
Ratna sudah membuka matanya namun entah mengapa pagi ini dia begitu malas untuk bangun, pikirannya melayang entah kemana.
Apa yang terjadi denganmu Wi? apa aku melakukan kesalahan hinggadirimu mengacuhkan aku? apa karena Paman dan Bibi memperhatikan aku dengan berlebihan? tau karena laki-laki itu? kenapa kamu selalu tertutup kepadaku?
Bu Lanny masuk dan melihat Ratna yang memandang langit-langit kamarnya, "apakah ada sesuatu yang ingin kamu ambil dari langit kamarmu sayang?", Ratna terkejut mendengarnya.
"haaah, ma-mama? sejak kapan mama ada di sini? kenapa mama tidak mengetuk pintu?" Ratna bertanya dengan gelagapan.
Bu Lanny tersenyum, "halo Nona Wardhana, dari tadi anda sibuk melihat langit-langit kamar anda hingga suara ketukan pintu saya yang keras pun anda abaikan begitu saja, siapa sih yan dipikirkan?" tanya Bu Lanny dengan memainkan kedua alisnya.
Ratna memutar kedua bola matanya, "mama kenapa sih! Ratna cuma kikir kenapa Dewi begitu berubah!" kata Ratna sambil memajukan bibirnya.
Bu Lanny memeluk Ratna dengan erat, "sudah nggak usah dipikirkan! lebih baik sekarang kamu mandi, kita melihat rumah barunya dan kamu bisa jalan-jalan!" kata Bu Lanny.
Ratna melebarkan ke dua matanya, ahh ya, aku kan sudah harus meninggalkan rumah ini. Ratna mengangguk-anggukkan kepalanya, "ayo Ma!".
Singkat cerita Ratna sarapan bersama ke dua Orang tua, Paman dan Bibinya, Ratna mengedarkan pandangannya "Paman, kok Dewi nggak makan sama kita!" tanya Ratna.
Pamannya menghela nafas pelan, "Paman tidak tau Rat, sejak kamu pulang Dewi tidak pernah makan bersama bahkan dia terlihat cuek kepada orang tuanya sendiri!" kata Paman Ratna.
Apa yang kamu sembunyikan dari kami Wi? kenapa kamu begitu berubah! apakah sebenarnya sifat asli kamu seperti ini? bukan yang kamu perlihatkan kepadaku saat itu?.
Ratna memegang dadanya yang begitu nyeri, mencoba menahan rasa sakit, Bu Lanny yang mengetahuinya segera mengambilkan air putih hangat.
"Diminum dulu sayang! pelan-pelan", kata Bu Lanny dengan cemas, Ratna melihat mamanya, "terima kasih ma, aku sudah lebih baik sekarang!" kata Ratna memberikan senyumannya.
Bu Lanny dan Pak Wardhana merasa lega, mereka kembali makan bersama.
.
__ADS_1
.
Paman berlutut di hadapan Ratna, "Kenapa kamu pergi sayang? kamu tidak suka tinggal di sini?" tanya Paman Ratna dengan wajah lesunya.
Ratna merasa tidak enak mau menjawab apa, "emm begini Paman, kan Papa punya rumah di sana, kalau tidak ada yang nempatin kan kasihan rumahnya! Lagi pula rumahnya berada di seberang jalan kan Rtna masih bisa datang kemari" kata Ratna.
Pak Yat tidak bisa berbuat banyak, "Paman akan sering datang ke sana sayang, kamu juga harus sering ke sini ya!" kata Pak Yat.
Ratna mengangguk pelan, dia melihat Bibinya yang mengusap air mata, "Bibi kenapa sih! aku cuma ke seberang jalan, bukan ke luar negeri dan tak kembali, jangan tangisi aku!" kata Ratna dengan bibir manyunnya, dan berhasil membuat Bibinya tertawa.
.
.
Pak Wardhana membuka pintu untuk Ratna, "selamat datang di rumah sayang!", Ratna melebarkan kedua matanya, "wow! keren", kata Ratna.
Bu Lanny tersenyum Ratna menyukai rumahnya, "kita bisa ke sini setiap waktu sayang, Ratna sangat senang melihat rumahnya, sesaat dia sedih harus meninggalkan Paman dan Bibinya, namun Ratna tau bahwa meninggalkan rumah mereka mungkin sesuatu yang lebih baik.
Bu Lanny memegang kedua bahu Ratna dan berkata, "tentu sayang, tapi kamu akan melihatnya bersama Papa! karena Mama anhin membuat cemilan dan memasak untuk makan siang kita!".
Ratna ingat jika dulu dia selalu membantu Mamanya memasak, "Ma! apa aku bisa membantu!" kata Ratna lirih.
Bu Lanny menghela nafasnya, "kamu akan membantu mama saat semua sudah kembali, dan sekarang kamu hanya perlu bersenang-senang dan menjaga kesehatan kamu", kata Bu Lanny dengan lembut.
Rtna ingin mengatakan sesuatu kepada Bu Lanny, namun hatinya yang serasa terisris membuatnya tidak sangguno mengungkapkannya.
Pak Wardhana memeluk Ratna, "jangan membuat kaca di mata kamu pecah sayang, ayo kita berkeliling!" kata Pak Wardhana tersenyum.
Ratna tertawa kecil dan menghapus air matanya yang membendung.
__ADS_1
Tujuan mereka yng pertama adalah kamar Ratna, "kamu akan melihatnya sayang!" kata Pak Wardhana.
Ratna melihat kamarnya, "wooow! ini kan bukan Plays Station Ratna Pa!" kata Ratna, Pak Wardhana menggenggam tangan Ratna.
Ratna menatap Papanya dengan lekat dan melebarkan kedua matanya, "Papa beli baru buat aku?" tanyanya lagi.
Papanya mengangguk pelan, "thank you, thank you, thank you, Papa!" kata Ratna sambil memeluk Papanya yang tertawa melihat ekspresi keterkejutannya.
"Apakah kamu suka?" tanya Pak Wardhana, Ratna menggoyang-nggoyangkan tubuh Papanya kemudian memeluknya, "apa yang Papa tanyakan kepadaku, aku tidak hanya suka Papa, aku sangaaaat suka!" jawab Ratna.
.
.
Ratna kembali ke ruang keluarga setelah berkeliling, Bu Lanny membawakan jus kesukaan Ratna dan juga cemilan, "Apa saja yang kamu lihat sayang?, kamu terlihat sangat bahagia". kata Bu Lanny.
Ratna tertawa dan memutup wajahnya dengan ke dua tangan, "aku sudah lihat kamar, ada taman di belakang rumah, ayunan dan ke balkon juga Mama!" kata Ratn dengan wajah berbinar.
Ahh ya tadi aku melihat Dewi puang bersama Fathur, mereka terlihat sangat bahagia, mungkin keputusanku meninggalkan rumah Paman adalah keputusan yang benar.
"Mau mengundang teman-temanmu untuk datang?" tanya Bu Lanny, Ratna menggeleng pelan dan bertanya kepada Papanya, "memangnya kita nggak ngadain selamatan?".
Pak Wardhana tersenyum mendengar pertanyaan Ratna, "sebelum kamu datang ke sini sudah ada selamatan sayang!".
Bu Lanny menghampiri Suami dan putrinya yang sedang asik ngobrol, "ayo kita makan siang dulu!, setelah itu kamu harus istirhat sayang!" kata Bu Lanny menghentikan pembicaraan yang seru antara Ayah dan Anak tersebut.
Ratna dan Pak Wardhana mengangguk, akhirnya merwka bertiga makan siang bersama.
.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang dan meminum obatnya, Bu Lanny mengantar Ratna ke kamar untuk istirahat.
Bu Lanny mengecup kening putrinya, "istirahatlah, kamu harus fit sampai kakak kamu datang!" kata Bu Lanny, Ratna menganggukkan kepalanya, "siap ma!".