
"paduka perguruan itu masih sangat membutuhkan aku dan paduka juga harus segera memeriksanya, apakah semuanya akan baik-baik saja?" ucap Arow yang mengkhawatirkan mengenai perguruan Naga Emas.
"Naru, Hanju, dan Karina pasti bisa menangani semuanya... kalaupun nantikanya ada masalah maka aku yang akan turun tangan tapi untuk saat ini kau harus kembali ke istana dan mengobati diri mu" sahut Ayana meyakinkan Arow.
Ayana kemudian beranjak dari duduknya dan mengajak Nord untuk bicara empat mata diluar rumah. Ayana tidak ingin membuat Arow tertekan apabila mendengar pembicaraan mereka.
"bisa kita bicara sebentar?" ucap Ayana sembari berjalan keluar dari rumah.
"ada apa?" tanya Nord yang mengikuti Ayana.
saat mereka sampai diluar rumah tepatnya ditaman tempat Nord biasanya menanam berbagai jenis tanaman hutan dan bunga-bunga liar.
"sebenarnya racun jenis apa yang membuat Arow menjadi selemah itu?" tanya Ayana kepada Nord sembari menggenggam erat pedang ditangannya.
Nord kemudian terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaan Ayana. "racun itu adalah jenis racun langka yang hanya ada dibeberapa tempat diseluruh dunia, orang menyebutnya racun Gu"
"aku akan membawanya kembali ke istana" sahut Ayana sembari membalikan tubuhnya menuju Arow.
Nord memegang tangan Ayana dan menghentikan langkahnya. "para tabib istana mu itu, aku tidak yakin jika mereka bisa mengembuhkan dia" ucap Nord kepada Ayana.
Ayana kemudian melepaskan tangannya dengan paksa. "apa maksud mu?" tanya Ayana bingung.
"semua tabib istana mu pasti belum pernah menangani orang yang terkena racun itu, dan aku juga yakin jika mereka bahkan belum pernah menemukan penawarnya" ucap Nord sembari kembali mencengkram tangan Ayana.
sejenak Ayana terdiam dan memikirkan ucapan Nord. memang benar jika selama ini tidak ada satupun orang dinegeri duyung yang mengenal racun itu ataupun terkena racun itu jadi sangat tidak mungkin jika ada diantara mereka yang tau apa penawar dari racun Gu itu.
__ADS_1
"kalau begitu kau akan ikut kami kembali ke istana, aku tidak ingin Arow dirawat ditempat seperti ini... karena bagaimana pun juga dia adalah anggota keluarga kerajaan dan harus dirawat dengan baik" sahut Ayana sembari melepaskan tanganya dari cerkraman Nord.
Nord menatap Ayana dengan tajam dan kemudian berjalan sedikit menjauh dari Ayana. "apakah itu sebuah permintaan, atau undangan?" ucap Nord dengan sinis.
"terserah kau mau menganggapnya apa tetapi yang pasti aku akan membayar mu untuk itu, karena aku tidak suka berhutang kepada siapapun" sahut Ayana dengan sikap acuh tak acuh.
"kau begitu menyayanginya... aku rasa kau pasti tidak ingin dia mati karena itu kau meminta ku secara resmi bukan? baiklah aku terima permintaan itu tetapi sebagai bayarannya aku ingin kau memberikan negeri tabib kepada ku" ucap Nord mengajukan penawaran kepada Ayana. Ayana merasa sangat terkejut dan tentu saja menolak permintaan Nord.
"mintalah apa yang pantas untuk kau terima!" sahut Ayana yang meradang.
"apakah sebuah negeri lebih berharga bagi mu dari pada nyawa anak itu?" sahut Nors dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
Ayana kemudian mencoba meredam emosinya dan menggenggam erat pedangnya. "apakah tidak ada hal lain yang kau inginkan selain dari negeri itu?" tanya Ayana sembari menahan emosinya.
"apa yang kau inginkan?" tanya Ayana yang sejak tadi masih mencoba menahan amarahnya.
"aku ingin kau menjadi istri ku" sahut Nord tanpa ragu-ragu.
"Tidak!" ucap Arow secara tiba-tiba.
ternyata sejak awal Arow sudah menguping pembicaraan diantara keduanya. awalnya Arow mengira jika Nord hanya menginginkan kekuasaan tetapi ternyata dia salah, saat Nord meminta Ayana untuk menjadi istrinya demi untuk menyelamatkan nyawa Arow hal itu membuat Arow marah dan juga tidak terima.
bagi Arow lebih baik dia kehilangan nyawanya dari pada melihat Ayana menjadi istri dari seorang pria yang serakah dan tidak memiliki sopan santun seperti Nord.
Ayana yang terkejut dengan kehadiran Arow segera menghampirinya dan memeluk tubuh Arow disaat Arow hampir saja tersungkur ditanah.
__ADS_1
"paduka jangan berkorban lagi untuk saya" ucap Arow yang lemah didalam pelukan Ayana.
perlahan Ayana melepaskan pelukanya dan menatap wajah Arow. "sejak sebelas tahun yang lalu aku menjagamu, memastikan kau baik-baik saja, dan aku selalu berharap agar kau bahagia... kau dan Xiao wen adalah alasan kenapa aku berjuang dan tersenyum hingga saat ini..."
"paduka saya mohon jangan pernah masuk kedalam jurang penderitaan ganya demi menyelamatkan saya... saya mohon" sahut Arow memohon dengan hati yang tulus kepada Ayana.
"jangan pernah memohon untuk apapun... sekarang aku yang memohon padamu, ku mohon tetaplah hidup dan ada disisi ku" ucap Ayana dengan mata yang berkaca-kaca. Ayana kemudian menatap mata Arow dengan penuh kasih sayang, dan kemudian membelai rambutnya.
"Ayana maafkan aku hanya ini yang dapat aku lakukan untuk mu" ucap Nord dalam hati dengan penuh penyesalan.
Arow pun menangis karena merasa bersalah kepada Ayana. demi menyelamatkan dirinya Ayana harus rela mengorbankan harga diri dan reputasinya sebagai ratu dari negeri duyung dan negeri tabib.
"apa kau bisa menjamin jika Arow akan sembuh?" tanya Ayana kepada Nord dengan suara penuh keyakinan.
"jika dia tidak sembuh maka nyawa ku sebagai gantinya" sahut Nord dengan tegas.
"aku terima persyaratan mu" sahut Ayana tanpa ragu.
"paduka!" ucap Arow yang sangat terkejut dengan keputusan Ayana.
"kau menukarkan harga diri mu demi 1 nyawa" ucap Nord sembari tertawa merendahkan.
"aku akan membunuh mu jika kau berani menyentuh paduka" sahut Nord yang terbakar amarah.
"aku tidak akan menodainya. tetapi aku memerlukan status sebagai suaminya agar aku dapat melindunginya" ucap Nord didalam hati.
__ADS_1