
Pagi-pagi sekali Ratna sudah bersiap-siap, "sepertinya anak Mama sudah tidak sabar untuk meninggalkan Mama!" ucap Bu Lanny yang melihat Ratna.
Ratna melihat Mamanya dan tersenyum, "bagaimana bisa aku meninggalkan Mama!" kata Ratna.
Bu Lanny memeluk Ratna, "kamu hanya berteman dengan Faisal kan?" tanya Bu Lanny dengan penasaran, Ratna yang merasa aneh dengan Mamanya pun bertanya, "kenapa Mama tanya seperti itu?".
"Mama sering melihat ada seorang perempuan yang sering datang ke rumahnya, Mama takut kamu disakiti lagi" kata Bu Lanny dengan lesu.
Ratna tersenyum melihat Mamanya, "Mama tenang saja, Ratna hanya berteman kok!" jawab Ratna.
Dalam hati Ratna. Maaf Ratna harus berbohong Ma, tapi Ratna janji setelah ini Ratna dan Faisal hanya berteman!
Ratna mengambil ponselnya, ah tidak bisa, masa aku mengatakan lewat ponsel.
.
.
Jam enam Faisal dan Ratna berangkat, "Rat?" "Sal!" kata mereka kompak, "kamu dulu!" kata Ratna kemudian.
Faisal menghembuskan nafas,"Aku sudah ceritakan hubungan kita kepada orang tuaku dan maaf Rat, mereka nggak setuju, bukan karena nggak suka sama kamu, tapi karena mereka juga ingin kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku!" Ucap Faisal.
Ratna nernafas lega karena dia tidak perlu merangkai kata untuk menyudahi hubungannya, namun hati kecilnya juga merasa tercubit mendengarnya, "aku ngerti, tapi kita masih bisa berteman kan?" tanya Ratna dengan rersenyum dan Faisal mengangguk.
Ratna sampai di kebun dan disambut oleh Pak Fahri, "selamat Pagi Mbak Ratna!" ucap Pak Fahri, Ratna tersenyum sekarang semua pegawai menyukainya, "selamat pagi pak!".
"Hallo semua, emm nanti kita akan menyebarkan brosur ini ke beberapa tempat ya, aku akan bersama mbak Felli, mbak Ana dan Faisal, Mbak Sari Mbak Dian sama mas Galih! Pak Fahri dan yang lain jaga kebun ya!" kata Ratna dengan semangat.
Ratna memilih Felli dan Ana karena Ratna ingin mengahapus kebencian dari mereka karena mereka berdua memang benci kepada Ratna sejak kedatangan pertamanya.
"Nanti berikan kepada semua orang ya mbak! kalau ada orang asing kasih aja!" tambah Ratna, semua mengangguk dan pergi melaksanankan tugas mereka masing-masing.
.
.
Ratna dan kawan-kawan berkeliling hingga malam hari, "Sal, kok jalannya sepi banget ya!" ucap Ratna membuat semua temannya melihat sekeliling.
"Iya nih, memang biasanya sepi, tapi nggak seperti ini, tetap ada kendaraan yang lewat!" kata Felli.
Ratna menjadi takut mengingat sering terjadi hal-hal yang tidak masuk akal selama Ratna liburan dulu, "Sal perasaan aku nggak enak nih!".
__ADS_1
"Nggak apa-apa Rat, kalian tenang saja!" kaa Faisal yang menahan rasa takutnya, pasalnya dialah satu-satunya laki-laki di mobil tersebut.
Faisal melihat sesuatu di depannya, "bisa tutup kaca mobilnya nggak?" pinta Faisal, semua mengiyakan dan menutup kaca yang berada di sampingnya.
"Sal di depan itu mobil! ayo kita tanya sama pengemudinya!" kata Ratna, Faisal tau itu bukan mobil, "jangan ada yang keluar, benda tu semakin mendekat.
.
BRRRAAAAAKKKK
.
"AAAAAAAAAAA"
.
Mereka berteriak saat dua benda tu menabrak kaca depan mobil, "Sal, itu api Sal! cepat pergi Sal!" kata Ratna dengan panik, sedangkan mobilnya tidak mau menyala.
.
BRAAAKKK
.
.
Mereka menangis ketakutan, Faisal masih mencoba untuk menyalakan mobilnya, "ahh nyala!" katanya.
Faisal mengemudi dengan pelan.
"ehh tunggu!" kata Ana, Ratna menengok ke belakang, "kenapa mbak?".
Ana menunjuk sebuah kayu di kanan mobil, "Desa ****, sebaiknya kita tetap di sini jangan keluar dari mobil dan jangan melakukan hal aneh-aneh!" kata Ana kemudian.
Ratna protes karena memang panik setengah mati, "Mbak, kita nggak tau jalan mbak! kenapa kita nggak jalan aja, kalau benda tadi datang gimana!" kata Ratna.
Ana memeluk Ratna dari belakang, "kamu dengerin aku, kita nggak akan kenapa-kenapa selagi kita tetap di sini" kata Ana mencoba menenangkan.
Ratna meneteskan air matanya, "Dari mana kamu tau kalau kita akan baik-baik saja!".
Ana menghembuskan nafas pelan, "Aku beri tau, desa yang ada ditulisan itu dulu cuma desa kecil dengan empat rumah, aku tau karena aku pernah datang ke sini saat pembongkaran dan desa itu sudah nggak ada! artinya kita ada di jalan keluar hanya saja ada yang menutupi jalan kita!" kata Ana dengan tenang.
__ADS_1
Ratna mengernyitkan dahinya, "apa? dulu? jadi desa itu sekarang nggak ada?" tanya Ratna, dan Ana mengangguk pelan.
"Tulisan kayu itu sudah dirubah menjadi kebun ***** beberapa tahun yang lalu, tepat di jalan keluar sama seperti desa yang dulu!" tukas Ana.
.
Duaaaaaar
.
Aaaaaaaaa
.
"Apa kita harus mendengarnya terus? aku takut!" kata Ratna.
Akhirnya mereka mengangkat Ratna agar duduk bersama mereka di belakang.
Ratna melihat seseorang melewati mobilnya, "Ka-kakak? sal i-itu kak Andri" Ratna ingin membuka pintu mobilnya namun ditahan oleh Felli dan Ana.
"Ratna ingat! kakak kamu Daniel, Kak Andri sudah meninggal!" kata Faisal, Ratna tersadar dan menangis.
Sedangkan di rumah Ratna, keluarganya merasa khawatir karena mereka belum pulang, bahkan para pegawai mereka berada di sana!
Kemana mereka? kenapa belum pulang! ini sudah jam dua belas malam. Kata Bu Lanny dalam hati.
.
Tiiinnnn, tiiinnn
.
Bu Lanny bergegas keluar rumah dan melihat Faisal dan yang lain turun dari mobil, Pak Wardhana membantu mengangkat Ratna untuk duduk di kursi rodanya, "Kalian kemana saja? kenapa baru pulang?" kata Bu Lanny dengan khawatir.
Mereka pulang dalam keadaan yang tidak baik, wajah mereka pucat, matanya sembab.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Pak Wardhana.
"Kita tersesat di kebun **** bos!" kata Felli setelah meminum teh hangat yabg di buat Bu Lanny.
"Bagaimana kalian bisa keluar?" tanya Pak Fahri dengan penasaran, karena sudah banyak yang tersesat di kebun tersebut dan baru bisa kembali setelah tiga hari.
__ADS_1