LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG

LEGENDA CINTA PUTRI DUYUNG
MENGENANG HASIL SEBUAH PEPERANGAN


__ADS_3

"jangan takut... aku tidak bermaksud jahat" ucap pria yang tak dikenal itu kepada Ayana.


"jika tak ada niat jahat lalu kenapa kau mengintip?" sahut Ayana dengan tegas.


"itu karena aku tidak pernah melihat tarian seindah itu" sahut pria itu dengan sopan.


mendengar jawaban pria itu Ayana kemudian menarik kembali kekuatannya dan menatap pria itu dengan seksama.


"apakah kau seorang panglima?" tanya Ayana.


"benar tuan putri... aku adalah panglima elang" sahutnya sembari memberi hormat.


"itu artinya kau adalah penjaga langit negeri putri duyung" ucap Ayana memastikan.


"itu benar..." sahutnya dengan hormat.


"panglima elang... apa kau bisa melihat segalanya dari langit?" ucap Ayana.


"aku bisa melihat semuanya dari langit tapi aku tidak bisa melihat isi hati orang lain" sahut panglima elang menanggapi.


"kau begitu cerdas panglima" ucap Ayana memberi pujian.


"putri meskipun kau bisa mengetahui sedalam apa palung mariana kau belum bisa mengetahui sedalam apa seseorang mencintaimu" sahut panglima elang menanggapi.


ketika Ayana menatap panglima elang yang tengah membelakanginya. dia merasa jika pengeran elang sudah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, pada awalnya dia tidak ingin menanyakan hal itu kepada panglima elang secara langsung namun Ayana merubah niatnya dan bertekat untuk bertanya.


"panglima elang... apa kau tau apa yang sedang terjadi kepada ku?" tanya Ayana memastikan.


"aku tau dari cara mu menari putri... tarian mu itu menandakan kesedihan, cinta, dan harapan" sahut panglima elang tanpa bertele-tele.

__ADS_1


"kau pernah melihat tarian itu?" tanya Ayana semakin penasaran.


"aku tidak pernah melihat tarian itu, tapi aku pernah melihat seorang putri duyung yang menari dengan perasaan yang sama dengan mu saat ini" sahut panglima elang mejelaskan.


Ayana pun tertegun dia tahu benar bahwa tidak ada satupun rakyat putri duyung yang berani menari dihutan itu selain dirinya sebab hutan itu merupakan area perbatasan negeri putri duyung dan negeri peri. dan mereka sangat menjaga ketenangan serta kedamaian hutan emas itu.


"kau tidak perlu merasa heran putri... karena duyung yang pernah aku lihat menari dihutan saat itu telah tiada." sambung panglima elang berucap.


"apa maksudmu telah tiada?" tanya Ayana penasaran.


"dia telah tewas dalam peperangan antara negeri putri duyung dan negeri peri, dia tewas sebagai seorang pahlawan dan wanita terhormat" sahut sang panglima.


"apakah kau mencintainya?" ucap Ayana kembali menanggapi.


"ya begitulah..." sahut panglima elang sembari menghela nafas dalam-dalam.


"aku pun demikian putri. aku juga sangat membenci peperangan sebab karena sebuah peranglah aku kehilangan orang yang sangat aku cintai" ucap panglima elang menanggapi.


"apakah peperangan akan kembali terjadi panglima?" tanya Ayana sembari memandang lautan lepas.


"itu mungkin saja akan terjadi putri" sahut panglima elang dengan perasaan yang tak menentu.


"mengapa kau berpikir demikian?" ucap Ayana kembali bertanya.


"karena perjalanan hidup ini adalah seperti sebuah permainan, dan didalam sebuah permainan harus ada yang kalah dan harus ada yang mengalah... kita tidak tau apa yang akan terjadi dimasa mendatang namun kita tau jika kita hidup berdasarkan kenyataan" sahut panglima elang menanggapi.


"apakah itu artinya negeri kita tidak akan pernah damai?" ucap Ayana kembali mengajukan pertanyaan.


"sebuah perdamaian adalah tergantung kepada pemimpinnya putri. disaat pemimpin sebuah negara mengarahkan negerinya kepada kehancuran maka negeri itu selamanya tidak akan pernah damai" sahut panglima elang sembari menatap wajah sang putri.

__ADS_1


mendengar ucapan sang panglima Ayana menyadari jika dirinya adalah seorang calon pemimpin. dia adalah harapan rakyatnya dan dia adalah orang yang harus membawa negeri putri duyung menuju kesejahteraan dan perdamaian.


sebagai seorang putri mahkota dia haruslah bersikap bijaksana dan dewasa serta menghilangkan sikap kekanak-kanakannya, dia pun menyadari jika dirinya memiliki sebuah tanggung jawab besar atas kemajuan bangsa putri duyung.


disaat Ayana sedang merenungi apa yang telah terjadi tiba-tiba...


"kau disini rupanya?!" ucap Hanan yang tiba-tiba saja datang menemui Ayana.


"ada perlu apa kau mengikuti hingga kemari?" ucap Ayana kembali bertanya.


"semua orang diistana sedang mencari diri mu, mereka semua sangat mengkhawatirkan diri mu" sahut Hanan dengan tegas.


"aku baik-baik saja dan akan segera kembali ke istana, kau pergilah lebih dulu" sahut Ayana tanpa membalikan tubunya dan tanpa menatap wajah Hanan.


"kembalilah ke istana bersama ku" ucap Hanan menawarkan diri.


"tidaklah pantas seorang putri mahkota kembali ke istananya bersama dengan seorang pangeran dari kerjaan lain" sahut Ayana menegaskan.


"aku mengajak mu sebagai seorang teman dan juga tanpa mengurangi rasa hormat ku kepada mu sebagai seorang putri mahkota" ucap Hanan mencoba membuat Ayana mengerti.


"pergilah pangeran. aku pun akan segera kembali ke istana" sahut Ayana sembari menatap panglima elang.


"panglima aku sangat menghormati mu, aku harap kita akan bertemu lagi dilain waktu" ucap Ayana sembari memberikan salam hormatnya.


panglima elang membalas salam sang putri dan kemudian pergi terbang ke angkasa. putri Ayana pun menyiapkan dirinya untuk melompat dan berenang kembali ke istananya, namun Hanan menghalangi langkahnya.


"Ayana aku ingin meminta maaf mengenai masalah tadi" ucap Hanan kepada Ayana.


"tidak masalah pangeran aku mengerti perasaan mu. dan mungkin memang akan lebih baik jika kita melupakan perasaan cinta kita, karena mulai saat ini akupun harus mulai mementingkan masalah kerajaan ku juga rakyat ku" sahut Ayana yang kemudian meninggalkan Hanan dan kembali ke istana negeri putri duyung.

__ADS_1


__ADS_2