Liburanku

Liburanku
4. Kenapa Aku??


__ADS_3

Pukul tujuh aku terbangun, bajuku basah karena keringat. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, ku pegang kepalaku yang pusing karena tidak biasa begadang, aku hanya duduk di kamar.


"Halo keponakan paman, kamu sudah bangun!" kata pamanku. Aku masih trauma dengan kejadian kemarin dan juga semalam.


Aku begitu takut meskipun hanya keluar kamar, aku sudah seperti orang gila saja. Dewi memelukku dan menitikkan air matanya, liburan yang seharusnya menyenangkan sekarang mencekam, apalagi keadaanku yang seperti ini, tak berapa lama Adnan dan Faisal datang untuk menemaniku.


Aku sangat lelah, kupejamkan mataku. . .


"JANGAAAAAAAAN!!" Aku berteriak dan terbangun dari mimpi burukku, nafasku tidak teratur, Fa'i memberiku air putih.


Aku menangis di pelukan Dewi, "Jangan tinggalkan aku, aku takut!" kataku lirih. "Jangan takut ada kita di sini" Adnan mencoba menguatkan aku.


Aku tertidur kembali di pelukan Dewi, belum lima menit aku tidur mimpi itu datang kembali, aku terkejut dan terbangun. . .


Itulah yang terjadi. .


"Manis, kamu belum sarapan makan dulu ya!" pinta Fa'i, aku menggeleng pelan, "Aku capek" kataku lirih. Setiap aku terlelap mimpi buruk di rumah kosong itu terus datang tiada hentinya.


Kenapa harus aku yang terjebak di sana? kenapa bukan orang lain!! aku sangat takut.


Paman bertanya bagaimana awal mula aku menjadi seperti ini, Adnan yang menceritakan awal kejadian ketika aku merasa seperti di dorong oleh seseorang di kolam.


Paman pergi ke desa sebelah mengingat di desa tersebut terdapat seorang Kyai yang mengerti dengan hal seperti itu.


Setelah dhzuhur Kyai itu datang ke rumah dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, beliau mengatakan aku banyak yang mengikuti dan menberi saran untuk melakukan doa bersama.


Setelah Isya' warga berkumpul di rumah untuk melakukan doa bersama, aku semakin lelah tubuhku lemas, Bibi memelukku dengan erat, "Pak Kyai?" tanyanya. "Tidak apa-apa sudah tenang, istirahatkan saja di kamar, tapi tetap di temani!" kata Pak Kyai kepada bibi.


Aku terbangun karena haus, kulihat aku sudah berada di kamar.


kok aku di kamar, siapa yang memindahkan aku? kok aku sendiri?. Dewi masuk dan duduk bersamaku, "Sudah merasa baikan?" Tanya Dewi, aku mengangguk dan tersenyum. "Jangan tinggalkan aku!" kataku pelan.


"aku akan tetap di sini, kamu mau apa?", tanyanya kemudian, "aku haus!" Dewi hanya tersenyum, "Isal, Ratna haus tolong ambilkan minum!" teriaknya tidak terlalu kencang, aku memicingkan mata,


Fa'i ada di sini? apa dia ikut do'a bersama? kan beberapa orang udah pulang kenapa dia nggak ikut pulang! gumamku heran.


"Ni aku buatin teh hangat, awas diabet lho, soalnya aku buatnya teh manis!" cetus Fa'i. Ku minum teh hangat buatan tangan Fa'i, "nggak kemanisan kok, terima kasih".

__ADS_1


"beneran nggak kemanisan? soalnya aku tadi kasih gulanya normal, kamunya aja udah manis, pasti kemanisan buat aku!" ucapannya sukses membuatku tersedak.


uhuk, uhuk. "apaan sih, tenggorokanku jadi sakit kan!" omelku yang disambut tawa, "aku seneng kamu sudah bisa tertawa" katanya lagi.


Ini sudah jam sebelas, mataku sudah sangat berat, aku tertidur memeluk Dewi, dan tidak ada lagi mimpi yang menggangguku.


Bibi membuka jendela kamarku saat Sang surya menampakkan dirinya, cahaya yang menerpa wajahku tak ku pedulikan, aku mesih terlalu lelah.


Bibi membangunkanku untuk sarapan, "Rat ayo sarapan!".aku menggeliat dan mencoba membuka mata, "iya, aku mandi dulu Bi".


Setelah selesai mandi aku masuk ke kamar, Bibi datang membawakan sarapanku, huh sarapan? ini sudah hampir jam sepuluh dan ku sebut itu sarapan!! gumamku dalam hati.


Hari ini aku ikut dewi yang pergi dengan teman-temannya, bedanya aku bersama Fa'i, dan Adnan membawa motor sendiri.


Aku berterima kasih kepada Dewi, karena harus merengek di depan kedua orang tuanya agar aku bisa ikut dengannya.


Pertama kami pergi ke taman bunga, meskipun bunganya tidak terlalu banyak, tapi ini menyenangkan. Kami berswa foto, saat aku meminta Fa'i untuk memotretku dia malah mengajakku pergi, "ayo kita cari tempat foto yang lain!" katanya.


Jujur saja aku kecewa, "aku minta maaf Rat, aku cuma ingin kamu tetap seperti ini" kata Fa'i menjelaskan.


Jam tiga sore kami pulang, saat di jalan kami terjebak macet, kami agak menggeser motor karena berada di jalan menanjak lagipula di depan ada truk.


Fa'i yang melihatnya langsung turun dan menarikku, "RAT TRUKNYA MUNDUR", teriak Fa'i, dan aku terjatuh, tapi pengendara motor di sebelah kami tidak sempat menghindar dan


.


.


.


DUUUUAAARRR


.


.


.

__ADS_1


CRRRAAAAKKK


.


.


.


AAAAAAAAAAAA, teriakku saat wajahku terkena cipratan darah korban, aku melihat bagaimana kepalanya hancur, ku lihat tanganku juga penuh darah, aku semakin ketakutan.


"A-AKU MAU PULANG I" teriakku kepada Fa'i, sambil menangis, Fa'i mencoba menghidupkan motor yang terserempet dan berhasil, kami pulang!!


Sesampai di rumah Nenek bersama ibu-ibu yang sedang berkumpul kaget melihat keadaanku dan Fa'i yang pulang dengan wajah dan tangan bersimbah darah, aku berjalan menuju kamar mandi.


Kunyalakan kran air dan duduk dibawahnya, terlihat noda merah mulai pergi, tapi bayangan kecelakaan itu masih ada, aku menangis.


Kenapa harus ku lagi yang menerima ketakutan, harus melihat sesuatu yang mengerikan, aku takut, aku takut.


Lama aku berada di kamar mandi, bibi yang menunggu diluar menjadi kawatir dan menyuruh paman mendobrak pintunya.


.


BRAAAAK


.


Paman dan Bibi masuk, dan aku masih duduk di bawah kran air, paman mematikan kran dan bibi mengangkat wajahku, mereka melihat bibirku yang membiru, dan merasakan tubuhku yang dingin.


Aku terbangun di kamar, ku lihat bajuku sudah ganti, siapa yang mengganti bajuku? Paman?? aaaa tidak, tidak, kan ada Bibi. Dan Bibi masuk tepat waktu, membawa teh hangat untukku, "Bibi, eeem siapa yang mengganti bajuku?" tanyaku dengan rasa tidak sabar, "Hush, jangan berfikir yang aneh-aneh, Bibi yang menggantinya" jawabnya kemudian sambil tersenyum.


Ku dengar Bibi berbicara dengan seseorang, "masuk saja!". Masuk! emangnya ada tamu?. gumamku.


"Hai manis, gimana udah baikan?", aku mengangguk, kupikir ada tamu dari mana, ternyata tamu samping kamarku. "Dewi belum pulan ya?" tanyaku kemudian, "Belum, tadi aku telfon dia katanya masih di jalan!" aku menghela nafas mendengar keterangan Fa'i.


Tanpa ku sadari Fa'i duduk dan menggenggam tanganku, dia belai rambutku. Kami saling menatap, dan dia mendekatkan wajahnya, aku menutup mata, tiba-tiba kuningat pesan Ibu.


Jangan sampai ada siapapun mengambil harta yang masih menjadi tanggung jawab orang tua. Aku membuka mata kunlihat wajahnya sudah sangat dekat.

__ADS_1


Kudorong dadanya agar menjauh, "J-jangan ambil apapun dariku!!!" ku ucapkan kalimat itu dengan bergetar. "keluar" kataku kemudian.


"Rat aku..", "KELUAAAR" teriakku memotong kata-katanya, dan Bibi masuk ke kamar karena mendengar teriakanku.


__ADS_2