
Kulihat jam tanganku, jam setengah delapan, pasti sebentar lagi mereka datang, mereka minta meminta maaf kepada Paman dan Bibi., "tidak apa-apa, Paman sudah tau kenapa kalian menjauhi anak dan keponakan Paman", kata Paman sambil tersenyum.
Setelah itu, kami berbincang-bincang di teras rumah, tidak lama kemudian Ani, Adnan, Faisal dan kedua orang tua mereka datang, Paman yang pertama melihat kedatangan mereka menyuruh kami masuk, "Kalian ngobrol di dalam saja!" kata Paman, kami masuk ke ruang tengah, mencari kaset DVD untuk ditonton.
Paman menutup pintu ruangan kami, "silahkan duduk!", kata Paman, "eh kecilin volumenya donk! aku mau denger nih mereka mau ngapain!" kataku kepada Dewi.
"Mas, saya beserta rombongan datang kemari yang pertama ingin bersilaturahmi, dan yang kedua, kami ingin meminta maaf atas kejadian kemarin yang sudah dilakukan anak-anak kami kepada keponakan mas, yang sudah membuatnya tidak nyaman" kata ayah Faisal menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka.
Paman menghela nafas dan mengatakan. "Kalau kalian benci kepada saya, saya tidak apa-apa, tapi jangan jadikan anak dan istri saya sasaran kebencian kalian juga, apalagi keponakan saya yangbjelas-jelas jauh dari sini tambah tidak tau masalahnya. Dia sudah cukup merasakan sakit, bukan hanya saya, anak kamu sudah tau bagaimana keadaannya, sudah pernah menunggu berhari-hari bagaimana dia menahan rasa sakit, saya dan istri saya berusaha memenuhi apa yang dia inginkan agar dia tidak mengingat kalau dia sedang terpuruk, dan anak-anak kalian berusaha menghancurkan usaha keras kami". Paman berhenti sejenak dan membuang nafas kasar, kemudian Paman melanjutkan "Saya berterima kasih karena kalian semua sudah berkenan datang ke rumah kami dengan etikat baik untuk meminta maaf, saya selaku kepala keluarga mewakili keluarga dan juga Ratna sudah memaafkan, dan sudah saya sampaikan di malam itu, tolong jangan diulangi lagi, kalau kalian masih mengganggu saya akan selesaikan secara hukum".
"Terima kasih mas, sudah mau memaafkan segala kesalahan anak-anak dan juga kesalahan kami pribadi", kata ayah Adnan saraya berjabat tangan dan pamit pulang.
Setelah aku mendengar mereka berpamitan, aku segera bergabung bersama yang lain nonton filmnya.
.
DEG
.
DEG
.
__ADS_1
DEG
.
"Rat". "Aaaaa", aku berteriak karena terkejut, "apa sih, filmnya lagi kaya gini kok kamu malah ngagetin aku!" kataku sambil memeluk Windi yang berada disebelaku, "maaf Rat, aku cuma mau tanya, emangnya kamu sakit? kok ada obat diatas lemari kamu!" semua orang menatapku seakan meminta jawaban dariku, "cerita aja Rat, lagian mereka juga tau meskipun kita tutupi" kata Dewi.
Aku mengingat saat pertama aku mengetahui penyakit yang kuderita.
Flash Back On
Awal tahun aku masuk SMP aku merasa tidak kuat untuk mengikuti MOS, kaka kelasku mengijinkan aku ke UKS, namun sebelum sampai aku sudah kehilangan kesadaran, tidak berapa lama, orang tuaku datang membawa ambulan, aku dibawa ke Rumah Sakit terdekat.
Aku membuka mata, tidak ada siapapun di sampingku, aku melihat sekat di kanan kiriku, dan banyak orang berjas putih lalu lalang, di mana aku? siapa mereka? aku melihat tulisan besar UGD, aku di rumah sakit? aku mencoba mengingatnya, ah ya, tadi aku pingsan, lalu siapa yang membawaku ke sini? pertanyaan itu selalu ada.
Aku merasakan tenggorokanku kering, ingin sekali aku berteriak memanggil Ibu, tapi tidak ada suara yang keluar, beruntungnya salah satu suster melihatku kemudian memanhhil Ibuku, "Rat, kamu sudah sadar!" aku hanya bisa mengangguk pelan, "mau minum?" tanya Ibu, lagi-lagi aku mengangguk, IBu membantuku meminum teh hangat yang sudah Ibu belikan.
"Dok kok ada anak sekolah? kecape'an karena MOS ya?"
"Oh enggak, dia pasien lama sering cek up kesini, ada penyumbatan di jantungnya"
"Dokternya siapa? Pak pri atau Bu Susi?"
"Bu Susi"
__ADS_1
Mereka membicarakan aku? sejak kapan aku jadi pasien lama? aku memang selelu cek up, tapi seingatku aku belum pernah masuk Rumah Sakit.
Tanpa kusadari air mataku menetes, Ibu yang baru datang terkejut karena aku menangis.
"Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa! kita akan masuk ke kamae, semua akan baik-baik saja". Kata Ibu menenangkan aku.
Flash Back Off
Ku sudahi cerita masa laluku, aku melihat beberapa dari meewka menangis, "ayolah kan ada kalian, aku percaya semua akan baik-baik saja", kataku dengan tersenyum, "Kamu hebat Rat, sama seperti Ibu kamu bilang, semua akan baik-baik saja", kata Erna memelukku.
"Ayo Rat, makan !" kata Paman, aku keluar, sebenarnya meewka ingin berpamitan pulang, tapi Paman meminta untuk tinggal dan makan bersama.
Setah selesai Bibi mengambilkan obatku, "Bibi aku bukan anak kecil, aku bisa ambil sendiri", kataku dengan manja, "masa Bibi ambilkan kok nggak mau", kata Bibi sambil masuk ke dapur.
Sebelum Bibi masuk, aku memeluknya dari belakang, "terima kasih Bibi, karena selalu perhatian dan selalu membantuku" kataku dengan manja, Bibi menbalas pelukanku dan mencium keningku, "Bibi tau kamu bisa melewatinya!" kata Bibi kemudian masuk ke dapur, dan aku kembali ke meja dan meminum obatku.
"eh besok kita mau ngapain nih?" tanya Wiwin membuat kami berfikir dengan keras, "renang?" tanya Rafif, "NOO" jawabku "a-aku takut di kolam renang", kataku pelan.
Aku memberikan usulan, "Ayo mancing di sebelah rumah!, laki-laki yang mancing perempuan masak!". "Tapi lebih baik kalau mancingnya di sungai bawah itu, kan ikannya besar-besar" kata Fathur.
"Ya udah besok kita mancing, kalian anak perempuan masak yang enak ya!" kata Rafif yang selalu berkomentar tentang makanan yang dimakannya.
"Yang pasti olahan kita lebih nenak daripada olahan kamu yang dulu Fif" celetuk Erna dan membuat mata Rafif melotot hendak keluar dari sarangnya.
__ADS_1
"Emangnya kenapa sih?" tanyaku penasaran, kemudian Erna menjelaskan kepadaku, "dulu kita pernah bakar ikan Rat, Rafif bagian yang membersihkan ikan, setelah kita bakar dan kita makan, kok rasa pahit-pahit, kita baru tau kalau ternyata daleman ikannya itu nggak di buang! kamu tau kan gimana jadinya!", kata Erna sambil bergidig ngeri.
"jadi kalian makan ikan bakar beserta e-e ikannya?" Erna mengangguk, dan tiba-tiba perutku seperti diaduk-aduk, aku merasa mual yang sangat setelah mendengar ceritanya.