
Jam tujuh kurang Bangkit sudah sampai di rumah, tinggal menunggu Adnan, kami keluar bersama tepat pukul tujuh.
"Ayo berangkat, uda jam tujuh ni", ajak Adnan yang baru sampai, kami menggunakan dua sepeda, di jalan kami saling menjahili, hingga tertawa bersama.
aku tidak menyangka aku bsa tertawa lepas seperti ini lagi, aku merekam perjalanan kami yang kurang lebih memakan waktu tiga jam.
jalur keberangkatan banyak jalan yang menurun jadi tidak banyak waktu untuk beristirahat, bisa jadi waktunya jadi singkat juga.
aku melihat hamparan kebun pisang, "eh lihat ada kebun pisang" celetukku, "kenapa Rat, jiwa kemonyetanmu tumbuh setelah lihat pisang segitu banyaknya?" tukas Dewi di iringi tawa kedua cowok yang bertugas mengayuh sepeda.
"DEWIIII AWAS KAMU NANTI YA!!!" teriakku sambil mengacungkan tanganku yang mengepal.
"Yuuuhuuuu sampai" kataku sambil merentangkan tangan, ku lihat jam tanganku, hmm jam setengah sepuluh, kami masuk dan aku menutup mulutku, takjub. "mataku penuh dengan strawberry!" kataku.
Dewi dan Adnan meninggalkanku dengan Bangkit, "Ayo pergi" ajaknya, aku mengangguk.
"Kamu ngapain bawa kranjang?" tanyaku kepada Bangkit yang membawa kranjang di tangannya. "Kamu nggak mau bawa pulang buahnya?" aku menganggukkan kepala berkali-kali.
"Kamu suka?" tanyanya kemudian, "ya aku suka, sama kaya hidupku, cantik di luar asam di dalam" kataku membuang nafas kasar.
"Aku tau tempat yang Strawberrynya paling bagus, ayo!" ajaknya sambil memegang tanganku, setelah sampai di tempat yang dimaksud.
"Wow, kamu pinter carinya ya!" aku melihat buah yang segar dan besar, dia memetik satu untukku dan aku mencobanya.
Jam dua belas kami keluar dari kebun dan membayar buah yang kami petik, "Aku pikir buahnya gratis lho mbak!" kataku sambil tertawa saat membayar.
Dewi membandingkan buah yang kita petik, "Kok kamu dapat buah yang gede!!" aku hanya menjulurkan lidah ku dan tertawa sambil pergi dari tempat pembayaran.
kelakuan kami membuat banyak orang tersenyum dan menggelengkan kepala.
Kami menaiki sepeda menuju ke sebuah tebing, aku tidak berani mendekat takut jatuh.
Bangkit menemaniku dudik di gazebo dekat tebing, "Kamu ke sana aja" kataku sambil melihatnya, dia hanya menggeleng.
Ku berikan air minum untuknya, "terima kasih ya kamu mau capek-capek ngayuh sepeda buat nganter aku ke sini", kklataku kemudian.
__ADS_1
"Wi aku duluan ya!" kataku sembari pergi, dia menukjukka jempolnya.
Kami melewati sebuah pasar, mataku tertuju kepada oenjual buah, aku meminta berhenti dan mendekatinya, karena penasaran aku membeli buah duet dan gowok, buah lokal yang langka.
Kami pun pergi, lebih dari satu jam Bangkit mengayuh sepedanya.
Kasihan ni anak, dari tadi ngayuh terus, dari jam tujuh sampai sekarang cuma minum doang.
aku mengajaknya berhenti, "pak pesan bakso dua, teh manis hangat dua!" kataku kepada penjual. Kami duduk di sebelahnya.
"Kamu udah lama kerja sama paman?" tanyaku, dia hanya mengangguk, "aku kerja setelah pulang sekolah dan libur".
"o ya!! wow, hebat kamu bisa bagi waktunya" hanya itu yang ku katakan karena pesanan kami sudah datang.
Setelah selesai aku meminum obatku, kami pergi berjalan kaki, dia melihatku "Kamu sakit?" tanyanya, aku tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku nggak bisa bertahan tanpa obat, sebelumnya aku minum obat generik, tapi sudah beberapa tahun terakhir obat generikku diganti dengan obat herbal, aku minum untuk memperpanjang hidupku hingga malam, dan nanti malam memperpanjang hidupku hingga pagi" jawabku lesu.
"Sakit apa? kenapa harus bergantung dengan obat?" tanyanya penuh selidik.
kami menaiki sepeda lagi hingga depan rumah, ku lihat Fa'i duduk sendiri di depan rumah, ku lambaikan tanganku dan masuk.
Ku keluarkan semua yang ku beli, "Kamu beli buah banyak buat apa Rat?" tanya bibi melihat buah yang ku bawa, "aku penasaran bi belum pernah lihat dan makan jadi ku beli saja" kataku sambil tersenyum dan memeluk bibiku.
Kukeluarkan hpku dan menghubungi Dewi,
Ratna \=> Kamu dimana? aku udah nyampe rumah!
Dewi \=> Jalan ujung desa, tunggu aku!!
Ratna \=> wokey.
"sebentar lagi Dewi sampai" kataku kepada Bangkit, aku pergi ke dapur membuat teh hangat untuk empat orang.
"Satu minggu kemarin aku nggak lihat pak yat di kebun!" kata Bangkit memecah keheningan.
__ADS_1
"Iya, paman sama Bibi temenin aku selama di Rumah Sakit", kataku sambil tersenyum memandangi foto pamanku.
Aku membuyarkan lamunannya, "Jangan dipikirin!"
Dewi dan Adnan datang, "busyeet, kamu beli buah segini banyak buat apa? mau buka toko kamu?" kata Dewi, "dibuang" jawabku seenaknya.
aku mencoba buah duet, "Rasanya gimana sih?", "manis" jawab bangkit, ya memang manis-manis gimana gitu.
"Kalo yang ini gimana?" tanyaku memperlihatkan buah gowok berwarna hitam, "ya.. manis" jawabnya lagi.
Setelah ku coba weeeek, "Kamu ngerjain aku!!! kamu bilang manis, ini aseeeeeem bangeeet!!!"
Bangkit hanya tertawa, tapi serius buah ini aseeem bangeet.
"Eh sudah jam lima aku pulang dulu ya!" katanya smbil beranjak, aku memberikan dua kantong strawberry kepadanya tapi ditolak.
"Kita metiknya dapat empat plastik lho, mereka juga bawa, aku nggak mau besok mati karena keracunan buah ini!" kataku yang disambut tawa, akhirnya dia mau membawa strawberry dan beberapa buah yang aku beli tadi.
"makasih ya!" katanya, dan l aku mengacungkan jempolku.
Apa yang akan kulakukan besok ya!!!! jalan-jalan kemana??? besok dewi harus pergi. aku bicara sendiri dan berguling-guling di tempat tidur.
"Kaya orang gila kamu" cetus dewi sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kamu besok pergi, aku nggak ada temennya!!! masak aku harus minta ditemenin dia!" kataku sambil melirik rumah Fa'i.
"Aku telfon Bang. .". "eh gak usah, besok aku ikut paman aja!", kataku memotong kalimat Dewi.
Masa aku tiap hari harus ngrepotin dia, kan kasihan kalo tiap hari capek-capek, gak jadi kerja cuma buat nemenin aku. Seandainya kamu nggak sakiti aku I, mungkin sekarang aku masih sama kamu.
Aku masih mencoba memakan buah gowok yang tadi siang ku beli, owh, asemmm. "Makanya di cobain dulu gimana rasanya, baru dibeli, berani beli harus berani ngabisin lho Rat" kata paman yang memperhatikan aku makan sambil cemberut.
"Besok aku ikut paman ke kebun ya!" kataku kepada paman.
"APAAA??"
__ADS_1