Liburanku

Liburanku
Hari Yang Dinantikan


__ADS_3

Aku bangun pagi hari dan mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada Windi.


Ratna \=> Win kita ke pasar jam berapa?


Windi \=> Jam delapan saja! Jadi nggak berdesakan sama yang lain! Coba deh kamu tanya Fathur sudah berangkat belum!


Ratna \=> Eh busyet, ini jam enam pagi, masa udah berangkat aja!


Windi \=> makanya kamu tanya!


Ratna \=> Okelah


Aku mengirim pesan kepada Fathur


Ratna \=> Kamu mau berangkat jam berapa?


Fathur \=> Berangkat kemana?


Ratna \=> Mancing!


Fathur \=> Ini aku udah di sungai sama anak-anak


Ratna \=> oh oke!


Fathur \=> Kok cuma gitu doang!! Nggak ada perhatiannya


Ratna \=> NGAREP LOH


Fathur \=> 💔💔💔


Apaan sih ni anak!!


Tanpa terasa aku tersenyum melihat pesan yang di kirim Fathur, ahh apaan sih, kok jadi stres sendiri, sadar sadar!!


Aku mengambil handuk dan baju ganti, "Bi Dewi sudah mandi?", tanyaku kepada Bibi yang berada di dapur, "sudah, sana sekarang kamu mandi terus sarapan!" kata bibi, "Iya Bibiku!"

__ADS_1


Setelah mandi aku sarapan dengan sayur sop, "Bi setelah ini aku mau ke pasar sama anak-anak, boleh nggak?", kataku meminta ijin.


Bibi sedikit ragu, "ke pasar? sama yang lain? pasti capek Rat!", Buibi bersi keras tidak mengijinkan aku, "Bu, sama aku juga, nggak lama kok soalnya cuma cari bumbu terus langsung pulang!" kata Dewi mencoba membujuk Bibi, "ya sudahnboleh, tapi jangan terlalu capek" kata Bibi, "iya Bi, aku janji!" kata ku dengan semangat.


Aku dan Dewi keluar mebawa sepeda motor, ternyata Erna dan Windi sudah menunggu, "maaf ya kalian harus menunggu!" kataku kepada mereka berdua, "kita juga baru datang, ayo berangkat!" kata Erna, kamipun berangkat ke pasar.


Hampir dua jam kami berputar-putar di pasar karena tidak pernah ke pasar untuk beli bahan dapur.


.


.


Aku mendekati penjual dawet dan memesan empat gelas, "Ayo pulang! Kita sudah dapat semuanya!" kata Erna sambil menenteng plastik, "eh aku sudah pesan dawet, diminum dulu!" kataku kepada Erna Windi dan Dewi untuk beristirahat terlebih dahulu.


"Kalian ini pergi ke pasar buat beli bumbu apa piknik? lama!" kata Siti yang sudah menunggu sejak tadi, "maaf tadi kita sempat bingung yang jualan di sebelah mana!" kataku, setelah itu kami membagi tugas, aku dan Dewi mengupas bawang merah dan bawng putih dan mengirisnya, sedangkan Erna, Windi dan Siti menyiapkan yang lainnya.


"Sudah jam dua belas nih, kok mereka belum pulang juga!" kataku kepada yang lain, "apa mereka dikejar aniingbyang kemarin terus nyasar?" ucap Dewi, Aku hanya melihatnya, "nggak mungkin lagi!" kataku sambil mendorong pelan lengannya.


"Coba deh Rat tanya Fathur" kata Dewi sambil tersenyum, "kok aku sih! kalian aja kenapa!" kataku, "Rat Fathur itu naksir kamu tau!" tambah Erna.


Aku menelfonnya, aku mendengar nada sambungnya.


Bunga terakhir


Kupersembahkan kepada yang terindah


Sbagai satu tanda cinta untuknya


tuuut, tuuut, tuuut


"malah dimatiin!" kataku kepada Erna, sedangkan yang ku ajak bicara hanya mengangkat bahu, aku mengirin pesan


Ratna \=> Kamu dimana, sudah jam dua belas nih!


Fathur \=> Aku lagi jalan 😘

__ADS_1


Ratna \=> Apaan sih dasar 🐊


Fathur \=> Lagi-lagi 💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Ku matikan ponselku, Erna,Windi dan Dewi hanya melihat mukaku yang ditekuk.


"hallo, maaf ya baru datang, nih ikannya! banyak dan besar, sebesar cintaku sama kamu Rat!" kata Fathur dengan santainya, aku melihatnya ku dekatkan tanganku ke wajahnya, cetaak, "makan itu jitakanku!" kataku masuk ke rumah Erna, sementara yang lain tertawa.


"Emm dulu kalian deket sama Fa'i dan Adnan!", tanyaku hati-hati, Erna menghela nafas, "ya dulu deket, tapi sudah beberapa tahun terakhir enggak, sekatang tau dia kaya gitu malah ogah lagi kita!".


"emm kalau kita kasih sebagian masakan kita gimana! ya kan nggak enak juga rumah kita bersebelahan kokbkelihatan nggak akur banget!" kataku memberi pendapat, "iya tu, nggak enak juga kan kita" kata Fathur.


Jam tiga sore kami selesai dengan masakan kami, Erna memberikan mangkuk berisi ikan yang sdah dimasak ke rumah Faisal dan Adnan, kami makan bersama-sama.


Ponselku berdering menandakan ada pesan yang masuk.


Fathur \=> wah masakan calon istri luar biasa eneknya!


Ratna \=> 📵


Kulihat Fathur yang tersenyum sendiri, "Kamu sehat Thur?" tanya Wawan sambil memegang keningnya, "aku selalu baik-baik saja!" katanya sambil melihatku.


Setelah makan para perempuan mencuci piring, tiba-tiba kurasakan nyeri di dadaku, "Wi". Dewi melihatku menahan sakit, "Rat, kamu kenapa?" tanyanya, "Aku lupa nggak minum obat tadi siang!".


Dewi berlari ke rumah mengambil obat, sementara aku duduk di kursi dapur ditemani Erna, "jangan bilang-bilang!" kataku saat Windi beranjak keluar, dia hanya mengangguk.


Dewi datang membawa obatku, "kamu istirahat dulu!" kata Erna, aku mengangguk. Tidak sampai satu jam rasa sakit itu hilang, untung tidak lama, cerobohnya aku sampai lupa meminum obat.


Aku keluar berkumpul bersama yang lain, Erna melihatku dan mengangkat kedua alisnya, aku mengangguk memberi isyarat bahwa aku sudah lebih baik.


"Besok kita kemana lagi?" tanya Wawan, lagi-lagi kami berfikir keras mencari aktivitas yang menyenangkan, "jalan-jalan? nanti Ratna dikejar anjing lagi" kata Wawan sbil tertawa, "apaan sih kamu!" kataku.


"Ayo kita uju nyali" kata Fathur dengan sangat percaya diri, "jelas aku paling takut lah", kataku sambil menggigit bibir bawahku, "AYO KITA BUAT LOTIS" teriak Windi, "nggak usah teriak bisa enggak? kita masih bisa dengar lho!" kataku ketus.


Fathur berkata dengan semangat, "Ok, kita bagi tugas sekarang, Windi bawa gula merah, sama cabai, Wawan bawa mangga dan pepaya, Erna bawa asam sama bengkoang, aku bawa jambu air sama melon, itu aja", kata wawan sambil melipat tanfan di depan dada.

__ADS_1


"Kamu yakin kita berdua nggak bawa apa-apa?" tanyaku sambil melihat Dewi, "kita buatnya di rumah kalian! jadi kalian sediain tempat buah, pisau, cobek sama minumnya". "Tau segitu banyak tadi aku nggak usah nanya!" cetusku membuat Fathur tertawa.


__ADS_2