Liburanku

Liburanku
8. Dia.Yang Hancurkan Aku


__ADS_3

Fa'i mencium kepalaku, kami beristirahat untuk kedua kalinya di sebuah warung mie ayam.


"Yang, aku boleh tanya nggak?" tanyaku membuatnya heran, "tentu, tanya apa?" katanya kemudian.


"kenapa sih tadi kamu ngayuh sepeda cepet-cepet? waktu aku ngomong soal rumah tadi itu". "waktu kamu bilang tadi, sebenernya aku nggak lihat rumah, mungkin karena kamu baru datang".


Kok bisa di nggak lihat rumah, padahal kan rumahnya banyak, nggak mungkin kalau cuma halusinsiku aja!.


"Jangan dipikirkan, tenang saja aku selalu ada", aku tersenyum. "oh ya, tolong bawain hpku.


ternyata kamu peduli sama aku!! aku nggak tau apa yang buat aku nyaman sama kamu, kamu selalu bisa buat aku tersenyum, bisa buat aku tertawa.


Pukul lima sore aku smpai di rumah, "ayo masuk!" ajakku, "aku harus pulang sayang, sudah sore apalagi aku harus mandi, dan tunggu aku kalau mau tutup jendela". Dia perfi melambaikan tangan.


Aku masuk dan bersiap menutup jendela, aku menunggunya. Ku lihat Fa'i datang, seoertinya baru selesai mandi, karena sudah berganti baju.


"selamat sore sayang, selamat istirahat!" ucapnya, "Selamat istirahat juga", ku lambaikan tanganku dan aku menutup jendela.


.


.


Kuulihat jam tanganku, ahh sudah jam delapan, sebaiknya aku tidur sekarang, "selamat malam paman, bibi" ucapku kepada mereka, "ayo wi tidur, biar kamu bisa dapat mimpi dari yayang Adnaaaaaan". kataku berbisik pada Dewi.


"Apaan kamu ngomong kaya gitu", aku hanya melihat mukanya, "malu ya ketahuan pacaran? ayo tidur!" ajakku kemudian.


TIT TIT TIT, TIT TIT TIT


Jam tanganku berbunyi, biasanya berbuji kalau sudah jam empat, kuraih tas di sampingku dan berusaha mengambil jam tanganku, kok ada hp, punya siapa?


Aku mengingat-igat siapa yang menitipkan hpnya, ohh ya Fa'i. sebaiknya nanti aku kembalikan, takut ada hal yang penting.

__ADS_1


Jam enam pagi aku minta izin kepada bibi, "Bibi akubizin ke rumahnya Fa'i, mau balikin hpnya yang ketinggal kemarin"


"Iya, langsung pulang ya, jangan kelamaan di sana" jawabnya.


Aku langsung pergi ke rumah Fa'i dan mengetuk pintu rumahnya.


TOK


TOK


TOK


Ibunya keluar, "Oh Ratna, kenpa?", "Maaf bu pagi-pagi sudah ganggu, saya mau mengembalikan hpnya Fa'i yang kemaren dititipkan sama saya", kataku meminta izin.


Ibu menyuruhku masuk, dan menyuruhku masuk saja ke kamarnya, haaah seriusan ni, aku disuruh masuk ke kamarnya?? nggak sopan banget. Aku ada di depan pintu kamar Fa'i, aku melihat ibu mengangguk pelan, "Siapa buk?" tanya ayahnya, "oh, calon mantu kita pak".


Rasanya bagai bunga layu disiram air di pagi hari, suuuuueeegeeeerr banget.


Ku singkap selimutnya kemudian ku lempar hp ke tubuhnya, dia terkejut melihatku di kamarnya, aku keluar, "s-saya pamit bu", kataku dan pergi dari rumah itu.


Hari ini Paman ada acara keluarga, aku memilih tetap di rumah bersama Dewi yang selalu menungguku.


Setelah mereka pergi, aku masuk ke dalam kamar, ku tutup jendela dan menangis sejadi-jadinya.


"Kamu kenapa Rat? cerita sama aku" katanya penuh selidik, aku tidak punya pilihan lain.


Flash Back On


Aku masuk ke kamarnya Fa'i, dia sedang tidur berbalut selimut dan tidak sendiri.


Aku mendekatinya, ku singkap selimutnya sepinggang dengan perlahan, aku menutup mulutku mencoba tidak berteriak, aku menangis melihat Fa'i bertelanjang dan perempuan itu bertelanjang dada, dengan posisi tidur yang berpelukan.

__ADS_1


Ku lempar hp tepat di lengannya, dia kaget melihatku ada di kamarnya.


Aku mengusap air mataku dengan kasar dan mencoba untuk tenang, ku buang nafas kasar dan keluar dari kamar itu, "permisi bu, saya pulang dulu!" kataku tersenyum kepada orang tuanya.


Flash Back Off


"Aku begitu bodoh, memberikan kesempatan ke dua untuknya Wi, dia bawa aku ke atas langit dalam sesaat dan langsung menjatuhkan aku dalam sekejap mata, a-aku. . ." aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku, dan memeluk Dewi, dialah sandaranku saat ini.


"Jangan sedih dan menanhis seperti ini, aku percaya kamu kuat, banyak yang sayang sama kamu, kamu lebih baik dari perempuan itu. Memang dalam hal ini kamu sudah kalah, tapi kamu kalah dengan rasa bangga karena dia tidak mengambil yang berharga darimu, suatu saat akan ada seseorang yang mengubah air mata kepedihanmudengan air mata kebahagiaan". Kata-katanya membangkitkanku yang terpuruk.


Aku memeluknya dengan sangat erat, mungkin dia tidak bisa bernafas saat ini, "Kamu yang paling gerti aku, terima kasih" kataku kemudian.


Aku membuang nafas kasar, aku tau siapa dia, Ani, aku mengingatnya dia perempuan yang menatapku penuh kebencian, dan sekarang berhasil menghancurkan aku.


Aku mengambil baju ganti dan handuk, bersiap untuk mandi karena Dewi sudah selesai, setelah masuk kututup pintu, kuhidupkan kran air, setelah air penuh kupukul air yang ada untuk meluapkan emosiku.


Ku benamkan wajahku ke dalam ember, bayangan mas Andri melintas ku keluarkan lagi wajahku dari dalam air.


apa seperti ini yang kamu rasakan saat itu mas? tanyaku dalam hati.


"Hai rumahku, aku adalah Ratna, orang yang sama tapi berfikir berbeda" gumamku sembari tersenyum.


Aku duduk di ruang tamu, tiduran sambil mendengarkan lagu yang ku suka, karena merasa kurang keras ku sambungkan dengan music box milikku.


Terdengar lagu kilik Heart - Alone yang populer di tahunnya.


Aku menghentikan menekan tombol pause saat ku dengar seseorang memanggilku, aku menoleh ke asal suara, Fa'i?


"Oh, hai, ayo masuk saja, jangan berdiri terus, nanti kram!" celetukku kemudian, Fa'i masuk dan aku ke dpur membuat teh hangat, sedangkan Dewi memilih masuk ke kamar.


"Diminum tehnya!" kataku halus, ku kecilkan volume musikku, dia tidak merespon juga, "Hallluuuw! ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyaku sambil menggerakkan tangan di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2