Liburanku

Liburanku
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

"Eh a, Ma emm, anu itu, eh em apa" kata Ratna kelabakan karena kedatangan kedua orang tuanya.


Bu Lanny hanya tertawa mendengarnya "sudah-sudah! kamu itu mau ngomong apa? jangan pernah jadi orang lain, jadilah diri sendiri" Ucap Bu Lanny, Ratna menghembuskan nafasnya dengan kasar karena rencana untuk menyembunyikan identitasnya gagal, "ya iyalah, lagi pula mbak Rani juga sudah denger!" kata Ratna melihat Rani, salah satu pegawainya.


"Ayo kita makan siang bersama, yang lain sudah menunggu!" kata Pak wardhana, sambil melihat sekeliling, "Faisal kemana?" tambahnya.


"Ke toilet Pa!" jawab Ratna dengan ketus, Pak Wardhana mengusap kepala Ratna, tidak berapa lama Faisal datang dengan tergopoh-gopoh.


Ratna menatap Faisal dengan heran, "kamu ditemenin hantu? sampai lari-lari kaya orang kesambet!". Faisal meminum jus alpukat yang ada di depannya, "eh ada Bapak, selamat siang Pak, Bu! aku lupa ini sudah waktunya makan siang! ayo makan!" kata Faisal.


"Kamu bisa lari kemana-mana ya, tapi tolong dengan sangat, JANGAN PERNAH HABISKAN MINUMANKU!!" kata Ratna yang emosi melihat jusnya dihabiskan oleh Faisal.


.


.


Mereka duduk dengan para pegawai untuk makan siang bersama, setelah makan Ratna meminum obatnya, Pak Fahri merasa heran dengan kedekatan antara bosnya dengan Ratna.


"Mbak Ratna ini...." Pak Fahri tidak melanjutkan kata-katanya, karena takut menyinggungnya, "Ratna ini anak saya Pak!" kata Pak Wardhana.


.


duuuaaarrr


.


Penjelasan Pak Wardhana seperti petir di siang bolong, (ya, ampun dia anaknya Pak Bos? matilah kita) kata beberapa pegawai yang memang membenci Ratna.


"Maaf ya mbak, kalau kata-kata dan sikap kami tidak menyenangkan!" kata Felli, Ratna tersenyum manis, "kan kalian nggak ada salah sama aku mbak, tadi pagi juga kalian semangat waktu aku datang!" kata Ratna berusaha dekat dengan semua pegawai di sana.


"Hallo semua mari kita makan ini!" kata Daniel dan Faisal yang datang membawa sesuatu di kedua tangan mereka.

__ADS_1


Mereka bawa apaan? gumam Ratna, "Kak, temen-temen kamunnggak diajak ke sini?" Tanya Ratna yang tidak melihat batang hidung ke tiga teman Daniel.


Daniel hanya menggeleng sambil cengar-cengir, "aku yakin pasti mereka di rumah sedang tidur, dan salah satu dari mereka sedang sekarat!" kata Ratna.


"Kamu ini bicara apa, tadi Papa lihat mereka baik-baik saja saat masuk rumah!" ucap Pak Wardhana.


Ratna melipat kedua tangannya di depan dada, "Papa! saat kita makan malam kan kelihatan kalau kak Alex sama kak Charlotte itu makannya banyak, dan aku yakin kak Angel itu sama sepertiku! jadi aku berani jamin kalau kak Alex sama kak Cherlotte kebanyakan makan durian dan kak Angel sedang sekarat karena bau durian!" ucap Ratna sambil melirik Daniel.


"Ok, ok, aku akan beri nilai seratus untukmu honey!" kata Daniel, sedangkan Pak wardhana dan Bu Lanny tertawa kecil.


"Ayo kita makan sekarang!" kata Daniel membuka tutupnya.


"NOOOOOII!! APA YANG KAMU PIKIRKAN? KAMU AKAN MEMBUNUHKU DI SINI? AKU TIDAK MAU MATI SIA-SIA KARENA MAKAN DURIAN!!" teriak Ratna yang melihat durian di depannya.


Daniel berusaha menyuapi adiknya dan membuka mulutnya lebar.


Ratna menutup mulutnya, "Paaaaa!!", kata Ratna menjauhkan tangan Daniel, "cuma sedikit sayang!".


Ratna memeluk Bu Lanny dengan erat dan menangis tanpa suara, "apa yang kalian lakukan! jangan menggodanya, kalian membuat Ratna menangis!" kaa Bu Lanny.


Pak Wardhana dan Daniel terkejut mendengarnya, "hey, i'm so sorry honey!" Kata Pak Wardhana menyesali perbuatannya.


Semua orang tertawa dengan aksi kocak ayah dan anak tersebut, " biar mama ambilkan salad buah kamu!" kata Bu Lanny setelah Ratna berhenti menangis.


"Emm Pa, Ratna ingin menyebarkan Brosur ini, dan mempromosikan lewat Medsos juga, ya supaya kebun ini lebih di kenal, karena aku lihat banyak buah yang terbuang aku berinisiatif mengolah buah yang ada untuk jadikan jus atau salad buah, supaya pemasukan kita bertambah, nanti di area yang ini bisa kitaa tambahkan kios buah" kata Ratna menjelaskan.


"Wah, ternyata otak kamu cemerlang juga Rat! Kakak benar-benar nggak nyangka kamu punya ide sebagus itu!" kata Daniel memuji, "oooh anda meremehkan saya ternyata! dan asal kamu tau, aku tau apa maksudmu! dan aku tidak akan menyentuh apa yang sedang kamu pegang!" kata Ratna ketus.


.


.

__ADS_1


Ratna bekerja dengan penuh semangat, dan Pak Wardhana memesan semua yang dibutuhkan untuk mendirikan kios buah seperti yang sudah direncanakan oleh Ratna.


"Bukankah dia lebih bersemangat Ma!" kata Daniel, Bu Lanny tersenyum meski sesekali mengusap air matanya.


"Sudah jam lima sore, ayo kita pulang! Ratna biar ikut Papa sama Mama, aku akan satu mobil dengan Faisal!" kata Daniel.


.


.


Setelah sampai rumah, Ratna menghampiri ketiga teman Daniel yang duduk lemas di sofa, "holla, aku memebawa strawberry, aaaaa, ada apa dengan kalian? kenapa terlihat buruk sekali" kata Ratna terkejut dan mencoba menahan tawanya.


Angel menghela nafasnya, "kamu benar, aku hampir saja mati" katanya, Ratna tertawa mendengarnya, "Aku kan sudah bilang! karena itu aku tidak mau mencobanya!" kata Ratna.


"Tapi rasanya enak lho! iya kan Lex!" ucap Charlotte, Alex mengangguk pelan, "kalau pertama coba teksturnya seperti ee kucing! tapi setelah dimakan dan meluncur ke tenggorokan itu enak!" jawab Alex.


Ratna melebarkan matanya, "a-apa? kamu bilang teksturnya seperti ee? kamu pernah makan ee kucing kak? oh tidak!! apa kamu segitu tidak punya uangnya? beruntung sekali aku tidak memikirkan sampai ke sana!" Ratna sangat heboh mengatakannya.


Mereka berempat tertawa bersama.


Angel menatap Ratna dengan lekat, Apakah dulu kamu seperti ini? atau lebih ceria lagi? bagaimana kamu melewati semuanya sendiri? gumam Angel


Daniel turun dari kamarnya karena suara berisik Ratna, "kalian bercerita apa seperti ibu-ibu dapat diskon!" kata Daniel.


Ratna menoleh, "hei kak, lihat kak Alex bilang tekstur durian tadi seperti ee kucing! bagaimana menurutmu? apakah ada yang lebih parah lagi?" tanya Ratna.


Daniel hanya tertawa, "aku bahagia melihatmu tertawa lepas tanpa beban Rat!" kata Daniel membuat Ratna menatapnya dan memeluknya, "kamu juga yang buat aku kuat kan!" balas Ratna.


"apa hanya kalian? apa Papa bisa bilang kita semua?" kata Pak Wardhana memeluk istri kedua anak dan tiga tamu mereka.


"Teletubbies itu hanya ber-empat Pa bukan ber-tujuh!" ucap Ratna, mereka melepas pelukan dan tertawa kembali.

__ADS_1


__ADS_2