
Setelah panglima elang pergi Ayana mengikatkan pedang kematian itu dipunggungnya dan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga perdamaian negerinya bagaimanapum caranya dan apapun resikonya.
ketika siang hari telah tiba Ayana pergi mengelilingi kerajaanya dan melihat semua orang begitu bahagia dan saling menyayangi. Ayana merasa sangat bahagia melihat kehidupan rakyatnya yang penuh dengan kebahagiaan dan sejahtera.
Ayana kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah seorang tabib tua diujung desa dipelosok negerinya. sesampainya disana Ayana memperkenalkan dirinya secara formal.
tabib wanita yang telah tua renta itu tidak merasa heran dengan kedatangan sang putri mahkota namun dia pun menyambutnya dengan hormat dengan sebagaimana mestinya.
"ada keperluan tuan putri datang kemari?" tanya tabib tua itu penasaran.
"nenek apakah apakah ada obat untuk bisa menyembuhkan kebutaan seseorang?" ucap Ayana mengajukan pertanyaan.
"itu tergantung pada apa penyebab kebutaanya tuan putri" sahut sang tabib menerangkan.
"bagaimana jika orang itu buta sejak lahir, dan ditambah lagi karena ada luka dalam dimatanya yang tidak pernah sembuh sehingga ketika dia menangis maka air matanya akan berubah menjadi darah" ucap Ayana menjelaskan.
"tuan putri jika memang ada yang sakit dan ingin diobati akan lebih baik jika saya memeriksanya saja untuk memastikan" sahut tabib tua itu menyarankan.
seketika Ayana menundukan kepalanya dan menggelangkanya. tak lama setelah itu Ayana pun berpamitan dan kembali ke istana, sesampainya di istana Ayana memghadap sang ibunda ratu Isabela untuk melaporkan hasil perjalanannya.
setelah itu Ayana kembali ke dalam kamarnya dan duduk didepan sebuah cermin. Ayana menatap wajahnya dicermin itu dan ia menghela nafas dalam, beberapa saat kemudian Ayana menyelempangkan pedangnya dan pergi ke hutan emas.
Ayana berharap dapat menemui panglima elang dihutan itu namun ketika sampai disana dia tidak menemukan panglima elang akan tetapi dia justru melihat seseorang yang tidak terduga.
"apa yang membuatnya datang kesini?" ucap Ayana dalam hati.
Ayana pun berdiri menghadap lautan lautan lepas. jarak Ayana dan pria tak terduga itu cukup jauh namun ketika pria itu melihat Ayana dia pun mendekatinya dan mulai berbicara kepada Ayana.
"salam putri" ucap pria itu dengan sopan.
"salam" sahut Ayana yang bersikap acuh tak acuh.
"apa yang membawa putri datang kemari?" tanya pria itu penasaran.
__ADS_1
"aku datang untuk menemui panglima elang, dan kau sendiri apa yang kau lakukan disini?" sahut Ayana balik bertanya.
"aku datang untuk melihat lautan lepas dan menikmati kesejukan hutan ini" ucap pria itu memberikan jawaban.
"pangeran ketiga negeri tabib Feisa, mengapa anda pergi begitu jauh jika hanya untuk menikmati indahnya lautan? bukankah negeri tabib sendiri memiliki pemandangan laut yang indah?" sahut Ayana mempertegas argumennya.
"ternyata kabar burung itu memang benar, jika putri mahkota negeri duyung memang sangatlah cerdas... anda memiliki kemampuan untuk membaca pikiran dan juga gerakan orang lain" ucap pria itu memberikan pujian.
"kekuatan ku itu hanya aku gunakan disaat menghadapi lawan, tapi yang baru saja aku lakukan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kekuatan ku itu" sahut Ayana memberikan alasan.
"katakanlah apa tunjuan mu sebenarnya datang kemari?" ucap Ayana kembali bertanya.
"aku datang untuk mewakili pangeran mahkota negeri Tabib, untuk menyampaikan sebuah pesan" sahut sang pangeran sembari menatap Ayana.
"pesan apa itu?" tanya Ayana penasaran.
"pangeran mahkota ingin bertemu dengan anda... dia menunggu anda dibukit sanai" sahut pangeran muda itu kepada Ayana.
"dia hanya meminta aku menyapaikan pesan ini kepada mu" sahut sang pangeran sembari menyodorkan sebuah kotak kayu kecil.
Ayana pun membuka kotak itu dan dia melihat lukisan dirinya beserta sebuah gelang mutira. Ayana memandang gelang dan kemudian dia membuka lukisannya yang bertuliskan kalimat Xiao Ai.
Ayana menutup matanya dan menitikan air mata. kenangan akan kepahitan masa lalunya kini kembali lagi, Ayana pun terdiam sejenak air matanya yang menetes kemudian berubah menjadi butiran mutiara yang kemudian dihancurkan oleh Ayana sendiri menggunakan kekuatan exelirnya.
"katakan pada pangeran Sehan bahwa aku tidak akan datang" sahut Ayana sembari memelingkan wajahnya.
"apakah anda yakin jika anda menolak undangan kakakku?" ucap pangeran ketiga itu kembali bertanya.
"kenapa kau bertanya seperti itu?" ucap Ayana balik bertanya.
"ini..." sahut pangeran itu sembari mengodorkan potongan sebuah kain yang sudah berlumuran darah kepada Ayana.
"apa maksudnya ini?!" tanya Ayana kebingungan.
__ADS_1
"pangeran mahkota negeri tabib menunggu mu saat ini putri" ucap sang pangeran sembari menundukan wajahnya.
dengan hati yang bergetar dan perasaan yang tidak menentu Ayana menceburkan dirinya ke laut dan segera berubah menjadi seekor putri duyung. dia berenang secepat yang dia bisa menuju bukit sanai dengan gelang mutiara yang dikirimkan oleh pangeran mahkota negeri tabib dia pakai ditangan kanannya.
Ayana berenang secepat yang dia bisa. dan tanpa sadar ekornya terluka karena terkena pinggiran batu karang yang tajam, namun dia tetap berenang secepat mungkin meskipun dia telah terluka.
ketika Ayana sampai didaratan dia tau jika dia berada dikaki bukit sinai. dia pun merubah ekornya menjadi sepasang kaki dan berlari secepat mungkin menuju puncak bukit sinai, dengan dibantu oleh kekuatan exelirnya Ayana dapat berlari dengan sangat cepat dan sesekali dia melayang diudara untuk dapat mempercepat langkahnya.
ketika Ayana berada dipuncak bukit sinai, dia berjalan mengelilingi puncak bukit itu mencari pangeran mahkota negeri tabib. dia mencari keseluruh penjuru namun dia tidak menemukan siapapun, hingga dia melihat sebuah pohon besar yang amat rindang dan melihat seorang pria berdiri di bawahnya.
Ayana berlari kearah pria itu, dan berhenti tepat dibelakang pria itu.
"kau sudah sampai rupanya" ucap pria itu dengan membelakangi Ayana.
"Xiao jin dimana Xiao Ai?" ucap Ayana bertanya dengan nada tinggi.
"Ayana... bukankah ini sudah seratus tahun setelah kejadian hari itu, tanpa terasa sekarang usiamu sudah 250 tahun. meski masih terbilang belia kau sudah menjadi seorang putri mahkota, sungguh sangat menakjubkan" ucap pangeran Xiao jin tanpa memandang wajah Ayana.
"saudara Xiao apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ayana dengan perasaan yang tak menentu.
"Xiao Ai sudah tiada." sahut sang pangeran dengan singkat.
"apa yang sudah terjadi?" tanya Ayana dengan berurai air mata.
"Xiao Ai sudah dibunuh oleh seorang raja negeri tetangga, dalam perang dingin yang tidak kami ketahui penyebabnya kemarin malam." sahut pangeran Xiao Jin dengan nama bicara yang begitu tenang.
"apakah Xiao Ai sudah berubah menjadi butiran cahaya?" ucap Ayana bertanya meski hatinya belum sanggup menerima kenyataan itu.
"belum... dia masih menunggu mu itulah sebabnya aku memintamu untuk datang" sahut pangeran Xiao jin.
seketika Ayana merasa sangat hancur, jantungnya berdetak dengan sangat cepat, dan kakinya terasa lemah tak berdaya lagi untuk menopang tubuhnya. Ayana pun terjatuh ke tanah dan pangeran Xiao jin mendekatinya mengulurkan tanganya kepada Ayana.
ketika itulah Ayana melihat sebuah bekas luka ditangan sang pangeran. Ayana menatap mata sang pangeran yang juga berkaca-kaca ketika menyampaikan kabar kematian saudara kembarnya itu.
__ADS_1