
"kenapa nduk? kok teriak-teriak!" tanya bibi dengan cemas. "a-aku nggak pa-pa bi", aku terpaksa berbohong, kemudian bibi pergi meninggalkanku.
Aku melangkah mundur saat Fa'i mendekaat, "tolong keluar, jangan buat aku tambah emosi" kataku perlahan. "Rat maafin aku!", aku tidak tau perkataan itu tulus atau tidak, "keluar!! aku nggak mau ketemu kamu!! aku beci kamu!".
Dia keluar dari kamarku, aku menitikkan air mata seperti tak rela dia meninggalkanku, please Rat jangan tangisi dia!! kamu hampir saja kehilangan sesuatu yang berharga.
Ku hapus air mataku dengan kasar, dan lagi-lagi kurasakan sakit yang sudah berttahun-tauhun ku rasakan. Dimana tasku? obatku? tak ada air.
Kupegang dadaku, aku ingin keluar tapi organku tidak bisa diajak kompromi, terasa sangat sakit. terduduk lemas dan tak berdaya.
Aku merintih, ingin ku panggil paman dan bibi namun bibirku tak mampu mengucapkan dengan keras, aku mengingatnya kejadian yang sama.
Fash Back On
uhh bau obat, namun mataku tetap terpejam, ku dengar seseorang sedang berbicara.
"dia harus dirawat bu, agar kondisinya membaik, kami akan berusaha sebaik mungkin". tidak kudengar jawaban apapun yang kudengar suara tangisan.
"Sabar buk, kita harus lebih kuat dari anak kita"
Siapa yang menangis? siapa yang berbicara tadi, kenapa susah untuk membuka mataku. siapa yang mereka bicarakan? dan siapa yang mereka tangisi? siapa yang kuat? apakah itu aku??
Flash Back Off
Aku masih bertanya sampai sekarang, kurasakan jantungku melemah, bibi yang baru masuk kamar terkejut. "PAK RATNA PAK!" teriaknya berlari keluar rumah.
Paman berlari bersama beberapa tetangga yang juga panik.
Aku melihat paman menghubungi seseorang, samar-samar kudengar bibi memanggilku, bola mataku mencarinya, dan aku menemukannya, ku lihat bibi kesayanganku berlinang air mata.
Paman masuk diikuti dua orang, salah satu dari mereka memasang selang ke hidungku, dan kulihat temannya, apa yang dia bawa? aah perih, apa yang kau lakukan dengan tanganku?
mereka membawaku pergi, aku seperti pernah mendengar suara itu, aku bisa mendenarnya dengan jelas. ahh ya sirine ambulance!!.
Aku melihat seseorang menangis dan menggenggam tanganku, aku tidak sendiri? dia bukan paman, siapa dia? apa dia sama sepertiku?
"Rat aku minta maaf Rat!" katanya, hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, Dia memanggil namaku? siapa dia? kenapa minta maaf kepadaku?
"Hai manis! apa kamu bisa melihatku? kamu dengar aku kan?" tanyanya, kulihat wajahnya, aku mencoba mengingat kembali, Fa'i??,apa dia Fa'i??
__ADS_1
Mataku terasa sangat berat!! perlahan aku mulai kehilangan kesadaran ku.
.
.
Aku bangun, tidak ada seorangpundi sini, aku mencoba menggerakkan kakiku. hhh aku bisa bergerak!. ku lepas selang oxygen dan mencoba untuk turun dari tempat tidur.
.
.
.
BRUUUUUK
.
.
.
"YA ALLAH RAT" teriak paman dan membawaku naik ke tempat tidur, Bibi dan Fa'i masuk karena mendengar teriakan paman, "Fa'i panggil suster" perintah paman.
Tak lama susterpun datang, mengganti letak infusnya, "tolong dijaga pak, jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi, karena kasusnya serius" suster itu mengingatkan paman, dan paman menganggukkan kepala sambil nerkata, "baik sus, terimakasih". kemudian paman kembali.
"Sayang jangan seperti itu lagi, kalau kamu butuh apa-apa bilang bibi" aku hanya menganggukkan kepala, sesaat kemudian orang tuaku datang berlinang air mata, ibu langsung memelukku.
"apa aku bisa pulang sekarang? aku tidak suka bau obat!" kataku kepada ibu, "kamu pasti pulang sayang, tapi tidak sekarang!" kata Ibu mencoba tersenyum.
Seorang dokter datang, aku memperkirakan dia seumuran bibiku, dia tersenyum kepadaku dan aku tersenyum, "wah senyuma kamu manis sekali sayang, pasti banyak orang yang antri untuk dapatkan senyum dari kamu" katanya.
Aku tertawa mendengar keta-kata dokter itu, kemudian dokter itu mengatakan "begitu dong, tetap tersenyum dan tertawa, kamu harus kuat!" itulah salah satu penyemangat yang ku dengar pertama kali.
"apa sangat parah?" tanyaku kepada dokter yang mungkin seusia bibi, "bukan parah hanya serius" itulah yang dikatakannya, apa bedanya untukku!! parah dan serius sama aja. gumamku, kulihat kertas yang di bawa dokter itu, .
.
PENYUMBATAN
__ADS_1
.
Aku mengalihkan pandanganku, haaaah kertas itu membawa catatan kematianku!! batinku.
Aku menitikkan air mata dan ku usap dengan kasar, "Kalau rutin minum obat, bisa sembuh, di jaga pola makannya". Kata dokter itu kemudian, aku hanya mengangguk, ketika hendak pergi ku pegang telapak tangannya.
"Terima kasih" ucapku, "tentu! itu tugasku sayang!".
Aku melihat keluargaku, mereka masih menangis. "Aku tidak apa-apa buk, jangan tangisi aku!", aku tersenyum agar mereka bisa melihatku.
"Ya kamu tidak apa-apa! kamu anak bapak yang paling kuat!" kata bapak itu membuatku tertawa. "Bapak apaan sih, ya jelas aku anak bapak palig kuat, kan aku anak satu-satunya! bapak sama ibuk istirahat dulu saja, kan baru sampai". ucapku kemudian.
Mereka berada di ruang tunggu, ku lihat Fa'i berada di pintu, dia tidak mendekat. "Kamu baik-baik saja?" dia mengangguk dan akan pergi, "Tak ingin temani aku di sini?" tanyaku kemudian.
Dia menatapku, mendekat dan menggenggam tanganku. "A-aku benar-benar minta maaf Rat!" terlihat dia begitu menyesal. aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
ahh ya dia mencoba menciumku. "jangan di ulangi lagi" itulah kata yang keluar dari mulutku, dia tersenyum dan berjanji tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama.
Sampai malam hari pun Fa'i masih setia menungguku, aku teringat Dewi dan Adnan, "apa paman memberi tau Dewi? apa dia tidak cari paman?" tanyaku pada Fa'i.
"Dewi sudah tau, mungkin mereka datang besok pagi, pikirkan itu besok, sekarang lebih baik tidur! katanya kemudian. Tapi Dewi tidak datang
.
.
Tujuh hari aku menghabiskan waktu di Rumah Sakit, Ini waktuku bersenang-senang, kenapa malah terdampar di tempat seperti ini, membosankan.
.
.
Sesampai di rumah, banyak orang berkumpul menyambut kedatanganku, haalah, ramai banget, cuma pulang dari RS kaya nyambut jenazah aja, gumamku.
Tapi ini yang ku suka, mereka tidak melihat dari mana aku, siapa aku, mereka menganggapku seperti keluarga.
Aku berada di kamar tentu ditemani Fa'i, Dewi dan Adnan keluar masuk kamar, "Ad kamu nggak pusing keluar masuk kamarku?" tanyaku dengan memegangi kepalaku, "Enggaklah" jawabnya santai, "tapi aku pusing Ad!" kataku kemudian, dan responnya hanya tersenyum.
"oooh senyum kamu manis sekaliiiiii", kataku manja dan itu membuat laki-laki di sebelahku agak murung. "Senyum kamu juga manis, awas ya banyak semut yang merubung!" kataku kemudian sambil tertawa.
__ADS_1
"eeheem eeheem"