Liburanku

Liburanku
Berubah


__ADS_3

"Kalian kan teman Ratna, temani sana! dia sudah tiga jam lebih sendiri di depan!" kata Bibi kepada Dewi dan Fathur.


Mereka mengangguk dan berjalan keluar, "Hai Rat, kamu baik kan?" tanya Fathur, Ratna tidak mengalihkan pandangannya, "aku baik" jawabnya singkat, wajahnya dingin tanpa ekspresi, Fathur dan Dewi saling tatap, mereka berfikir Ratna marah kaeena mengetahui hubungan mereka.


Dewi dan Fathur bercerita hal konyol yang mereka lakukan saat Ratna tidak bersama mereka, namun Ratna tidak tertarik sama sekali, tatapan dinginnya tidak berubah, bahkan tersenyum saja dia tidak berikan.


Tidak lama kemudian Pak Yat keluar, "sudah ngobrolnya, ayo masuk kita makan siang bersama", saat Pak Yat akan mendorong kursi rodanya, Ratna mencegahnya, "aku masih ingin di sini!".


"Paman akan bawakan makanannya ya!" kata Pak Yat menawarkan.


"aku tidak lapar!".


Ratna bermaksud pergi ke kamar, "biar aku bantu!" kata Fathur menawarkan bantuan, "aku bisa sediri" kata Ratna ketus, "Ratna, Ayah dan Ibu mau pergi ke kebun durian bersama paman bibimu, kamu mau ikut sayang?" tanya ayah.


"tidak!"


Ratna masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, ponselnya berdering, Ratna membiarkannya hingga berhenti dengan sendirinya.


.


.


kleek (suara pintu kamar yang perlahan terbuka)


.


.


Erna, Wawan, Yudi masuk ke kamar Ratna"hai Rat, lama tidak bertemu, ayo kita nonton dvd!, kita tunggu Windi, Fathur dan Dewi, mereka sedang beli cemilan! o iya, tadi aku telfon kamu, kenapa tidak diangkat?, kemarin-kemarin juga aku kirim pesan, kamu juga nggak bales!", Kata Erna.

__ADS_1


Ratna menunduk, "sorry!" hanya itu yang di ucapkan oleh Ratna. "kamu mau nonton apa Rat?" tanya Wawan, "terserah kamu!" jawab Ratna ketus.


Windi masuk dan berkata, "cemilan datang", Fathur dan Dewi berjalan di belakang Windi.


Wawan menepuk bahu Ratna, "Rat nanti sore kita jalan-jalan ya!", Ratna menepis tangan Wawan, "tidak".


"Kita ke warung Mbak Roh!" kata Yudi, "Tidak".


Dewi mendekat, "ayo ke kebun durian!"


"Tidak", Dewi berusaha membujuk Ratna, "kita bersepeda Rat!". "tidak!" Ratna tetap pada pendiriannya.


"Apa kamu bisa berkata selain Tidak?" tanya Fathur.


"Tidak", kata Ratna. "Rat ayolah, kita semua bisa pergi bersama!" kata Fathur meninggikan suaranya.


Ratna menatap Fathur dan Dewi, yang membuatnya tersulut emosi, "KALAU KALIAN INGIN PERGI, PERGI SAJA! AJAK ORANG LAIN YANG BISA BERJALAN, BUKAN AKU!" Ratna berteriak.


Erna memberi isyarat kepada Windi, Wawan dan Yudi untuk meninggalkan Ratna sendiri, "kita keluar dulu ya rat" kata Yudi dan Wawan kompak, tidak lupa mereka berdua menarik Dewi dan Fathur.


"Kamu pasti capek, kan dari pagi duduk di kursi terus! aku bantu ke tempat tidur ya!" kata Erna, Ratna melihat Erna yang mencoba mengangkatnya namau Ratna menolak, "aku lebih suka di sini".


Ratna keluar kamar, Erna membuka pintu untuk Ratna yang tidak mau dibantu, "terima kasih" ucapnya, Ratna tidak menghiraukan teman-temannya yang berada di ruang tamu.


Apakah aku bisa kembali seperti duku lagi?, aku sangat ingin menjauh dari kursi roda ini, apakah kesempatan itu masih ada?.


Ratna keluar, dan tujuannya jatuh kepada kolam ikan yang berada di belakang rumah.


Salah satu tetangga menyapa Ratna yang sedang melihat-lihat ikan-ikan yang pernah dibelinya dulu , "Mbak Ratna kapan sampai di sini?" kata ibu itu, "Tadi pagi bu!" jawab Ratna tidak bersemangat sama sekali.

__ADS_1


Tanpa Ratna sadari Erna membuntutinya, dia khawatir terjadi sesuatu, "itu ikan yang pernah kamu maksud?" tanya Erna, Ratna mengangguk, "ada berapa banyak di sana?" Erna bertanya lagi.


Ratna mengangkat bahunya, "entahlah aku tidak tau, mereka sudah sembilan tahun di sini!" jawab Ratna, mata Erna tertuju pada satu ikan yang istimewa.


"Lihat ikan yang istimewa itu rat!, siripnya tidak sempurna, warnanya juga berbeda dari yang lain, bukankah dia begitu cantik! dia juga harus menanggung seumur hidupnya kan?", kata Erna mematap wajah Ratna.


Ratna melihat ikan yang dimaksud Erna, "apa maksud kamu?" tanyanya, Erna senang karena mendapat perhatian Ratna.


"ok, dengarkan aku, bukankah ikan itu sama seperti kamu! yang berbeda, dia menanggung semua iti seumur hidunya dan sedangkan kamu mempunyai orang tua yang berusaha untuk mengembalikan lagi apa yang hilang darimu, lihatlah (Erna menunjuk ikan itu) dia berbeda namun dia bisa bersama dengan yang lain, berteman dengan yang lain tanpa penghalang, sedangkan kamu menghindari kita Rat, kita ingin ada untuk kamu! tersenyumlah, bukankah Allah itu maha mendengar, dia hanya sedang menguji kamu, ingin melihat kesungguhan kamu!", Erna berkata dengan tersenyum.


Ratna menitikkan air matanya, "a-aku tidak ingin merepotkan orang lain Na! dan aku sudah menunggu selama lima tahun, namun semua hasilnya tidak ada!", Ratna berkata sambil mengusap air matanya.


Erna menggenggam tangan Ratna, "bukan tidak ada Rat, hanya belum ada, kamu harus semangat agar kedua orang tuamu ikut bahagia!, semua pilihannya ada padamu Rat!".


Erna melangkah menjauh, Ratna masih memperhatikan ikan yang istimewa menurut Erna, merenungkan semua yang Erna katakan, apakah memang seperti itu? apa aku harus memikiki keyakinan sama seperti Ibu?.


Ratna masuk ke dalam rumah dan melihat Erna, "kamu bisa temani aku?"


Erna tersenyum, "tentu saja, aku pasti menemanimu!", Erna melangkah mendekati Ratna kemudian Erna mendorong kursi roda Ratna dan mengajaknya keluar.


Erna mengajak Ratna ke sebuah taman yang baru dibangun.


"Ini taman baru? sepertinya dulu di sini tidak ada apa-apa!" kata Ratna saat memasuki taman, "iya, kalau tidak salah sudah dua tahun lalu, ayo duduk di sini aku bantu", Erna membantu Ratna beranjak dari kursi rodanya.


Erna bertanya kepada Ratna dengan takut-takut, "emm Rat, kamu tau tentang Dewi dan Fathur?" tanya Erna, Ratna tersenyum dan mengangguk, "kamu tidak marah kepadanya? maksudku Fathur pernah bilang kan kalau dia suka sama kamu, dan dia juga meminta kesempatan darimu, apa sekarang kamu melepaskannya untuk saudaramu sendiri?" tanya Erna lagi.


Ratna tertawa kecil dan mendorong pelan bahu sahabatnya, "dia memang mengatakannya, tapi aku tidak pernah memberinya jawaban, karena saat dia mendengar kakiku sulit untuk sembuh aku melihat raut wajahnya berubah! untuk apa aku memikirkannya! dia pasti lebih bahagia dengan Dewi, lagipula hanya orang bodoh yang mengharapkan aku!", kata Ratna.


"lalu bagaimana dengan Faisal? kamu masih membencinya? bukankah secara tidak langsung dia yang membuat keadaanmu seperti sekarang?" Ratna tersenyum, "awalnya iya, tapi setelah berfikir lagi, tidak!, bagaimanapun juga kedua kakiku patah karena aku yang lari tidak melihat kanan-kiri kan!, udah ah, dari tadi tanya terus!" kata Ratna.

__ADS_1


Sebenarnya Erna masih mempunyai pertanyaan tapi takut mengganggu mood-nya, Ratna bisa menangkap arti raut wajah Erna, "kalau masih mau tanya, tanya aja!" kata Ratna.


__ADS_2