Liburanku

Liburanku
Apa Dia Lebih tulus?


__ADS_3

Jam enam pagi, aku masih ada di kamar, sejak membuka mata, kurasakan nafasku yang memburu, kepalaku pusing, detak jantungku begitu pelan, wajahku pucat dan aku tidak mampu berdiri.


Dewi masuk ke kamar, dan mendapatiku masih berbaring dengan keringat dingin di sekujur tubuhku, "Kamu sakit Rat?" aku mengangguk pelan, Dewi bergegas keluar menemui Bibi.


Tak lama kemudian Bibi dan Paman masuk, "Pak kita bawa ke Rumah Sakit saja!" kata Bibi, ku pegang tangan Bibi, "aku tidak apa-apa!" kataku tidak melepaskan tangan Bibiku yang menangis, "kamu yakin?" kata paman, aku mengangguk pelan.


Bibi keluar dua puluh menit kemudian Bibi mwmbawakan sarapan ke kamarku, "kok bubur, aku nggak suka bubur Bi!", kataku merengek seperti anak kecil, "Ssst nanti siang baru makan nasi!", kata Hibu sambil menyuapiku, "Bi aku bukan anak kecil, aku bisa makan sendiri!" kataku protes karena Bibi akan menyuapiku.


"Kalau nggak disuapi paling buburnya kamu buang" kata Bibi ketus, aku hanya bisa menurut karena memang yang dikatakan Bibi benar


Aku tidak bisa membantu membuat lotis seperti yang sudah direncanakan, kenapa harus sekarang aku merasakan sakit. Aku kehilangan kesempatan lagi.


Jam duabelas siang seseorang mengetuk pintu kamarku, "masuk saja, nggak dikunci", kataku agak keras, "ayo bawa masuk lotisnya!", aku menengok ke arah sumber suara, ternyata Fathur dan anak-anak.


"Masih sakit?" tanya Fathur, "sudah lebih baik", jawabku dengan tersenyum, kami makan lotis itu bersama, "maaf ya, aku gak bisa bantuin kalian!" kataku kepada anak-anak, "kamu itu lagi sakit, buat apa ikut bantuin!" kata Wawan.


"Bentar ya, aku beresin peralatannya dulu", kata Dewi, sedangkan yang lain ikut keluar, hany Fathur yang ada di kamarkku. "sudah baikan?" tanyanya, aku tertawa, "tadi kamu sudah tanyakan! ngapain harus diulang!".

__ADS_1


"Kata siapa aku mengulang pertanyaan yang tadi, kan tadi aku tanya, kamu masih sakit, barusan aku tanya apa coba, kamu sudah baikan? nggak sama kan!" katanya sambil tertawa, aku juga ikut tertawa dengan perkataannya.


"Rat, jangan terlalu capek, jaga kesehatan kamu, jangan sampai kamu sakit", katanya sambil memegang tanganku, "apaan sih kamu!" kataku sambil melepaskan tangannya, "kamu nggak ikut bantuin mereka?" tanyaku, "jadi ceritanya aku diusir?" tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya, "apaan, kasihan kan yang lain beres-beres sendiri" kataku sambil mendorong lengannya, dan diapun keluar.


Aku merasa sangat bosan berada di kamar seirang diri, harusnya tadi kubiarkan Fathur ada di sini, kenapa malah aku suruh keluar!! ihh kok malah kikirin di sih, lebuh baik mikir yang lain Rat. gumamku.


"Ayo kita jalan-jalan!" kata Fathur mengambil kursi roda, aku tersenyum dan mengiyakan ajakannya, kami jalan-jalan sambil bercanda, tanpa sadar aku mengingat saat jalan dengan Fa'i, Rat jangan pernah ingat dia!! dia sudah pergi.


Aku memegang kepalaku, "lebih baik aku antar Ratna pulang dulu deh!" kata Fathur kepada yang lain dan meeeka mwngangguk karena melihat wajahku yang pucat, "aku ikut pulang dulu ya, soalnya Bapak sama Ibu nggak ada dirumah" kaa Dewi.


Paman dan Bibi memang sedang ke pasar, mereka bilang mau beli sayur untuk nanti malam, Lagian Bibi sama Paman aneh-aneh saja, aku makan nasi sama sayur apa aja juga bisa, ngapain harus ke pasar lagi.


Aku menurut saja karena memang kepalaku masih pusing, dia kenapa sih, ketus banget sama aku, emangnya aku punya salah apa sama dia, kataku dalam hati.


"Bisa nggak kamu suruh yang ada dirumah! nggak usah coba pergi, kalau kamu jatuh, kebentur, sakit lagikan!" aku menjadi emosi karena dia terlalu banyak bicara, "kamu itu apa-apaan, lagian aku cuma ke dapur, nggak pergi jauh, lagian aku juga sadar diri tau, aku yang jatuh aku juga yang ngrasain, nggak ada Bibi malah kamu yang jadi mak-mak rempong ngambil sembako".


"Kamu itu dibilangin kok susah banget! aku jadi mak-mak rempong karena akucinta sama kamu! kalau kamu sakit aku juga ikut sakit!" kalimatnya membuatku diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Ini bulan Juni, yang ada itu, APRIL MOP, bukan JUNI MOP!" kataku sambil tertawa, namun kulihat Fathur diam, ni anak serius?? "Apa kamu kira aku bercanda Rat?", tanyanya lirih, "Kamu selalu bercanda Fat, gak selalu serius" kataku kemudian.


"Kali ininaku serius Rat, aku sayang sama kamu! bisa beri aku kesempatan?" kulihat tatapan matanya, shitt, dia serius, kupegang kepalaku, "kamu istirahat saja, aku akan datang nanti dan besok, besoknya lagi, besoknya lagi, daaa!" katanya sambil melambaikan tangan.


drrrt, drrrt, drrrt, Fathur? ngapain dia telfon


"dan besoknya lagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi, da. ." tuut, tuut, tuut. .


Kuputus panggilan darinya, tanpa sadar aku tersenyum melihat ponselku, gila, gila, gila, ngapain dia telfon cuma bilang kaya gitu. Aku menghembuskan nafas dengan perlahan, kenapa ini, aku merasa sangat lelah, terkadang untuk berbicarapun aku lelah.


Kulihat ponselku, huft, hampir jam enam, masa mau tidur sekarang.


.


tok, tok, tok. "Masuk saja, aku belum tidur" kataku melihat ke arah pintu yang masih tertutup.


"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Tanya Paman yang barusaja pulang dari ladang, "aku baik Paman, lebih baik dari tadi pagi" jawabku dengan tersenyum, "Paman bawa durian, kamu mau cobain?" tanya Paman sambil memenaikkan kedua alisnya, "preeet, aku nggak mau sekarat karena durian!" aku menyilangkan kedua tangan di depan dada dan memasang muka sedih, "ha-ha-ha, Paman bercanda! Bibi sudah memasak banyak, nanti teman-teman kamu akan kesini" kaa Oaman mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Teman-teman? siapa? viko? yudha? dian? apa anak-anak sini, alah paling juga Fathur cs, nggak mungkin kalau bukan anak yang lain.


__ADS_2