indah.


"tapi kini negeri kita sudah dikuasai oleh raja kejam itu" ucap Ayana.


"aku selalu mengajarkan kepada keturunan ku, ambilah apa yang menjadi hak mu dan tinggalkan apa yang bukan milik mu" sahut ratu Selina sembari membelai rambut Ayana.


Ayana kemudian berlutu dihadapan ratu Sekina memberikan penghormatan. melihat hal itu ratu Selina menutup matanya dan ikut berlutut dihadapan Ayana.


ratu Selina kemudian meminta Ayana melihat ke sekililingnya. saat Ayana melihat ke sekelilingnya dia melihat semua orang yang dia sayangi.


dia melihat semuanya. ratu Isabela, ketiga kakak perempuanya, putri Naira, suami putri Naira, Xiao Jin, Xiao ai dan seluruh anggota keluarga negeri tabib dan negeri duyung ya g telah terbunuh berdiri mengenakan pakaian kerajaan yang indah dan tersenyum kepada Ayana. dari arah yang berlawanan Ayana melihat panglima elang tersenyum kepadanya.

__ADS_1


Ayana berdiri dan berlari untuk memeluk ibundanya namun dia gagal karena mereka semua seperti cahaya yang tak dapat disentuh namun dapat dilihat.


"ibu" ucap Ayana dengan lirih.


"Ayana putri kecil ku... maafkan ibu karena pergi dengan cara seperti ini, Ayana hiduplah dengan baik dan kembalikan kejayaan negeri duyung anakku... ingatlah satu hal Ayana. ibu sangat menyayangi mu dan ibu akan selalu ada didalam hati mu" ucap ratu Isabela dengan berurai air mata.


Ayana kemudian menatap Naira. kakak perempuan yang terpisah darinya semenjak Ayana masih sangat kecil.


"adikku maaf kakak tidak menyambutmu dengan senyuman ketika kita bertemu waktu itu, dan maaf karena kakak meninggalkan mu tanpa berpamitan lebih dulu... Ayana kini kau sudah besar dan sangat cantik, dulu aku selalu berangan jika aku yang akan menghias rambut mu disaat kau menikah tetapi ternyata aku tidak bisa melakukan itu... Ayana aku menyayangi mu dan akan selalu hidup didalam hatimu" ucap Naira sembari tersenyum dan menitikan air mata.


"bibi" ucap Xiao jin dan Xiao ai memanggil Ayana dengan serentak.


Ayana segera memalingkan wajahnya dan melihat kedua keponakannya berdiri dan tersenyum. Ayana berjalan dan mendekati keduanya tersenyum bahagia.


"Xiao ai... Xiao jin" ucap Ayana dengan lirih.


"bibi... selama ini kami tidak pernah memberikan hormat kami kepada bibi, dan selama ini kami begitu tidak sopan kepada bibi" ucap Xiao jin sembari memberikan salam penghormatan kepada Ayana.


"bibi... bukankah selama ini bibi sangat ingin mendengar suara ku? kini bibi bisa mendengarnya meskipun perjumpaan ini tidak lama tapi setidaknya ini sudah cukup bi" ucap Xiao ai kepada Ayana.


"Xiao ai ku bisa bicara?... apa ini sungguh Xiao ai ku?" ucap Ayana sembari berusaha menyentuh wajah keponakannya itu.


"Xiao ai... suara mu sangat indah, begitu indah... maafkan bibi... maafkan bibi karena tidak bisa menjaga kalian bertiga" sambung Ayana dengan terisak tangis.


"bibi... aku tau selain dari kami ada orang lain yang ingin bibi lihat" ucap Xiao ai sembari menunjuk kearah belakang Ayana.


saat Ayana membalikkan tubuhnya dia melihat Ranum terseyum kepadanya. tetapi Ranum terlihat sangat berbeda, dia tidak lagi menggunakan penutup mata karena kini matanya sempurna dan tidak cacat lagi. Ayana mencoba untuk berjalan ke arah Ranum namun kakinya lemas karena terhanyut dalam kesedihan dan penyesalan akan kesalahan yang tidak dia lakukan.


Ayana terus berusaha mendekati Ranum tetapi dia tak sengaja menginjak gaunnya dan terjatuh. Ranum mendekati Ayana dan berlutut dihadapan Ayana memberikan salam hormat.


"kakak... kau sangat cantik" ucap Ranum dan menatap Ayana dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ranum... kau bisa melihat?" ucap Ayana dengan lirih.


"aku bisa melihat kak... dan aku juga bisa melihat betapa cantiknya dirimu, kini aku mengerti kenapa kakak ku sangat mencintai diri mu karena selain kau cantik kau juga memiliki hati yang bersih" sahut Ranum dengan menahan air mata.


"andaikan kakak mu melihat ini dia pasti akan sangat bahagia... dia pasti sangat ingin kau bisa melihatnya" ucap Ayana dengan menitikan air mata.


"dia akan bisa melihat ku dari anak itu kak... karena exelir ku ada didalam dirinya dan denga kata lain Yamai juga adalah aku" sahut Ranum sembari tersenyum.


Ayana kemudian berdiri dan memberikan hormat kepada panglima elang.


"Ayana. tidak disangka kita bertemu xengan cara seperti ini, kini aku tidak akan bisa melihat mu menari lagi" ucap panglima elang kepada Ayana sembari tertawa lepas.


Ayana menundukan kepalanya dan menangis dia teringat pada saat pertama kali dia bertemu dengan panglima elang pada saat itu dia sedang menari dihutan emas didekat palung mariana.


"Ayana hiduplah dengan baik jadilah ratu yang bijaksana dan jagalah perdamaian, jangan terus bersedih karena kepergian kami karena kami tidak akan pernah bisa pergi dengan tenang jika kau terus menangisi kami.... Ayana lihat kami, kami disini tidak akan pernah mati ataupun meninggalkan mu karena kami akan terua hidup didalam kengan dan juga didalam hati mu. jadikan kami sebagai kekuatan mu bukan kelemahan mu" ucap panglima elang memberikam nasehat kepada Ayana.


perlahan semua orang yang dicintai oleh Ayana berubah menjadi butiran cahaya dan kemudian mengjilang diangkasa. yang tersisa hanyalah ratu Selena dan Ayana.


Ayana menutup matanya dan tersenyum dia senang karena dia bisa melihat kembali semua orang yang dia cintai. dan dia juga dapat mendengar suara Xiao ai serta melihat Ranum dalam diri yang sempurnya.


Ayana merasa lega karena dia tau jika semua orang yang dia cintai kini telah tenang dan bahagia dialam keabadian menantikan dirinya disana.


"Ayana..." ucap ratu Selina sembari memegang pundak Ayana.


"Ayana diluar sana ada seorang anak yang menunggu mu, temui dia dan sempurnakanlah dia untuk menjadi kaum bangsawan" ucap ratu Selina kepada Ayana.


"bagaimana caranya?" tanya Ayana dengan lirih.


ratu selina kemudian melukai tangan Ayana dan membuat darah Ayana menetes ke atas sebuah mutiara air mata milik Ayana sendiri. kemudian terciptalah mutiara berwarna merah cerah dan bercahaya.


"berikan mutiara ini kepadanya, dan setelah itu tandai dia seperti kau menandai Ranum... maka pada saat itu dia telah menjadi putra mu pewaris mu yang sah" ucap ratu Selina memberitau Ayana.

__ADS_1


__ADS_2