
Faisal masih mengemudikan mobil dengan hati-hati, "denger deh, ada suara musik!" kata Felli, Ratna mencoba menangkap suara yang dimaksud oleh Felli, "eh iya mbak! kamu dengar enggak Sal?" Ratna bertanya kepada Faisal yang hanya diam.
Ratna melihat gurat ketakutan di wajah Faisal, "Sal, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ratna, Faisal hanya menganggukkan kepalanya.
Dalam hati Faisal
Rat apa kamu tau aku begitu ketakutan! berlari sendiripun aku takut, apalagi sebagai laki-laki aku harus melindungi kalian bertiga!.
Faisal menyipitkan matanya karena melihat sesuatu, "An, kita sudah dekat sama desa?" Ana menggeleng pelan, "aku nggak tau Sal! memangnya kenapa?" tanya Ana.
Ratna menjadi pensaran dengan yang dibicarakan kedua temannya, "kalian ngomongin apaan sih! jangan buat kita berdua kepo ya!" ucap Ratna.
Faisal menghentikan laju mobilnya, "lihat deh! di depan itu cahaya apa? terang banget, seperti ada perayaan" kata Faisal, Ratna menajamkan penglihatannya, "coba jalan aja! siapa tau kita sampai jalan aspal!" kata Ratna.
Faisal ragu untuk melaju, "ayo! kita nggak akan kenapa-kenapa!" kata Ana meyakinkan Faisal.
.
.
Mobil yang kami naiki sampai di tempat terang yang disebutkan Faisal tadi, wajah kami memucat melihat tempat tersebut.
Tangan Ratna gemetar begitupun dengan Felli yang sedari tadi menggenggam tangannya, "mb-mbak An, ma-mata dan telingaku mengatakan sesuatu yang berbeda mbak" ucap Ratna lirih.
__ADS_1
"I-iya An, ma-mata kita mengatakan tempat ini kosong! tapi telinga kita mendengar keramaian!" kata Felli, sedangkan Ana dan Faisal juga merasakan ketakutan yang sama.
Dalam hati Ana
Tuhan, apa yang ingin kau tunjukkan kepada kami? tak bisakah kau lihat ketakutan yang kami rasakan?.
.
.
Faisal merasakan mobilnya tidakbberes, dan benar saja mobilnya mogok, "R-rat, kok mo-mobilnya nggak nyala?" tanya Faisal terbata-bata, "m-mobilnya S-sering di c-cek kok! a-apalagi ini mobi yang dipakai kakak!" kata Ratna.
Tiba-tiba beberapa pohon pisang di kiri dan kanan jalan bergerak, seoerti ada seseorang yang menggerakkannya, "mb-mbak, ini kenapa lagi mbak?" kata Ratna yang ketakutan, Felli memeluk Ratna dan menutup matanya.
Faisal masih mencoba menyalakan mobilnya, Ya Allah lindungilah kami semua! jangan biarkan mereka mengganggu kami lagi. kata Faisal dalam hati.
.
.
Lebih dari dua jam mereka menciba keluar dari tempat menyeramkan itu, "Rat, ini jalan aspal Rat! kita sampai di jalan aspal!" kata Faisal tersenyum bahagia, mereka menghembuskan nafas lega karena mencapai jalan yang mereka cari.
Ratna melihat sekelilingnya, sepertinya aku nggak asing dengan tempat ini, aku pernah ke sini deh! oh iya saat aku pergi dengan Bangkit!, gumam Ratna.
__ADS_1
"Bukannya tempat ini beda jalur sama kebun ya?" tanya Ratna, Faisal, Ana dan Felli memperhatikan dengan saksama, "kok kaya iya ya!" ucap Ana.
.
Tok, tok, tok
.
"Aaaaaaa" Ratna berteriak karena terkejut.
Ada seorang bapak-bapak yang mencoba melihat ke dalam mobil, "Mbak! Mas! ada orang nggak di dalam!" kata bapak tersebut.
"Buka saja Sal! mungkin dia khawatir!" kata Ana, Faisal membuka kaca mobilnya, "oh, saya kira nggak ada orang, kalian kenapa malam-malam di sini?" tanya bapak tersebut.
Faisal keluar dari mobil, "kami tersesat pak!", Bapak itu tersenyum, "cepat pulang! tidak baik malam-malam masih di sini" ucapnya.
Faisal menganggukkan kepalanya dan meninggalkan orang tersebut.
.
.
Ratna menghela nafasnya, "begitulah ceritanya Papa!" ucap Ratna, Pak Wardhana memeluk Ratna yang menangis, "jangan menangis sayang! kamu sudah pulang, jangan menangis lagi!" kata Pak Wardhana.
__ADS_1
Bu Lanny keluar dari dapur membawakan teh hangat untuk Ratna dan para pegawai yang ikut mencari Ratna dan yang lain, "sebaiknya kalian tidur di sini saja, saya takut nanti malah kalian mendapat gangguan dari hal-hal seperti itu!" ucap Bu Lanny.
Akhirnya mereka tidur di ruang keluarga bersama-sama, dan Ratna sendiri memilih ikut bergabung karena takut untuk tidur seorang diri.