
"racun itu aku tau jenis racun itu... kalau dia tidak berniat bunuh diri pasti ada orang yang berniat membunuhnya" sahut Nord dengan santai mencoba untuk memancing emosi Ayana.
"lalu apa yang harus ku lakukan untuk menolongnya?" tanya Ayana sembari memandang wajah Arow yang terlihat pucat pasi.
"menolongnya? untuk apa? biarkan saja dia mati" sahut Nord dengan sikap acuh tak acuh.
mendengar jawaban dari Nord Ayana merasa geram dan segera memberikan jawaban dengan kata-kata yang tajam kepada Nord.
"biarkan?! apa kau tau? dia adalah keluarga ku dan aku tidak akan membiarkan siapapun membuat aku kehilangan keluarga ku... aku akan melakukan segalanya untuk dapat menyelamatkannya." sahut Ayana dengan kesal.
"Ayana... kau tidak pernah berubah kau selalu menyayangi semua orang terdekat mu dengan tulus, maafkan aku karena terpaksa melakukan ini kepada mu" ucap Nord dalam hati sembari memandang wajah Ayana yang terlihat kesal kepadanya.
"baiklah aku akan membantu untuk mengobatinya, tapi kau harus membayar jasa ku itu dengan mahal" sahut Nord sembari meraih tangan Arow dan memeriksa denyut nadinya.
"aku akan membayar mu berapa pun yang kau mau, asalkan kau dapat menolongnya" sahut Ayana menyetujui permintaan yang diajukan oleh Nord.
Nord kemudian membawa Arow dan Ayana ke rumahnya yang berada ditengah hutan. Nord meletakan tubuh Arow diatas tempat tidur dan segera menyalakan api untuk merebus ramuan.
Ayana duduk didekat Arow dan memeriksa suhu tubuhnya. keika Ayana memegang kepala dan tangan Arow semuanya terasa sangat dingin, selain itu Arow juga menggigil kedinginan dan tanpa sadar Arow menggenggam erat tangan Ayana.
__ADS_1
Ayana berusaha melepaskan tangannya tetapi Arow semakin erat menggenggam tangannya saat Ayana berusaha melepaskannya dengan paksa dia merasa tidak tega. melihat keadaan Arow yang sedang sakit dan lemah Ayana merasa kasian segaligus iba terhadapanya.
Ayana ingat jika kedua orang tua Arow adalah pelayan setia negeru duyung yang ikut menjadi korban dari pembantaian kejam hari itu. Ayana berhasil menyelamatkan Arow yang hampir saja menjadi santapan hewan buas dan kemudian Ayana mendidik Arow, setelah Arow menjadi dewasa, kuat, dan sangat cerdas seperti ayahnya Ayana mengangkatnya sebagai panglima untuk menggantikan panglima elang yang telah tiada.
akhirnya Ayana pun membiarkan Arow menggengam tangannya dan Ayana kemudian mengusap keringat dingin Arow menggunakan selendangnya.
"Arow... cepatlah sembuh orang tua mu pasti sangat mencemaskan diri mu jika kau terus seperti ini" ucap Ayana dalam hati sembari mengusap keringat dingin yang ada diwajah dan leher Arow dengan sangat lembut.
Nord yang melihat hal itu dari luar jendela rumahnya merasa sangat bersalah, namun dia juga tidak memiliki cara lain selain dari pada ini untuk dapat mendekati Ayana dan melindungunya.
Nord menyiapkan ramuan dengan sangat hati-hati agar dia tidak merusak setiap bahannya. tetapi Nord tidak membuat ramuan penawar racun yang sempurna karena dia ingin agar Ayana membawa dirinya ke negeri duyung sebagai tabib yang akan mengobati Arow, dan setelah itu dia akan menjalankan rencana berikutnya agar dia dapat tetap berada di istana itu dan terus dekat dengan Ayana.
setelah ramuan itu selesai dibuat Nord segera memasukannya kedalan gelas bambu dan meminumkanya kepada Arow. setelah Arow meminum ramuan itu perlahan tubuhnya mulai membaik tetapi dia masih terlihat sangat lemah.
"paduka... apa saya merepotkan anda?" ucap Arow balik bertanya dengan suara yang sangat kecil.
"anak bodoh. kau membuat aku sangat ketakutan setelah kau sembuh aku akan menghukum mu" sahut Ayana yang kini dapat bernafas dengan lega.
"paduka... maafkan saya sudah membuat anda cemas" ucap Arow sembari tersenyum lembut.
__ADS_1
"Arow jangan lakukan hal ini lagi, jika kau merasa sakit atau ada yang salah pada dirimu katakan pada ku... apa kau tau aku sangat cemas tadi berjanjilah pada ku jika hal seperti ini tidak akan pernah terulang lagi" ucap Ayana yang mencoba membuat Arow mengerti jika dirinya sudah menganggap Arow sebagai adiknya sendiri.
"baik paduka... sekali lagi saya minta maaf" sahut Arow dengan lirih dan tersenyum.
Nord kemudian kembali menemui mereka berdua dengan membawakan makanan untuk Arow. makanan itu juga sudah diberi racun dengan dosis kecil oleh Nord, dia melakukan itu agar Arow muntah dan menjadi lemah agar Ayana dapat mempercayai semua perkataanya dan membawanya untuk ikut bersama mereka kembali ke negeri duyung.
Ayana yang tidak mengetahui jika ada racun dimakanan itu pun menyuapi Arow tanpa rasa curiga sedikitpun. Ayana bahkan membujuk Arow agar dia mau memakan bubur itu dan menghabiskanya.
tak lama setelah Arow menelan makanan itu dia pun memuntahkannya kembali. bukan hanya makanan dan air yang dimuntahkan kembali oleh Arow tetapi juga darah, melihat hal itu Ayana menjadi cemas dan sesegera mungkin memeriksa keadaan Arow.
ketika Ayana memeriksa denyut nadi Arow ternyata denyut nadinya terasa sangat lemah, karena cemas Ayana meminta Nord untuk memeriksa keadaan Arow
"ku rasa sepertinya dia membutuhkan pengobatan lebih lanjut, jika tidak bisa saja dia tiada" ucap Nord menakuti Ayana.
melihat wajah Ayana yang cemas Arow meraih tangan Ayana dan tersenyum. Arow berharap Ayana tidak terlalu memikirkan dirinya dan tetap melanjutkan perjalanan ke perguruan Naga Emas tanpa dirinya.
"paduka pergilah lebih dulu menemui Karina tanpa saya" ucap Arow kepada Ayana sembari meraih tangan Ayana.
Ayana kemudian duduk disamping Arow dan tersenyum. "apa aku pernah meninggalakan mu? tidakkan?... sejak sebelas tahun lalu aku selalu menjaga dan ada disampingmu baik suka maupun duka, apa kau kira aku akan meninggalkan mu sekarang?" ucap Ayana dengan tersenyum lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
"tapi paduka tidak akan bisa pergi ke perguruan jika bersama saya yang lemah seperti saat ini" ucap Arow dengan raut wajah menyesal dan kecewa.
"siapa bilang kita akan ke perguruan itu, kita akan kembali ke istana aku akan mengirim pesan agar Naru dan Hanju menggantikan mu diperguruan selama kau sakit... aku yakin Karina akan mengerti dan membantu mereka untuk menjalankan tugasnya dengan baik" sahut Ayana dengan lembut, dan meyakinkan Arow agar tidak terlalu kecewa dengan apa yang terjadi.