
Aku sampai di pasar, belum lama aku berkeliling, aku melihat seorang turis yang sedang duduk di seberang jalan.
Me \=> Good afternoon sir, where do you come from? (selamat soang pak, darimana asal anda?)
Turis \=> Good afternoon, i come from Belgium. (selamat siang saya dari Belgia)
Me \=> Let me introduce my name is Ratna, i live around here! and you? (perkenalkan nama saya Ratna, saya tinggal di sekitar sini, dan anda?)
Daniel \=> My name is Daniel, nice to meet you! and how old are you? (nama saya Daniel, senang bertemu denganmu! berapa umurmu?)
Me \=> Oh i am seventeen years old, and now i am in second grade high schol. (oh saya tujuh belas tahun, dan sekarang saya duduk di kelas dua sekolah menengah atas).
Daniel \=> Is it true? not all children in your age can speak fluent English. (benarkah? tidak semua anak di usiamu bisa lancar berbahasa inggris)
Me \=> You're praising too much, did you come alone? (anda terlalu memuji, apakah anda datng sendiri?)
Daniel \=> Oh no, i came with my wife, she was picking some fruits, there she was! (oh tidak, saya datang bersama istri saya, dia sedang memilih beberapa buah-buahan, itu dia!)
Me \=> What is your wife's name? and can we take pictures as memories? of course after your wife comes! (siapa nama istri anda? dan apa kita bisa berfoto sebagai kenangan? tentu setelah istri anda datang!).
Daniel \=> Certain, her name is Helen (tentu, namanya Helen) Honey, she's Rtana, she wants us to take pictures together for memories, what do you think? (sayang, dia Ratna, dia ingin kita berfoto bersama untuk kenangan, bagaimana menurutmu?)
Helen \=> Of course i will like it a lot! (tentu aku akan sangat menyukainya!)
Kami berfoto bersama.
Me \=> Thank you Mr. Daniel, Mrs. Helen (terima kasih pak Daniel, Ibu helen)
Daniel dan helen \=> Youre welcome, honey!! (sama-sama sayang)
Pasar sudah mulai tutup, mungkin sudah nggak ada lagi ya! lagian ini juga sudah sore. Lebih baik pulang dan mandi.
Aku pergi ke tempat parkir, mengambil sepeda motor dan menyerahkan uanh untuk membayar parkir,
__ADS_1
Sesampainy di rumah aku tidak langsung masuk, tapi duduk di kursi depan rumah, "Hei, ap kamu baik-baik saja? kau terlihat menyedihkan!" kataku yang melihat Dewi berjalan lesu.
"Aku putus!" hanya itu kata yanh keluar dari mulut saudaraku, "kok bisa? kenapa?" tanyaku dengan penasaran. "Dia cuma bilang kalau sebenarnya mereka cuma main-main sama kita!" jawabnya lirih.
"Kita? mereka? Fa'i sama Adnan?" pertanyaanku hanya mendapat anggukan kecil, aku tersenyum, "ayolah, cuma putus!" kataku memberinya pelukan.
Jadi mereka memang berniat buruk dari awal!! harusnya aku tau, aku masih melihat kesedihan di matanya, aku menghela nafas, ku lihat mereka duduk bersama.
Kalian bisa senang sekarang, tapi suatu saat akan ada saatnya kalian hancur lebur, jika aku bisa aku yang akan menghancurkan kalian.
"Ayo bersepeda! keliling sekitar sini saja!" ajakku kepada Dewi yang masih murung, "Sekarang?" tanyanya sambil melihat keluar.
"Besok pagi dong, ini sudah hampir maghrib!" sahutku sambil menarik tangannya masuk kedalam rumah.
Entah mengapa ini menjadi sore yang sangat menyedihkan, sangat membosankan!, apakah karena perasaanku dan Dewi terluka, aku sendiri tidak tau.
Sebenarnya Dewi mengajakku membeli mie ayam di warung, namun aku mempertimbangkan akan adanya sesuatu yang mengganggu di jalan, jadi aku menolaknya.
Karena kurangnya pekerjaanku, kumainkan rubik yang aku beli di pasar tadi siang, sampai aku mendengar suara yang menghentikan aktifitasku.
TOK
TOK
TOK
Aku melihat asal suara itu, dari jendela, siapa malam-malam begini lemparin kaca pake kerikil!! ada yang mau ngerjain aku!!
aku mematikan lampu kamarku, suara itu masih terdengar dan aku keluar menuju kamar Dewi. "Wi bangun!" bisikku di telinga Dewi yang sudah memejamkan mata.
"Ap.." ku tutup mulutnya agar tidak bersuara, "ayo ke kamarku, ada yang ngerjain aku kayakny, aku mau bangunin Paman sama Bibi dulu!". Dewi mengangguk
Aku melangkah ke kamar Paman dan langsung masuk tanpa permisi, dan ternyata Paman dan Bibi belum tidur, "Paman, Bibi ada kayanya ada yang ngerjain aku deh, ayo ke kamarku" bisikku.
__ADS_1
Kami masuk ke kamar bersama lalu kututup pintu kamarku.
TOK
TOK
TOK
"Kalau gelap, suaranya datang! tapi kalau terang suaranya hilang"
Paman mengatur siasat, Bibi lewat depan rumah, Paman lewat belakang rumah.
"Kita keluar lewat sini saja, kalau lewat pintu itu kelihatan terang dari luar" kata paman berbisik.
Aku mencoba membuka jendela, dan terdengar seperti ada orang yang lari menuju depan dan belakang rumah, dengan sigap Paman menarik baju yang dipakai orang tersebut, dan Bibi memukul dua orang yang berlari ke depn rumah, sedangkan Dewi langsung melompat dari jendela kamarku sambil membawa sapu, membantu Bibi memegangi salah satu pelaku.
"Oalah ternyata kamu Sal, sini ikut saya, seenaknya mau mengusik ketenangan keluarga saya kamu" kata paman dengan suara yang meninggi, membuat beberapa tetangga keluar dari rumah dan melihat apa yang terjadi.
Paman melihat dua orang yang dipegang Bibi dan Dewi dengan geram.
"Wawan, tolong panggil pak RT!" pinta bapak kepada Wawan anaknya mbak Roh, "Iya pak!" Wawan langsung berlari ke rumah pak RT dan meminta agar beliau datanf ke rumah.
"Ada apa ini Pak?" tanya Pak RT muncul dari kerumunan.
Setelah Pak RT datang Paman menyuruhku bercerita, "Rat ceritakan saja!"
" Begini pak, sejak saya pulang Rumah Sakit, saya sering diganggu, tapi saya tidak berani mengatakannya kepada paman, Setiap saya mau tidur, jedela kamar saya selau diketuk, saat saya menyalakan lampu, suaranya hilang tapi setelah saya matikan diketuk lagi, lalu tadi saya membangunkan Dewi, Paman sama Bibi". kataku menceritakan kejadiannya.
"Sebenarnya mau kalian itu apa? seenaknya mengusik ketenangan orang lain!" kata Pak RT dengan emosi.
Sementara Faisal, Adnan dan Ani hanya menunduk.
"Saya tidak tau bagaimana mau bicara, apalagi kamu Sal, di desa ini, kamu terkenal dengan keramahannya, sholeh, pinter, kok sekarang mengganggu seperti ini".
__ADS_1
Pak RT membubarkan warga, dan Paman menyuruh mereka bertiga untuk pulang, "Sana pulang, ini sudah malam, kalau besok kamu masih berani mengganggu, saya tidak segan-segan selesaikan secara hukum". Ancam paman.