
Erna menghembuskan nafas secara perlahan, "Sebenarnya aku sering menjenguk Isal, bukan karena aku membelanya Rat, aku hanya takut dia melakukan sesuatu yang berbahaya, dia selalu menangis, kurang istirahat, bahkan terkadang dia tidak menyentuh makanannya, sekarang dia sangat kurus, aku dan Yudi pernah menjenguknya saat sedang tidur, dia mengigau, meminta maaf darimu!".
Ratna mendengarkan cerita dari Erna dengan seksama, kemudian mengirimkan pesan kepada mbak Roh, (Mbak, tolong buatkan soto ayam 3 kuahnya dioisah, dan jus alpukat 3, di bungkus!, sebentar lagi saya datang bersama Erna). (ok mbak!).
"Na, udahan yuk!" kata Ratna, Erna mengangguk dan membantu Ratna, "kita mampir ke tempatnya mbak Roh dulu!".
"Mbak Roh aku ambil pesananku!" kata Ratna, "ini mbak!" kata mbak Roh dengan tersenyum, Erna mengantar Ratna pulang, "ayo kita pulang, akan ku antar!", "Na bisa nggak kita ke tempat Fa'i dulu?" tanya Ratna.
Erna bertanya kepada Ratna, "ngapain kesana? kamu harus istirahat Rat!", kata Erna, "kamu tadi bilang kan kamu mau temenin aku!", Ratna begitu bersi keras untuk mengunjungi Fa'i, dan Erna yang sudah berjanji kepada Ratna akan menemaninya tidak bisa menghindar lagi.
.
.
"Permisi, bude! kita berdua mau jenguk Isal" kata Erna, kedua orang tua Faisal hanya mengangguk dan menundukkan kepala mereka di depan Ratna,
Untuk pertama kalinya Ratna melihat kondisi Faisal, dia sangat kurus, rambutnya berantakan, meringkuk di sudut kamar seperti orang gila.
"You look worse than my feet!" (kamu terlihat lebih buruk dari kakiku) kata Ratna, Faisal yang mendengar suara Ratna mencoba mengangkat wajahnya, Ratna melihat dengan jelas bagaimana wajahnya yang tidak terurus, kantung matanya yang terlihat sangat jelas.
"Berhenti! jangan mendekatiku!" kata Ratna saat melihat Faisal mendekat, "kamu menyedihkan! kotor! aku tidak suka dekat denganmu, sebaiknya kamu mandi kemudian ganti baju, aku mau ke teras dulu." kata Ratna dengan ketus.
Ratna mengajak Erna ke teras, bersamaan dengan kepulangan Kedua orang tua Ratna, mereka yang melihat putrinya berada di rumah Faisal merasa khawatir.
"Ratna!, kamu kenapa di sini?, ayo pulang" ajak Pak Wardhana, Ratna memeluk Ayahnya, "kenapa sayang?" tanya Pak Wardhana dengan cemas.
"apa aku akan dapat apa yang aku minta?" tanya Ratna, Pak Wardhana mengangguk dan tersenyum, "aku ingin seperti dulu, meskipun sudah bertahun-tahun aku merasa sangat tidak nyaman Papa!" kata Ratna dengan manja.
Kedua orang tua Ratna menitikkan air matanya, melihat putri mereka bersikap seperti itu, "kamu yang meminta untuk datang kemari?" tanya Bu Wardhana.
__ADS_1
Ratna mengangguk, Ratna juga tau mereka berdua sangat khawatir, "Tuan Alexandre Wardhana dan Nyonya Lanny Wardhana, Ratna Dwi Wardhana berjanji tidak akan kabur dari sini" kata Ratna membuat semua orang tertawa.
"Semoga kamu berbahagia dengan teman baru sayang! maafkanlah dia dengan setulus hatimu!" kata Pak Wardhana berlalu dengan merangkul istri tercintanya, sontak Ratna berteriak, "OOOO TIDAAAK! JIWA JOMBLOKU MERONTA!!", dan kedua pasangan tadi tertawa lebih keras.
.
.
Faisal lama sekali, aku kan sudah lapar, kata Ratna dalam hati.
Tidak lama kemudian Faisal keluar, "Apa kamu benar-benar mandi? pakai sabun, keramas? dan kawan-kawan?", Ratna mengamati dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki, Faisal hanya tersenyum dan mengangguk.
Ratna mengangguk-anggukkan kepalanya, "emm apa kita bisa pinjam mangkuk dan gelas? aku bawa soto sama jus dari tempatnya mbak Roh!" kata Ratna, Erna mengambil piring dari rumah Faisal.
Faisal mengatakan sesuatu, "Rat ak..." namun Ratna memotongnya, "sssst aku lapar, makan dulu!, kamu juga kurus banget, kasihan ibu kamu yang sudah susah payah masakin buat kamu tapi nggak kamu makan!".
Ratna, Erna dan Faisal makan bersama, Ratna mengetahui Faisal yang memandangnya, "jangan melihatku seperti itu! aku takut sendok kamu ikut tertelan dan menyebabkan masalah baru!" kata Ratna disambut tawa Erna.
Faisal berlutut di depan Ratna dan menangis, "Rat aku minta maaf, karena perbuatanku keadaanmu jadi seperti ini, maafkan aku", Ratna tersenyum, "Sudahlah, aku baik-baik saja, dan akan kupastikan ini adalah terakhir kalinya aku memaafkanmu", kata Ratna, Faisal merasa sangat bahagia, "aku berjanji Rat, aku janji".
Jam lima sore Ratna masih berada di teras rumah Faisal, Erna sedang membuat teh hangat, sedangkan Faisal dan Ratna bercanda dan tertawa bersama, ketika Fathur dan Dewi datang, Fathur yang tidak suka melihat kedekatan mereka bersama, menghampiri Ratna dengan wajah memerah menahan amarah.
"Ratna, apa yang kamu lakukan di sini, cepat pulang!" Fathur menarik pelan tangan Ratna, "jangan tarik-tarik aku! kamu kenapa sih? ada masalah kalau aku dan Erna ada di sini?" tanya Ratna mencoba melepaskan tangannya.
"PULANG!" Fathur berteriak dan menarik tangan Ratna dengan keras.
.
.
__ADS_1
BRUUUUGH
.
.
"AAAAAAA" Ratna menjerit dan merintih menahan sakit saat jatuh dari kursi rodanya, Faisal mencoba membantu Ratna namun...
.
BUGH, BUGH
.
Fathur melayangkan pukulannya berkali-kali, Faisal berusaha mendekati Ratna, namun tidak oernah berhasil karena Fathur menyeretnya menjauhi Ratna.
Pak Warghana keluar, "PAPAAA!" Ratna berteriak karena lututnya terasa sangat sakit.
Pak Wardhana terkejut, mendapati Ratna tersungkur di lantai, kemudian beliau segera membawa Ratna masuk ke kamar, dan Ibunya menelfon seseorang.
Wajah Ratna memerah karena menahan sakit, "Mama, my knee!" (mama lututku) ucapnya, Bu Wardhana memeluk Ratna, "tahan sebentar sayang!".
"DANIEL CEPAT!", teriak Pak Wardhana saat melihat Daniel.
dr Daniel Abraham adalah teman dari alm kakak Ratna, Adre Pratama Wardhana, dia adalah anak angkat dari Pak Wardhana semenjak kakak Ratna meninggal, dan sekarang dialah yang akan membantu Ratna untuk berjalan.
Daniel memeriksa keadaan lutut Ratna, memukul pelan lututnya, kemudian menganggukkan kepalanya, "can i still walk Daniel?" (apa aku masih bisa berjalan Daniel), Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, "Daniel!" Ratna menarik jas yang dipakai agar dia tidak berlalu begitu saja.
Daniel mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang, "sure, baby!" (tentu, sayang) jawabnya, namun Ratna masih takut dengan jawaban yang belum jelas seperti itu, "Don't lie to me!" (jangan berbohong kepadaku), lagi-lagi Daniel tersenyum.
__ADS_1
Daniel menggenggam tangan Ratna begitu erat, "When did i lie to you? you can still walk, just wait your knees are ready!". (kapan aku membohongimu? kamu masih bisa berjalan, hanya menunggu sampai lututmu siap!).
Ratna tersenyum mendengar kata-kata dari Daniel, setidaknya Ratna masih bisa memepercayai keyakinannya yang dulu memudar.