
Hoooammmm, sudah pagi, aku bangun dan lekas mandi.
.
.
"Bi Dewi semalam nggak pulang?" tanyaku kepada Bibiku yang baru saja selesai makan. "Hust, kamu ini, ya pulang to! tadi pagi pergi ke warung bawah itu, tapi nggak tau kemana kok beluk pulang! sana kalau kamu mau nyari!" kata Bibi dengan senyum.
"Wee bilang langsung saja, Rat, Dewi belum pulang, sana cari'in!" Paman tertawa melihatku menirukan gaya bicara istrinya, dan Bibi mencubit lenganku, "kamu ini, malah fotokopi gaya orang lain". "Aaa, iya aku cari" kataku sambil tertawa.
Aku keluar dan melihat Dewi, "Kamu dicari'in tu, malah di sini" kataku sambil menarik telinganya pelan.
"Lihat tu, ada turis, tapi nggak tau ngomong apa! coba kamu tanyain!" katanya sambil menunjuk beberapa turis yang kebingungan.
Aku mendekatinya. .Dan terjadi percakapan diantara kami
"Goog morning sir, can i help you?" (Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu). Mereka hanya saling pandang, "Where do you come from?" (Darimana asal anda?)
tourist : "Spain" hanya itu yang dia katakan.
"Ooh Spain!, Te puedo ayudar? (ada yang bisa saya bantu?)
tourist : "sí, mi amigo dijo que hay uno de los mejores jardines de durian! nos puedes mostrar el camino?" (ya, teman saya mengatakan ada salah satu kebun durian yang paling bagus! apakah kamu bisa menunjukkan kepada kami jalannya?)
"Por supuesto, solo siga esta carretera, a unos siete kilómetros encontrará una pancarta que dice (KEBUN DURIAN PAK YAT)" (tentu, tetap ikiti saja jalan ini, sekiar tujuh kilomater anda akan menemui sebuah banner bertuliskan (KEBUN DURIAN PAK YAT)" kataku sambil menuliskan nama kebun paman.
tourist : "gracias señorita!" (terima kasih nona)
"de nada, señor" (Sama-sama tuan) ucapku sambil berjabat tangan dengannya, dan meminta untuk foto bersama!.
Setelah para turis itu pergi, aku melihat orang-orang memperhatikan aku, aku berjalan ke warung di depan rumahku, "Mbak Roh, jus alpukatnya satu ya, nggak pakai es!".
"Iya mbak" kata mbak Roh, "Cie, pinter juga kamu, darimana sih mereka?" tanya Dewi, "Spanyol" jawabku singkat.
"Kamu lagi dibicarain sama orang-orang itu, berasa nggak?" tanyanya kemuian, "alah biarin, aku nggak berniat apa-apa, cuma membantu merwka yang membutuhkan informasi".
__ADS_1
Semenjak aku ke sini, jadian sama Faisal, sampai sekarang juga mereka selelu mencibirku, cuma jadi kambing hitam.
"Biarin aja mbak, emang mereka nggak suka apalagi waktu tau mbak Ratna pacaran sama mas Faisal, kan bencinya tambah, semua juga tau kalau sekaran sudah putus, tapi tetap di cibir juga". Kata mbak Roh kepadaku.
Aku akui, pemilik warung yang satu ini memang nggak suka mencibir orang kalau tidak ada buktinya.
"emm ajarin bahasa inggris dong!" kata Dewi. "Nooo" kataku sambil memutar bola mataku, kemudian aku menarik nafas panjang dan berkata, "Kamu kan bisa bahasa Inggris, cuma kamu nggak percaya diri aja!".
Aku segera menghabiskan minumanku, "Jusnya berapa mbak?". "Tiga ribu mbak". Aku memberikan uangnya dan pulang.
Aku berkumpul bersama keluarga keduaku! "Wah sepertinya anak paman yang satu ini pandai ya!" kata paman sambil bertepuk tangan, "Paman jangan begitu ah! biasa lagi".
"emm paman, aku mau tanya, ibunya bangkit kok seperti nggak suka sama aku, padahal sebelun tau kalau aku keponakan paman dia biasa-biasa aja lho! apa dulu keluarga kita sama keluarga mereka berselisih?" tanyaku dengan hati-hati.
Flash Back On
Bapak Rumi adalah juragan tanah di sini, sedangkan ibunya sudah meninggal saat dia masih kecil, dia menikah dengan laki-laki yang bernama Amin, mereka hidup bahagia apalagi ketika Bangkit lahir, dia menambah kebahagiaan di keluarga besarnya.
Namun tidak lama setelah itu bapaknya sakit-sakitan dan meninggal setelah tiga bulan sakit keras. Sejak kepergian bapaknya Amin sering menjual ladang tanpa sepengetahua Rumi.
Amin \=> Yat, kamu mau beli ladang tidak, aku lepas satu nih, sembilan juta.
Paman \=> Kok dijual Min, nggak ditanami apa dulu, sekarang aku pinjami uang saja!
Amin \=> Ah enggak, kamu beli saja! mqu nggak?
Paman \=> ya sudah besok aku kasih uangnya! besok aku ke rumahmu!
Amin \=> Besok aku yang ke rumahmu saja, lama nggak jalan-jalan sampai sana!
Paman \=> Rumi tau kamu jual tanah?
Amin \=> Inikan tanahnya dia, ya pasti tau lah!
Keesokan harinya Amin menemui Paman di rumah, dan paman memberikan uangnya, sertifikat tanah juga sudah paman pegang dan itu asli.
__ADS_1
Setiap kali Amin butuh uang, dia selalu datang kepada Paman untuk jual tanahnya, sampai suatu saat tanahnya habis.
Rumi datang ke rumah Paman mencari Amin yang katanya sudah satu minggu tidak pulang.
Rumi \=> Mas yat, Mas Amin ke sini tidak? sudah satu minggu Mas Amin tidak pulang!
Paman \=> Saya nggak tau Rum, soalnya sekitar empat bulan setelah Amin jual tanahnya ke saya dia nggak ke sini lagi
Rumi \=> Jual tanahnya siapa? punyaku? tanahku nggak ada yang aku jual Mas.
Paman \=> Lha Amin sendiri bilang lagi butuh uang dia juga bilang sudah bilang sama kamu!
Rumi \=> Aku nggak akan jual tanahku!
Rumi menangis dan pulang ke rumah, Paman langsung ke rumah Kakaknya Bibimu Paman Agus, Pak An sama Pak Dar, karena mereka jadi saksi saat transaksi.
Keesokan harinya Rumi datang lagi sambil marah-marah, semua warga saksi juga paman datangkan, kan paman yang menang, Paman pikir semuanya sudah selesai ternyata tidak.
Rumi masih datang dan selalu memaki-maki keluarga kita, ketika itu ada Pamanmu Agus, dia memakinya, mungkin karena itu Rumi jadi benci sama keluarga kita.
Begitulah cerita sebenarnya.
Flash Back Off
Jadi sebenarnya yang salah suaminya sendiri, bukan keluargaku,
"Terus Pak Amin gimana paman? apa sampai sekatang dia tidak kembali?" tanyaku kepada Paman
"Paman juga tidak tau, sekarang dia masih hidup atau tidak Paman juga tidak tau!" Paman menjawab dengan berat hati.
Aku mengerti mau bagaimanapun juga Pak Amin tetap temannya Paman, semua orang juga tau kenyataan itu.
"Hari ini kamu mau pergi kemana?" tanya Paman kepadaku, akupun tersentak karena belum punya tempat yang akan aku tuju, "Aku juga belum tau Paman!" jawabku.
"Bagaimana kalau kamu pergi ke taman di dekat pasar sana itu!, biasanya suka ada turis, siapa tau kamu bisa dapat teman baru, soalnya hari ini aku mau pergi lagi sama Adnan" celetuknya sambil mengejek.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir benar juga, daripada aku ada di rumah nggak tau mau ngapain, lebih baik cari foto, lagian aku ikut les beberap bahasa asing juga.