
Aku membuka mata dengan malas, ku ambil jam tanganku, "ahh jam delapan" aku buru-buru mengambil handuk dan baju ganti kemudian berlari ke kamar mandi.
"Hari libur masih harus buru-buru Rat?" tanya Paman di iringi tawa Bibi, "Haisss aku kan berniat mau keliling naik sepeda Paman, o ya Dewi di mana?" tanyaku dari dalam kamar mandi.
"Dia sudah turun ke warungnya mbak Roh" kata Bibi, "cepetan makan dan minum obatnya!" tambah Paman.
Segar sekali rasanya, aku keluar dari kamar mandi, mengambil sisir, kemudian sarapan.
Aku keluar menuju warung mbak Roh, di sana sudah ada Dewi dan beberapa anak lain, "Eh Ratna! kok baru kelihatan?" aku tersenyum, "iya, kesiangan nih!" jawabku, "tumben pagi-pagi buta sudah nongkrong disini" tambahku saat ku tau warung Mbak Roh sudah penuh.
Kok aku seperti pernah dengar suaranya? Aku berbalik agar tau siapa yang berbicara.
Me \=> Helen? what are you doing here? where is Daniel? (Helen? apa yang kamu lakukan disini? dimana Daniel?)
Helen \=> Hi Ratna, he's there! was asking the way to the Durian Garden. (Hai Ratna, dia disana! sedang bertanya jalan ke kebun durian).
Me \=> I know the place, my sister and i will take you there!. (Aku tau tempatnya, aku dan saudaraku akan mengantar kalian kesana).
Helen \=> Thank you Ratna, but we can go there ourselves, after all we bring vehicles. (Terima kasih Ratna, tapi kami bisa kesana sendiri, lagipula kami membawa kendaraan).
"PAMAAAN" aku berteriak ketika melihat Paman yang akan berangkat ke kebun dengan sepeda motornya, "kenapa? mau ikut? nggak takut mati rasa lagi" tanya paman sambil tertawa.
"Enggak, itu mereka berdua temen aku, mau ke kebun durian!" kataku sambil menaikkan alis berkali-kali. "Oh iya!" Paman menjawab dengan singkat padat dan jelas.
Me \=> You just follow that person, he's the owner of the biggest durian garden here. (kamu cukup mengikuti orang itu, dia adalah pemilik kebun durian terbesar disini).
Helen \=> is it true? thank you very much Ratna. (Benarkah? terima kasih banyak Ratna).
Me \=> 👌
Kemudian Helan menghampiri suaminya dan pergi mengikuti Paman, saat lewat di depanku mereka melambaikan tangan dan mengucapkan "see you". "see you too" kataku sambil tersenyum.
Aku berbalik ke tempat dudukku, saat aku menyadari semua orang sedang melihatku, "apa kalian melihat hantu di belakangku?"tanyaku sambil duduk dan memalingkan wajah, agar mereka tau aku tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Aku nggak nyangka kamu pandai ngomong Bahasa Inggris!" kata Wawan sambil bertepuk tangan, dan mereka yang ada di warung Mbak Roh juga ikut bertepuk tangan.
__ADS_1
"Kalian aja yang nggak tau, soalnya sudah kemakan hasutan orang yang benci sama keluarga kita!" kata Dewi sinis, "Iya, iya kita tau kok kita juga salah, maafin kesalahan kita semua ya Wi, Rat!" Raka mewakili anak-anak untuk meminta maaf.
"Sudahlah, itukan kemarin, lagian aku juga sudah lupain semuanya kok!" kataku sambil tersenyum dan berjabat tangan dengan mereka satu persatu, "nggak usah lihatin mereka Rat!" kata Rafif yang mengetahui kalau aku memperhatikan orang tua Fa'i yanh sesang melihatku dengan tatapan benci.
Akhirnya mereka sudah tudak salah faham lagi dengan keluargaku.
"Ayo jalan-jalan! ke hutan pinus!" ajak Fathur, mereka tersenyum lebar mendengar kata "Hutan Pinus", "Hutan?" kataku agak ragu.
"Sebenarnya cuma ladang, tapi karena besar jadi kita sebut hutan!" kata Rafif menjelaskan, "O ok!" kataku sambil berdiri.
Kami berjalan kaki di jalan tanah, beruntung bukan musim hujan jadi jalannya kering dan tidak licin.
Pantas disebut Hutan, memang yang dilihat cuma pohon pinus ini doang. Aku menghentikan langkahku, "berhenti deh, kalian denger nggak?".
.
GUK GUK GUK
.
GUK GUK GUK
.
.
GUKGUK GUK
.
GUK GUK GUK
.
"Aaaaaa" aku berteriak karena Yudi dan yang lain meninggalkanku.
__ADS_1
Tidak lama kemudian aku berhasil keluar dari Hutan Pinus itu, dan ku ambil batu di tepi jalan dan ku lemparkan ke arah anjing itu hingga melihatnya pergi.
Aku melihat yang lain sudah lari sangat jauh.
"Shiiiiiiit, awas nanti ya kalau aku sudah sampai sana! aku akan balas kalian!!" aku seperti orang gila karena berjalan sambil marah-marah, "DEWIII, BERANINYA KAMU NINGGALIN AKU!" teriakku sambil menendangi ilalang yang tumbuh dipinggir jalan.
Aku sampai di warungnya Mbak Roh, ku lihat semua anak sudah disana, "bagus kalian ya, seenak jidat ninggalin aku sendirian, sekarang enak-enakan makan disini!" kataku sambil melipat tangan di depan dada, mereka hanya saling pandang seperti tidak punya dosa sudah ninggalin aku.
"Mbak, jus alpukat dua sama soto ya, sayurnya banyakin dan nggak pake nasi hehe!" setelah memesan aku duduk di kursi berseberangan dengan Dewi yang sedang makan, aku mengambil kerupuk dan memakan tempee goreng yang masih panas.
Pesanan yang kuminta datang, "kamu yakin minum dua gelas Rat?" tanya Mbak Roh, "ya bener to mbak!" kataku dengan tersenyum. Lihat saja gantian aku kerjain kalian.
.
.
Aku selesai dengan makan dan minumku, "Mbak, jus dua, soto, krupuk dua, tempe gorengnya dua, jadinya berapa?" tanyaku kepada Mbak Roh, "empat belas ribu Rat!" kata Mbak Roh sambil tersenyum.
Aku tersenyum, "Mbak Roh, barusan aku dikejar anjing dan mereka semua ninggalin aku!, jadiiiii empat belas ribunya mereka yang bayar ya mbak!" kataku sambil menunjuk anak-anak yang sedang makan dengan lahapnya.
Aku tertawa penuh kemenangan, "terima kasih kawan-kawanku karena ninggalin aku sendirian dan rasain bayar tu empat belas ribu!". Setelah itu aku pergi, aku berbalik dan melihat mereka yang sedang tertawa.
"RAT NANTI KITA KE RUMAH!" teriak Fathur, "OKE!" teriakku tidak kalah keras darinya.
Sampai di rumah aku masuk ke kamar meminum obatku terlebih dahulu kemudian aku mengambil handuk dan baju ganti, huft gara-gara dikejar anjing aku jadi capek, panas lagi. Setelah mandi aku tiduran di kamar sambil memutar mp3 di ponselku, dan tanpa terasa aku tertidur.
.
Aku merasakan seseorang mengusap kepalaku, "ayo bangun, sudah hampir maghrib", kata Bibi membangunkan aku, "Iya Bi" aku bangun dengan perlahan dan duduk sebentar, itu adalah saran dari dokter agar organku tidak terkejut dengan tindakan fisikku.
Aku keluar kamar, kulihat Paman dan Dewi sedang menonton TV, "Paman bagaimana tadi? mereka beli apa cuma lihat-lihat?" tanyaku kepada Paman saat ku ingat Daniel dan Helen. "Mereka beli yang kecil sebiji, tadinya mau beli dua, tapi Paman takut soalnya orang yang datang kemarin mual-mual waktu mencium aromanya!" aku mengangguk saja mendengar penjelasan Paman.
"Hari kamu menyengkan?" pertanyaan Paman membuat Dewi tersedak, uhuk uhuk. "Kamu kenapa Wi?" tanya Paman, Dewi hanya menggeleng pelan, "hariku menyenangkan Paman, kapan sih kita nggak senang! iyakan Wi", kataku sambil merangkul saudara sekaligus sahabatku ini.
Paman tersenyum kemudian masuk, "Makasih ya kamu nggak bilang kalau aku ninggalin kamu! kalau Bapak tau aku pasti dimarahin!" kata Dewi sambil memelukku, "apaan sih, tadi itu menyenangkan tau nggak! sejak aku sakit, aku belum pernah lari kaya tadi, dan itu menyenagkan!" kataku sambil mendorong bahunya.
__ADS_1