Liburanku

Liburanku
12. Tetap Kuat


__ADS_3

Aku terseyum melihat laki-laki ini menjadi salah tinfkah di depanku, "Ayo beli mie ayam" bisikku di telinganya.


"Aku nggak lapar, kamu saja!", "Ayolah, kita sudah jalan jauh lho, lagian rumah juga masih di saaaaaaaaaanaaaaaaa!" ucapku sambil merentangkan tanganku di depannya.


"Oke lah, ayo!" tanpa sadar Bangkit menggandeng tanganku, "maaf aku..." dia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Nggak pa-pa, ayo!" seruku sambil mengeratkan pegangan tanganku di lengannya.


Kami sampai di warung mie ayam, kulihat bangkit yang menitikkan air mata, "kenapa? kamu sakit?", bangkit hanya menggeleng pelan, ku genggam tangannya, "ayolah cerita aja!".


"aku hanya teringat ibu" katanya pelan, "rumah kamu searah kan, kita mampir ke rumah!". Pesanan kami datang, dan kami mulai makan.


Aku mengeluarkan hp mengirim pesan kepada Paman


Ratna \=> Paman, Bangkit punya adik nggak sih?


My Uncle \=> Punya 2 laki-laki sama perempuan, kenapa?


Ratna \=> Kita lagi di warung, makan mie ayam, mungkin aku mampir ke rumahnya dulu!


My Uncle \=> Jangan terlalu lama lho!!


Ratna \=> Oke paman!!!!!!


Aku masuk ke dalam untuk memesan minuman yang lupa ku pesan tadi, sekalian memesan tiga bakso untuk ibu dan adiknya bangkit.


Kami sudah masuk ke perkampungan, "kita ke rumah kamu dulu lho!" kataku mengingatkan, "iya, lewat sini" katanya sambil mengulurkan tangannya karena jalan yang akan kami lewati cukup licin.


Aku menyambut tangannya, "Pematang sawah? nggak ada jalan lain ya?" tanyaku penuh harap, Bangkit menggeleng pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku belum pernah berjalan di pematang sawah, ataupun dijalan yang terbuat dari tanah, ini adalah pertama kalinya.


Bangkit berjalan di depan sambil membawa plastik bakso, aku berusaha keras berjalan di jalan seperti ini, selalu terpeleset, haduuuh.


ini jalan susah banget dilewati, kenapa juga nggak buat rumah yang deket jalan aja sih, mana celanaku penuh lumpur.


Aku bisa melihat beberapa rumah, salah satunya rumah yang ditempati bangkit, "rumah kamu yang mana?" tanyaku, dia menunjuk sebuah rumah sederhana, ada dua anak kecil yang sedang bermain, di depan rumah itu ada beberapa ibu yang sedang berkumpul.


"Mas bangkit pulang!!" kata salah satu anak itu sambil berlari ke dalam rumah.


"Permisi bu!" katake kepada beberapa ibu yang sedang duduk, mereka tidak ada yang menjawab, perasaan aku baru pertama di sini, responnya negatif banget.


"Biarin aja, mereka bukan nggak suka sama kamu, mereka mencibir karena kamu datengnya sama aku!" kata bangkit sambil meletakkan teh di meja.


ini foto anak itu, jadi dia benar-benar anak itu!! aku tersenyum. "Terima kasih mbak, sudah beli'in bakso!" kata dua anak kecil yang tiba-tiba memeluk kakiku dan pergi begitu saja.


Aku terrawa melihat mereka memakan baksonya masing-masing, "Ibu kamu sedang istirahat?" tanyaku kepada bangkit yang baru keluar dari kamar mandi.


Cukup lama aku berada di sana, "ayo pulang ini sudah sore!", aku mengangguk pelan.


Kami melewati jalan yang berbeda, tapi masih terbuat dari tanah, hanya ada pohon besar di kanan dan kiri, "Di sini nggak ada hewan buasnya kan?" tanyaku saat merasakan takut, "nggak ada lah!" jawabnya sambil tersenyum.


"o iya, nanti ada kesenian di sebelah desaku, mau nonton?" tanyanya kepadaku, "Malem? aku takut pulang sendiri mana gelap lagi". "Nanti aku anter, sama Dewi.


Dewi pasti pergi sama Adnan, lebih baik ikutlah, lagian Bangkit juga mau nganter.


"Okelah, tapi ijin Paman sama Bibi!" kataku memberi persetujuan, "iya aku tau".


Aku melihat jalan beraspal di depanku, dan aku berhenti melangkahkan kakiku di jalan aspal, "Ayo! kita sudah sampai rumah kamu!". katanya sambil tertawa melihatku seperti orang bodoh.

__ADS_1


Jadi ini jalan tembus sampai depan rumah.


Aku berjalan pelan, ketika masuk aku melihat Fa'i sudah ada di sana, "Rat nanti malam nonton kesenian, mau nggak?" tanyanya, ni anak to the point banget, aku aja baru masuk!.


"Sorry I, tapi aku udah janji sama Bangkit buat nonton!" kataku kemudian, ku lihat wajahnya memerah dan langsung pergi tanpa permisi, saat melewati Bangkit dia mendorongnya.


"Masuk dulu, jangan ladeni orang kaya gitu!". "Kamu sama Fa'i itu kenapa Rat? emang pacaran selalu ribut!" kata Bibi itu sukses membuatku tersedak,


uhuuk, uhuuk, Bngkit melihatku, aku terpaksa cerita sama Bibi, "Sebenarnya aku sama Fa'i udah putus beberapa hari lalu Bi, waktu pagi-pagi aku ke rumah dia buat balikin hp, aku lihat dia tidur sama mantan pacarnya yang desanya deket masjid tepi jalan bawah itu!" Kataku menjelaskan,


"Darimana kamu tau itu mantan pacar dia?". "Ya orangnya sendiri yang bilang!" kataku sambil cemberut agar bibi menyudahi pembicaraan itu.


"Bu, nanti malam saya mau ajak Ratna nonton kesenian di kampung sebelah, apa boleh?" tanya Bangkit dengan sopan, "Kalau mau nonton boleh-boleh saja, tapi hati-hati, kamu harus bawa Ratna sampai di rumah!" jelas Bibi.


Aku bahagia karena Bibi mengijinkan aku pergi, meskipun aku agak kawatir, karena malam hari, lagi pula hanya berdua dengan Bangkit.


Srtelah minta ijin, bangkit pulang, dan akan menjemputku setelah isya'. Tak lama kemudian Dewi pulang.


"Jadi gimana? apa kamu mati rasa karena bau durian?" tanyanya mengejekku, "o enggak, aku baik-baik saja, ayo nonton kesenian di kampung sebelah!" ajakku kepada Dewi.


"Owh honey! aku akan pergi nonton dengan Adnan! kamu bisa jadi obat nyamuk!" katanya dengan wajah berbinar.


"cih!!" aku mengambil handuk dan pakaian ganti, saat sampai di pintu aku berbali dan berbisik, "Bukankah lebih baik pergi sama Bangkit!!!", setelah mngucapkan itu aku berlari keluar, ku lihat wajah terkejutnya saat melewati pintu.


Haaaah Ratna, kamu seperti pohon pisang!! Faisal pergi, ada Bangkit yang menemani, be strong untuk diriku sendiri. Jangan pernah kalah dari dirimu sendiri. Lawan penyakit yang akan menumbangkanmu!!!.


Itulah kalimat yang selalu aku ingat untuk tetap kuat dan tegar, "AKU TIDAK AKAN TUMBANG DENGAN MUDAH!" aku berteriak dengan keras hingga Paman, Bibi dan Dewi berlari ke kamar mandi.


"Rat kamu kenapa Rat?" tanya Dewi dari balik pintu, "Oh aku nggak apa-apa, cuma mau teriak aja!" jawabku sekenanya.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa bilang Paman sama Bibi ya!" timpal paman yang selalu kawatir kepadaku. "Iya Paman!" jawabku.


__ADS_2