Liburanku

Liburanku
Kenyataan


__ADS_3

"selamat pagi rat! bagaimana keadaan kamu sekarang? pasti sudah lebih baik kan!!" kata dewi yang baru saja datang.


"o iya, sebentar lagi anak-anak yang lain juga datang, aku ingin kamu membuka mata kamu rat, kita tertawa bersama bukan hanya melihat kami tertawa, hiks,hiks" dewi tidak dapat membendung tangisnya lebih lama.


Sementara itu,


Ratna masih mengejar keluarga dan teman-temannya, sedikit lagi sampai rat!! jangan kalah dari apapun!!


ratna mempercepat larinya, dia terjatuh dan bangun lagi, dia semakin dekat, "ibuuu, ayaah!", ratna memanggil mereka.


Kedua orang tuanya melihatnya, mereka merentangkan tangannya dan Ratna menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.


Di Rumah sakit,


dewi masih menangis, anak-anak yang baru datangpun ikut menangis.


Fathur menggenggam tangan Ratna dan menangis, "rat! aku sayang sama kamu! aku serius, bangun rat, buka mata kamu, berikan kesempatan buat aku! hiks, hiks!!"


fathur melepaskan tangan ratna, erna dan dewi mendekat.


Dewi menggenggam dan menempelkan tangan ratna di pipinya, sesaat dewi merasakan jari tangan ratna bergerak.


Dewi ingin membisikkan sesuatu, namun tidak jadi karena telinganya lebih dulu mendengarnya. .


"jangan menangis, aku nggak apa-apa!" kata ratna lirih


dewi menyentuh wajah ratna dengan berderai air mata, sementara fathur dan yang lain hanya saling pandang tidak mengerti apa yang terjadi.


orang tua ratna dan dewi masuk ke kamar setelah membeli martabak manis, untuk teman-teman anaknya.


"kenapa wi?" tanya ayah ratna dengan khawatir, dewi masih memegang kedua pipi ratna yang pucat pasi.


"ayo rat, aku mohon!, ayo" kata dewi sambil menatap wajah ratna.


Perlahan Ratna membuka kedua matanya, tanpa aba-aba dewi memeluk ratna.


Ayah mengetahui Ratna membuka mata memencet tombol agar dokter segera datang.


Ratna melihat orang-orang yang berada di kamarnya dan memperlihatkan senyumannya, menandakan dia baik-baik saja.


dokter memeriksa keadaan ratna dan tersenyum, "selamat datang kembali Ratna!" aku tersenyum.


dokter itu mengajak orang tua ratna ke ruangannya, sementara paman dan bibi memeluk dan mencium keningkku,


Bibi mendekat,"sayang, kamu pernah bilang mau makan bubur kacang hijau kan! bibi belikan ya!" bibi menghapus air matanya, aku mengangguk pelan.


paman mengantar bibi, "kalian makan saja dulu" ucapku lirih.


"kamu nggak makan?" ratna bertanya kepada fathur yang duduk diam dikursi.


fathur menggeleng, karena memang dia sudah makan. ratna bertanya "kenapa lihat aku seperti itu? apa karena aku pucat seperti mayat?" fathur terkejut dengan pertanyaan ratna, "kamu memang pucat, tapi kamu tetap cantik rat!" kata fathur menitikkan air matanya.


"Rat aku......!" , "sssst aku tau, kamu pasti bilang kalau kamu sayang sama aku, meminta kesempatan untukmu kan!" kata ratna memotong kalimat yang fathur ucapkan.


fathur heran "bagaimana kamu tau?" tanyanya. "aku memang tidur, tapi otakku bekerja, aku bisa mendengar yang kalian ucapkan, aku juga mendengar tangis kalian saat ada di dekatku!" kata ratna sambil tersenyum.


Paman dan Bibi datang membawakan bubur kacang hijau yang bari dibeli, "ayo makan sayang, biar bibi suapi" kata bibi.

__ADS_1


"bibi aku bukan anak kecil, aku akan makan sendiri" kata ratna.


Bibi keluar dengan tersenyum, sedangkan ibu masuk melihat putrinya yang kesusahan untuk memegang sebuah sendok.


"anak ibu sudah sembuh ya! keras kepalanya juga sudah kembali" ibu menyuapi ratna dengan rasa bahagia.


"Rat, Faisal dan Adnan sudah mengakui kesalahannya, karena mereka masih di bawah umur, mereka mendapat lima tahun kurungan". kata ibu menjelaskan.


Sebenarnya Ratna kasihan, tapi perbuatan mereka benar-benar keterlaluan.


dokter selalu datang mengajari ratna untuk melemaskan otot-otot tangannya.


kenapa setiap kali datang yang dilatih hanya tangan?? apa kakiku bisa mengikuti? apa aku bisa jalan-jalan? aku sangat bosan.


Ratna memcoba turun dari tempat tidur, kenapa kakiku terasa sangat berat?, apa yang terjadi dengan kakiku?


Ratna membuka selimut yang menutupi kakinya, mencoba menggerakkan kakinya.


Kenapa kakiku? kenapa tidak bisa bergerak? Ratna menangis.


Ibu mendengar tangisan ratna, kemudian masuk, "Ratna, kamu kenapa? bilang sama ibu!".


"KA-KAKI AKU KENAPA BUUU!" teriakannya terdengar hingga luar kamar, semua masuk melihat Ratna yang menangis di pelukan ibunya.


"dokter?, kaki saya kenapa?" tanya ratna ketika dokter yang merawatnya datang.


"tidak apa-apa tidak lama lagi sembuh!" hanya itu yang di ucapkan.


"kaki aku kenapaaa? Wiiii, bilang sama aku wi, bilang sama aku!" ratna menarik dewi, berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"ka-kaki kamu p-patah rat!" kata dewi terbata-bata.


.


DEG


.


DEG


.


DEG


.


P-patah? kaki aku? enggak, enggak! Dewi bohong!


"ENGGAAAAK, KAMU BOHONG, KAKI AKU NGGAK PATAH!" jerit ratna, ibu memeluk anak semata wayangnya yang menangis, sedangkan ratna meronta dengan sekuat tenaga, doker menyuntikkan sesuatu di selang infus ratna "kalian bohong! aku nggak..." Ratna tertidur.


Ibu menangis di pelukan Ayah, "bagaimana ini, apa yang akan kita lakukan sekarang" kata ibu ditengah tangisnya.


"anak kita kuat bu, dia pasti bisa menerima semuanya!"kata ayah menenangkan.


"o iya bu, mungkin setiap minggu akan ada guru yang datang memberikan catatan dan juga memberikan pelajaran bu!" kata ayah dengan rasa percaya bahwa ratna mampu melewati semua yang terjadi.


.

__ADS_1


.


Ratna membuka mata, dan menangis mengingat bahwa sekarang kakinya hanya pajangan.


aku masih berharap ini semua hanya mimpi, mereka membohongiku, kakiku baik-baik saja, aku masih bisa berjalan.


"AKU MASIH BISA BERJALAN!" Ratna berteriak.


Ibu masuk mendengar teriakan anaknya, "Ratna, ratna, anak ibu, kamu harus kuat sayang!" kata ibu yang ikut menangis, "LEPAAAS, LEPASIN AKUU!" teriak Ratna dan mendorong tubuh ibunya, beruntung ada ayah ratna yang menangkapnya, sehingga ibunya tidak jatuh.


Bibi dan Paman mencoba untuk menenangkan Ratna, namun Ratna meronta dengan sekuat tenaganya, mencoba turun dari tempat tidur, dan...


.


.


BRUUUUUUK


.


.


"RATNA!!!" mereka berteriak saat melihat Ratna jatuh, "ahh" Ratna merintih, merasakan sakit di kepalanya yang terbentur lantai.


Ayah mengangkat ratna, menaikkan ke tempat tidur, sejak saat itu Ratna tidak banyak mengobrol, tersenyumpun tidak pernah.


.


.


.


Ratna pulang ke rumahnya, setiap hari salah satu gurunya datang memberikan catatan.


Ratna bisa mengejar ketertinggalannya, meskipun tahun ini Ratna harus tinggal kelas.😢😢


Ratna berusaha untuk menerima kenyataan yang pahit ini, namun hati menolaknya.


"Tidur Rat sudah malam" kata ibu, "iya bu!" Ratna menutup bukunya dan tidur.


.


.


"Ti-tidak, jangan, jangan. .aku mohon!"


.


"Ratna, Ratna, Ratna!" ayah dan ibu menepuk pelan pipi Ratna.


"Aaaaaaah!" Ratna terbangun, bajunya basah karena keringat.


"mimpi lagi?"tanya ayah, ratna mengangguk pelan.


"jangan dipikirkan, mereka tidak bisa mencelakaimu lagi" kata ayah pelan, aku mengangguk


ibu masuk, "sini ibu bantu ganti bajunya", "tapi bu, aku bisa melakukannya sendiri", kata Ratna, sedangkan ibunya tersenyum karena ini pertama kalinya Ratna protes kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2