
Sebelum Isya' Bangkit sudah ada di rumahku, "Kamu bilang setelah Isya' kanapa sekarang sudah di sini?" tanyaku sambil melipat tangan, "Kalau setelah Isya' aku baru datang, aku nggak bisa beristirahat dulu kan!" jawabnya dengan santai.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, benar juga ya, kasihan juga dia harus jemput aku dengan jalan kaki.
Aku berangkat jam setengah delapan, "aku tebak kita akan lewati jalan tadi" kataku saat melangkah keluar rumah, Bangkit tersenyum, "Kalau lewat jalan yang bagus membutuhkan waktu lebih lama.
Kami berjan berdua, kok nggak ada seorangpun lewat jalan ini, gelap gulita, satu-satunya penerangan hanya senter yang Bangkit bawa dari rumah.
Keadaan sangat menakutkan, aku menggenggam tangan Bangkit dengan sangat erat, takut jika tiba-tiba ada hewan liar lewat, dan tiba-tiba
.
"AAAA, IBUUUU!" teriakku saat sesuatu melompat dari semak-semak,
l
"Itu kucing Rat", kata Bangkit, "Matanya menyala, itu bukan kucing, hiks, hiks" kataku sambil menangis, "Itu kuciing, liat dulu!". Aku membuka mata, "Oh kucing" aku mengusap air mataku.
Aku memang penakut, ditambah dengan kejadian-kejadian membuatku semakin takut, aku berfikir, kalau aku melawan pasti tidak akan takut lagi, bukan malah ketakutan seperti ini.
Aku sampai di rumah Bangkit dan bertemu untuk pertama kali dengan ibunya, "Assalamu'alaikum, bu!" sapaku kepada ibu yang duduk di kursi, "Wa'alaikumsalam nduk, oalah kamu temannya bangkit yang kemarin!, maaf ya kemarin saya tidak bisa menemui kamu, dan terima kasih baksonya!" kata ibu dengan tersenyum.
Aku melihat wajahnya yang tidak sesuai dengan umurnya, terlihat tidak berdaya, gurat kelelahan juga terpancar.
"Sama-sama bu" aku tersenyum dan duduk di kursi.
Dudukku tidak tenang, saat kulihat ibu memperhatikan aku kemudian tersenyum, "sepertinya saya baru kali ini melihat kamu!" tanya ibu pelan, "eh saya .". belum sempat aku bicara Bangkit memotongnya.
"Ini Ratna bu, keponakannya Pak Yat dulu dia juga buat aku bisa kerja di tempanya Pak Yat" Bangkit menerangkan dengan pelan, tiba-tiba ibu mengajak Bangkit untuk masuk.
"Nang masuk sebentar, Sebentar ya nak Ratna" kata ibu, "Iya bu!", hanya itu yang kukatakan, entah mengapa perasaanku mengatakan ibu tidak menyukai kedekatanku dengan putranya.
Aku berpindah tempat duduk didekat pintu, berharap sedikit mendengar apa yang dibicarakan, dan dugaanku benar.
"Nang kok kamu bisa berteman sama keponakannya Pak Yat? ibu nggak suka kamu dekat-dekat sama dia!, ingat Pak Iman?" kata Ibu.
"Bu, dia itu kakak iparnya, keluarga Pak Yat itu baik semua!, jangan mengambil kesimpulan seperti itu!" kata Bangkit neninggikan suaranya. "Ibu tidak suka!" kata ibunya lagi.
Aku segera duduk di depan rumah, takut Ibu dan bangkit mengetahui jika aku mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
Tak lama Bangkit keluar dengan wajah ditekuk, kami menonton kesenian hingga jam setengah sebelas, "hah sudah malam, aku harus pulang!" kataku lirih, "ya sudah ayo!" bangkit menarik tanganku, mengajakku kerumahnya untuk berpamitan, namun ibunya sudah tidur, kami keluar dari rumah.
"Kamu ngapain bawa golok? jangan bilang kamu mau bunuh aku!" tanyaku histeris, "apaan sih, nanti ini berguna" katanya sambil tersenyum.
Kabut mulai turun, "aku takut!" kataku lirih, "tidak apa-apa" katanya kemudian. Aku melihatnya. .
.
__ADS_1
.
"Bambunya tumbang! kita harus lewat mana?" tanyaku, namun bangkit tidak menjawab, dia malah melingkarkan tangannya ke pinggangku.
Bangkit hendak melompati bambu itu, kriiiieeet
Bambunya naik
Kemudian Bangkit mencoba berjongkok, kriiiieeet
dan bambunya turun
Aku gemetar dan air mataku mulai menetes, tiba-tiba Bangkit mengeluarkan goloknya, "KALAU MENGHALANGI AKU TEBAS" teriaknya, aku semakin takut dibuatnya.
Kriiiieeet
Bambu itu naik dan seakan takut mendengar ancaman yang diberikan.
"Kami berjalan lagi, belum jauh kami melangkah dari tempat tadi aku mendengar suara kuda, "Bangkit, kamu denger suara kuda tidak?" tanyaku setengah berbisik, "iya aku denger" hanya itu yang dia katakan.
Dia sedikit mendorongku, aku berada persis di bibir jalan dan Bangkit berada di belakangku,"jalan pelan saja!", katanya.
Aku mendengar suara kuda itu kesana kemari.
Aku tidak bisa melihat apapun, dan tidak ada satupun yang lewat.
Aku menghentikan langkahku. .
"aku hanya mengantarnya pulang, tolong jangan ganggu kami, dia tanggung jawabku sebelum sampai rumah".
Apa dia bisa melihat sesuatu? kenapa dia begitu berani? tidak ada rasa takut yang keluar dari kata-katanya.
Suara itu muncul kembalin dan berlalu, "Ayo jalan lagi!" katanya dengan tenang.
Aku memberanikan diri untuk bertanya, "Kamu nggak takut? nanti gimana pulangnya?" Bangkit hanya tersenyum, "Kalau aku takut, aku tidak akan mengantarmu pulang!" jawabnya sambil tertawa.
"Kamu masih lama di sini?" tanyanya kemudian, "ya, selama masih libur amku di sini! Karenaa aku ijin sama orang tua aku satu bulan penuh selama liburan!" jawabku.
Aku tau ibu kamu nggak suka kita deket, lebih baik aku yang menjauh, bukan kamu!! kataku dalam hati.
.
.
BRUUUUUKK
.
__ADS_1
.
"AAAA" aku sangat terkejut, "Suara apa lagi sih?","nggak apa! cuma kelapa yang jatuh, ni kamu yang bawa senternya!" katanya sambil memberikan senter jeoadaku.
Kami mulai berjalan, kuarahkan senter ke jalan yang kami lalui, sesuatu menggelinging di jalan yang tersorot cahaya.
"A-apa itu? Kelapa? bola?", Bangkit mengeratkan tangan yang melingkar di pinggangku, dan hal itu membuatku semakin takut.
"Berhenti, tetap berdiri, biarkan mereka menabrak kaki kita, yang penting bukan kita yang menendang". katanya membuatku bingung.
Mereka?? mereka siapa? kenapa kamu selalu saja membuatku takut dengan kata-katamu!!.
Dari arah belakang kami, muncul sesuatu menggelinding dengan cepat.
.
DEG
.
DEG
.
DEG
.
Apa itu? tidak mungkin buah kelapa menggelinding dengan sendirinya, apalagi di jalan menanjak seperti ini.
Cukup lama aku berdiri, sesuatu menabrakku dengan keras, "Ahh" hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku melihat ke bawah.
.
"Hmmmpf" Bangkit menutup mulutku agar aku tidak bertersekali.an dengan refleks membawa wajahku ke dadanya.
Dia menggendongku sampai di jalan depan rumah, dan menurunkan aku, tanganku bertetar, sepertinya berkata pun aku tidak mampu.
Aku melihat kepala manusia, iya itu kepala manusia!! bukan bola atau kelapa yang menggelinding!!.
"Assalamu'alaikum". "Wa'alaikumsalam", tanpa mengatakan, ba bi bu, aku langsung memeluk Bibi, hiks hiks "Bi temani aku tidur!" kataku sambil menangis.
"Ada yang mengganggu?" tanya Paman kepada Bangkit, dia hanya mengangguk, aku pergi ke kamar mandi dan ditemani Bibi, sedangkan Bangkit pamit pulang.
Bibi menemani tidurku yang tidak nyenyak sama sekali, aku terbangun berkali-kali, kemudian Bibi memelukku agar aku merasa tenang, dan tidur nyenyak.
__ADS_1