
Selama dua tahun Ratna dengan setia melihat nama pemilik ijazah yang berada di tangannya, tidak ada yang lain.
Ratna Dwi Wardhana
Untuk apa kertas ini, aku tidak mempunyai jalan untuk mencari impianku, semua sudah hilang!!!
ponsel Ratna bergetar, dan lantunan lagu terdengar begitu indah.
Drrrrt, drrrrt, drrrt
I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
'Cause your presence still lingers here
And it won't leave me alone
These wounds won't seem to heal, this pain is just too real
There's just too much that time cannot erase.
Ratna mengacuhkan ponselnya yang berdering sedari tadi.
Pak Wardhana (ayah Ratna) mendekati putrinya, melihat ponselnya, "Ratna, kenapa tidak diangkat? teman-teman kamu menelfon ratusan kali sayang!" merasa diabaikan beliau berkata, "bagaimana kalau besok kita ke rumah paman! kan kamu sudah lima tahun tidak berkunjung!".
Ratna mengalihkan pandangannya, "tidak, untuk apa aku kesana, aku tidak mau menjadi beban untuk orang lain". Pak Wardhana mengusap wajah sayunya, "kamu tidak pernah menjadi beban sayang! tidak pernah", kata pak wardhana, tidak terasa air matanya mengalir dari sudut matanya.
"apa ayah melihat kakiku yang beralih berfungsi sebagai pajangan? menggerakkan jari kaki saja aku tidak bisa, mungkin bagi ayah dan ibu aku tidak menjadi beban, tapi bagiku aku beban semua orang", Ratna berkata dengan ketus.
Melihat keadaan dan mendengar setiap kata-kata Ratna membuat hati pak wardhana hancur, Ratna terlihat tidak semangat, terlihat sangat terpuruk.
Pak Wardhana mengusap kepala Ratna, "sayang, kamu tidak merepotkan siapapun, ayah yang akan melakukan segalanya untuk membuatmu tersenyum, kita ke rumah paman besok!".
"Itu bagi Ayah dan Ibu, tapi tidak untukku", kata Ratna tanpa melihat ayahnya.
Ibu mendatangi Ratna dan memeluknya, "Ayo istirahat, besok kita berangkat, jangan tidur terlalu malam".
Ratna enggan untuk tidur, "ayah dan ibu tidur saja, aku masih mau di sini", namun bu wardhana tetap membawa kursi roda Ratna mendekati tempat tidur, dan pak wardhana memindahkan Ratna.
Tanpa disadari Ratna membentaknya, "AYAH, AKU TIDAK MAU!", Ratna menangis dan berusaha turun dari tempat tidurnya.
Pak Wardhana dengan sigap memeluk Ratna, sedangkan Ratna terus meronta mencoba melepaskan diri, "ssst yang tenang, sabar, jangan emosi" kata pak wardhana mencoba menenangkan Ratna.
Ratna memeluk ayahnya, menumpahkan semua kesedihan dan air matanya.
Entah berapa lama Ratna menangis hingga akhirnya Ratna kecapean dan tertidur.
.
.
__ADS_1
"Selamat Pagi, Ibu sudah menyiapkan air hangatnya, ayo mandi", kata Bu wardhana membawa Ratna ke kamar mandi.
Ratna melihat wajah Ibunya yang sedang membersihkan kedua kakinya, terlihat air mata menetes di pipinya.
Bu Wardhana bangkit, mencium kening Ratna, "Kenapa? kok melihat Ibu seperti itu!" bisiknya, Ratna menggeleng pelan, "yang sabar ya, Ibu yakin, suatu saat nanti kaki ini pasti bisa seperti dulu lagi" kata Bu Wardhana sambil menyentuh telapak kaki anaknya.
Selama lima tahun aku menunggu keyakinanku, dulu aku berfikir Ibu benar, tapi apa Ibu tau kalau sekarang semua keyakinanku sudah mulai memudar? apa aku harus kembali yakin? kapan aku akan mendapatkannya? kapan kata suatu saat nanti yang sering ibu ucapkan akan membawa hasilnya?
Selesai mandi dan sarapan ayah mendorong kursi roda Ratna menuju mobil, mereka akan berangkat ke rumah Paman Ratna.
Ratna mengambil ponselnya, menyalakan mp3nya, pilihanya jatuh pada coldplay.
Come up to meet you
Tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you
Tell you I need you
Tell you I set you apart
Tell me your secrets
And ask me your questions
Oh let's go back to the start
Heads on a science apart
Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start
I was just guessing at numbers and figures
Pulling your puzzles apart
Questions of science, science and progress
Do not speak as loud as my heart
Tell me you love me
Come back and haunt me
Oh and I rush to the start
__ADS_1
Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are
.
.
Dua jam perjalanan yang mereka tempuh.
.
Keluarga Wardhana sudah sampai di tempat tujuan, Pak Yatin (Paman Ratna) membantu menurunkan kursi roda, sedangkan Pak Wardhana membantu Ratna turun dari mobil.
Bibi menemui Ratna dan mencium keningnya, "Selamat datang Ratna, kamu sehat kan", Ratna hanya mengangguk.
Pak Yatin melihat perubahan sikap Ratna, "seperti itulah keponakanmu sekarang dek!" kata pak Wardhana yang melihat adik iparnya memandangi Ratna.
Ratna memilih berada di teras rumah, matanya melihat jalan depan rumah pamannya, Tidak Berubah!!.
Bu yati (Istri Paman) mendekati Ratna yang duduk sendiri, karena Kedua orang tuanya sedang memasukkan barang yang mereka bawa, "Rat, minum dulu! ini jus favorit kamu, dari tempatnya Mbak Roh!", Bibi meletakkan jus yang dia bawa di meja.
Ratna hanya mengangguk pelan, melihat tatapan kosong dan wajah dinginnya membuat Bibi masuk menahan tangisnya.
Bu Wardhana mendekati Ratna yang sekarang duduk di bawah terik matahari, "Ratna, kita masuk ya! di sini sudah panas", kata Bu Wardhana, Ratna menolaknya, "aku ingin di sini".
Bu Wardhana memindahkan Ratna ke tempat yang teduh, sedangkan Pak Wardhana memindahkan meja dan kursi.
.
.
Ratna mendengar semua percakapan orang tuanya, dari menanyakan kesembuhannya sampai yang lainnya, namun ada satu pembicaraan mereka yang membuat terkejut
"Sebentar lagi Dewi mas!" kata Pak Yat dengan tersenyum, kedua orang tua Ratna juga bahagia mendengar kabar tersebut, "anak sini? siapa? kenapa tidak beri tau" tanya Bu Wardhana.
Pak Wardhana menepuk pelan bahu istrinya, "lupa kamu, kan saat mereka tunangan Ayah pergi ke Bali" kata Pak Wardhana mengingatkan.
"Iya, itu anaknya Mas Zubair, si Fathur" jawab Paman.
Hati kecil Ratna sedikit tercubit, mendengar nama Fathur disebut.
Fathur? apa dia orang yang sama dengan seseorang yang memintaku untuk memberikan kesempatan?
.
.
Sudah tiga jam dan Ratna masih setia melihat jalan depan rumah Pamannya, hingga matanya tertuju kepada pasangan yang sedang berbahagia.
Fathur melepaskan tangan Dewi ketika melihat Ratna di depan rumah, Dewi juga terkejut wajahnya pucat "Ratna!".
Fathur dan Dewi menyapa dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan Ratna.
"Wah ini calom suaminya Dewi" kata Pak Wardhana kemudian memeluknya, Fathur hanya tersenyum, beberapa kali dia mencuri-curi pandang kepada Ratna, sedangkan Ratna masih setia dengan kesendiriannya.
__ADS_1