
"APAAA?" Paman berteriak mendengar perkataanku, "Kamu serius? mau ikit pamam?" tanya paman yang ku balas dengan anggukan.
Aku taunkenapa paman begitu terkejut, Paman tau kalau aku tidak suka dengan bau durian, dan sekarang aku dengan senang hati ikut.
.
Pagi hari yang cerah, aku pergi ke kebun bersama paman, "Kamu bawa apa Rat?" tanya bibi, aku perlihatkan barang yang ku bawa.
Kamera, Handphone, charger, power bank, masker, air mineral, salad buah.
"Meski di sana ladang, tapi ada warung Rat, kamu nggak oerlu juga bawa dari rumah" kata paman sambil meluhatku.
"Kalau nanti paman sama yang lain makan durian, aku bisa makan salad buahku! aku nggak mau kalau hari ini harus sekarat seperti kemarin!!" jawabku santai.
Aku dan Paman berangkat naik motor. Sedari rumah masker sudah kupakai, aku lebih memilih bersama paman karena Bibi mengurusi cabai, panass.
Semua sudah sampai, dan sedang membersihkan durian, aku tidak mendekat karena aromanya yang menyengat.
"Sini to mbak! jangan jauh-jauh, nggak kenal nggak sayang lho mbak!" kata pak Mar, "Aku lebih suka nggak kenal kok pak!" jawabku sembari tertawa.
Jam istirahat tiba, kami berkumpul di gubuk tengah ladang, membicarakan tentang pasar yang inillah. . itulah. .
Mbak Warti membawa durian dan membukanya. "Owh" kataku, memegang pipiku.
Paman melihatku dan memperlihatkan durian yang dipegang, aku menarik nafas panjang, aku mencobanya.
"Apa kamu mati rasa lagi?" tanya bangkit di iringi gelak tawa semua orang. "Enggak, aku cima melihat kuburanku sudah digali" kataku seenaknya.
"Salat buahnya di makan Rat, jangan dipaksain!" kata Paman.
Aku mengangguk, "Rat paman ke tempat bibi dulu ya!". "Iya" kulihat paman yang mulai menjauh.
__ADS_1
"O ya, paman mau bantuin aku nggak?" tanyaku kepada para pegawai pamanku, mereka mengangguk, "boleh, bantuin apa?" tanya pak Abdul.
Aku mengambil plastik yang aku bawa, "Aku minta tolong untuk menghabiskan ini semua!" kataku dengan perasaan bahagia.
"Harus habis lho, aku juga ikut makan kok, tapi makan yang ini" kataku sambil mengeluarkan plastik berisi strawberry yang kemarin aku petik.
Aku melihat semua yang ada di situ hanya saling menatap, "Ayo dong dimakan, tadi udah setuju lho" kataku sambil tersenyum.
Aku tersenyum karena dalam waktu singkat buah itu sudah habis, "Apa kalian ikut mati rasa?" tanyaku kepada para pegawai.
Paman datang membawa nasi, bukankah seharusnya nasi dulu baru makan durian? gumamku.
Aku makan dengan lahapnya, Paman melihat pekerjanya yang makan tidak benar, "Kalau nggak suka jangan dimakan, kita cari makanan yang lain?" kata paman.
"eh nggak usah pak, ini aja" kat pak war menolak, "apa mau bakso? biar aku beli'in!!" sahutku kemudian sambil tersenyum.
Mereka hanya menggeleng, akhirnya mereka memakan makanannya dengan pelan, pasti perut mereka meronta. batinku.
Aku pergi ke warung membeli Teh hangat, karena teh yang mereka bawa pasti sudah dingin karenasejak pagi.
"nggak apa-apa mbak!" kata pak War kemudian..
Aku sangat bosan di tempat itu, bahkan hidungku sudah mati rasa karena bau durian yang sangat menyengat, ya ampunn, aku mendatangi mautku sendiri, bagaimana kalau benar-benar mati karena bau ini.
Aku meminta izin kepada paman untuk jalan-jalan, "paman aku mau pulang dengan jalan kaki, aku tidak mau mati sia-sia karena banyak menghirup bau durian itu!". Paman hanya tersenyum "Bangkit temani Ratna". "Aku bisa sendiri paman" ucapku sambil mengerucutkan bibir, "Bersamanya atau tidak sama sekali".
.
.
paman terlalu mengkhawatirkan aku, padahalkan aku bisa sendiri. "mampir di tempat itu ya! aku mau beli jus!" aku masuk dan memesan dua jdiminum di tempat dan dusa lagi dibungkus.
__ADS_1
Setelah dahaga hilang, kami melanjutkan perjalanan, "Kamu tiap libur kerja, emang nggak dimarahin sama orang tua kamu? kok bisa kerja sama paman?" tanyaku kepada bangkit.
"Nggak ada lah yang mau terima aku kerja, lagian bapak juga sebenernya nggak mau terima aku, tapi empat tahun lalu ada anak perempuan yang datang sama bapak dia bilang, kasian kalau nggak dibolehin, dia menyarankan q untuk kerja setiap libur sekolah!, sebenarnya juga aku suka sama dia, tapi aku takut karena aku berbeda!" katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku melihatnya "Dewi?" tanyaku, bangkit menggeleng, aku berfikir keras, anak perempuan yang datang bersama paman??.
Flash Back On
Paman mengajakku ke kebun durian milikknya, aku belum pernah tau bagaimana rasa durian itu, jadi aku menurut saja.
Aku melihat ada seorang anak yang merengek kepada para pegawai di kebun paman, "Pak ijinkan saya kerja pak! saya bisa bantuin apa saja pak!" kata anak itu.
"Kebun ini bukan punya saya, lagian kamu masih kecil, sekolah lagi, harusnya kamu belajar di rumah bukan kerja!" kata pegawai itu.
"Nak Pak War itu benar, kamu harusnya sekolah, bukan kerja di sini, kalau ibu kamu tau kamu nggak sekolah nanti saya juga kena dampak buruknya karena mempekerjakan kamu yang masih di bawah umur". kata paman membenarkan perkataan Pak War.
"Bapak kan tau saya hanya punya ibu, sekarang sedang sakit, saya juga butuh makan pak!" katanya sambil menangis.
"Kasihan paman, lebih baik bolehin aja tapi kalau waktu dia libur sekolah!" kataku menyela diskusi antara paman dan para pegawainya.
Paman menghela nafas panjang, "ya sudah, kamu boleh kerja di sini, tapi kerjanya kalau kamu libur sekolah, saya tidak mau belajar kamu terganggu karena bekerja". ucap paman dengan tegas.
Ku lihat dia sangat senang, dia mengucapkan terima kasih dan menciumi punggung tangan pamanku, dia juga berterima kasih kepadaku, aku hanya tersenyum.
Flash Back Off
Mataku melebar, aku melihat wajahnya dengan teliti.
"Jadi anak yang merengek minta kerja dulu itu kamu?? sekarang beda sih, jadi aku nggak tau!" kataku sambil tertawa.
Aku memperhatikannya, kenapa dia ini, kenapa wajahnya memerah? malu?
__ADS_1
Aku teringat kata terakhir yang dia ucapkan, "kamu bilang apa tadi?" tanyaku sambil menarik lengannya.
Dia pergi menjauh, aku terus saja mengejarnya, "Ayolah, beri alasan kenapa kamu bisa bilang BERBEDA?" aku bertanya dengan sedikit penekanan di akhir kata.