Liburanku

Liburanku
9. Aku Bahagia


__ADS_3

Aku melihat matanya, responku membuatnya bingung, "Kamu yakin baik-baik saja?" tanyaku kemudian.


Aku tau kedatangannya pasti membahas masalah tadi pagi, dia bicara.


"Rat aku min....", "sssst", ucapannya terhenti seketika saat ku tempelkan telunjuk di bibirku, bersamaan perempuan yang masuk ke rumah dan dia duduk di sebelah Fa'i, aku pergi ke dapur membuat teh hangat.


"Aku tau apa yang ingin kamu katakan, aku sudah memaafkanmu, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, apa yang kamu lakukan di malam itu, aku tidak ingin tau!! aku tau dia lebih sempurna dari aku". Kataku sembari mengulas senyum tulus di hadapan mereka.


Mereka pergi dari rumah, Fa'i mengusap air matanya, Dewi berlari keluar kamar dan memelukku, "Kamu sangat hebat",,ayo kita ke kebun durian punya bapak" ajaknya.


"Apaaa? durian??? aku nggak suka!!" aku mencoba menolaknya, namun rayuannya lebih mematikan, dan aku terpaksa mengikutinya, aku tidak lupa untuk membawa maskerku.


memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menaiki sepeda.


Setelah sampai kami berkeliling, ini memang sedang musim durian, heem pantes paman lagi banyak uang, kataku dalam hati.


"Rat sini!" aku mendatangi dewi dan duduk diberhadapan dengannya, aku melihat laki-laki memilih durian, "siapa dia? mau beli durian?" tanyaku kepada Dewi.


"Namanya Bangkit, dia kerja di sini pas libur, kalau nggak salah sih dia seumuran kita", jawabnya.


Dia datang membawa sebuah durian berukuran sedang ke mejaku, aku sudah menutup hidungku dengan dua jari, dia tertawa melihatku.


Dia membuka duriannya, dan....


"NOOO" aku berteriak dan berlari menjauh, "kalian tau nggak, baunya aja udah membunuh!" kataku kemudian, para pegawai di sana tertawa melihatku yang sudah hampir menangis.


"Ayolah Rat ini enak, kita makan sama banyak orang" katanya membujukku, aku mendekat dan owh perutku terasa diaduk-aduk.


aku duduk, "Ayo dicoba dikiiit aja, kita udah capek-capek sampe sini lho!".


Benar juga yang dia katakan, masa sampai sini nggak dapat apa-apa, aku mencobanya sedikit, Dewi mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Aku mati rasa" itu yang ku katakan, sontak saja kataku memicu tawa mereka, Dewi memaksaku makan buah yang ekstream itu.


Mereka berbicara dan tertawa bersama, "Apa aku bisa minta air? aku udah hampir mati di sini" mereka terkejut melihat wajahku yang pucat pasi.


"Ya ampun Rat, kamu beneran nggak bisa makan? aku pikir bercanda!" ucap Dewi yang panik setengah mati.


Dewi meminta tolong bangkit untuk menggendongku masuk ke sebuah rumah yang di fungsikan untuk berjaga di malam hari.


"Rat aku minta maaf!" kata Dewi sambil menangis, "Aku cuma pusing!" kataku kemudian.


Lama aku ada di kebun itu, "pulang yuk!" ajakku, "kamu masih pucat Rat, gimana mau pulang!".


Kita pulang dengan aku yang di bonceng oleh Bangkit.


Aku merasa pusing di perjalanan, ku lingkarkan tanganku di perut Bangkit, dan kusandarkan kepalaku di punggungnya.


Setelah sampai aku ingin masuk, baru beberapa langkah, aku merasa limbung, dan kehilangan keseimbangan, kemudian


Dengan refleks Bangkit meraih pinggangku dan menarik tangan kiriku agar aku tidak jatuh ke tanah.


Dia membantuku masuk ke ruang tamu, Dewi belum sampai di rumah, karena tadi berpapasan dengan salah satu temannya.


Dia membaringkan aku di kursi, "maaf saya belum bisa pergi, soalnya mbak Dewi belum pulang, jadi sebaiknya mbak istirahat di sini dulu, saya akan buka semua pintu dan jendela"


Aku melihatnya membuka jendela dan pintu lebar-lebar, kemudian mengambilkan aku air putih hangat, "mbak minum air putihnya dulu" katanya.


Aku tersenyum "panggil aku Ratna saja, nggak usah pake embel-embel mbak!" kataku di sambut senyumnya, "Emm maaf tadi di jalan, aku pusing jadi. .". "Nggak pa-pa saya ngerti" katanya memotong omonganku.


Fa'i datang ke rumah karena tadi melihat keadaanku, dan Ani mengikutinya di belakang dengan wajah yang ditekuk.


"Rat kamu kenapa? sakit?" dia bertanya dan mencoba menyentuh leherku, dengan cepat aku mencegah tangannya, "Aku baik-baik saja" kataku dengan suara serak.

__ADS_1


Fa'i berlari dan langsung memukul pipi Bangkit yang baru kembali dari kamar mandi, aku terkejut dan langsung bangun, tiba-tiba aku merasa pusing. "Ahh......" rintihku sambil memegang kepalaku.


Aku menepis tangan Fa'i yang mencoba menolongku, Bangkit datang dan membantuku duduk di kursi.


"Sebaiknya kalian pulan, aku baik-baik saja!" kataku sambil memijat kepalaku sendiri.


"Kamu lebih memilih anak ini daripada aku Rat? aku sayang sama kamu Rat!" katanya dengan nada tinggi.


"Jangan buat kamu semakin bersalah dengan rasa sayangmu itu, lupakan aku karena kamu sudah punya wanita yang mengisi harimu" jawabku santai, "Lagipula dia bertanggung jawab untuk menjagaku sebelum saudaraku pulang!" tambahku kemudian.


Fa'i pergi dengan amarah, aku menyandarkan kepalaku di bahunya, aku menitikkan air mata lagi, kurakannya tubuhnya bergetar.


"Maaf aku terbawa suasana!" ku usap air mataku, "Sepertinya kamu menyesal mengucapkan kata itu!". "Aku tidak menyesal, aku hanya teringat apa yang dia lakukan kepadaku" sanggahku sambil menghela nafas.


Bagaimana aku tidak sakit, dia tiduri perempuan itu, dan masih berharap perasaanku tidak pernah luntur untuknya, andai kamu bisa menjadi teman curhat yang bisa kupercaya!! tapi aku takut kamu juga sama dengannya.


Dewi pulang dengan membawa mie ayam, tau saja anak itu kalau aku lapar, "maaf ya tadi terlalu seneng jadi kelamaan, ayo makan bareng" kata Dewi sambil mengambil piring.


Kami makan bersama sambil ngobrol ringan, terkadang bisa menimbilkan tawa kami terlepas, "eh besok Adnan ngajak ke kebun strawbery, ikut nggak?" cetus Dewi.


"Jauh nggak? aku takut kalau jan...." aku tidak jadi melanjutkan kalimatku karena ada bangkit.


"Kit, kamu ikut ya! temenin Ratna!! soalnya tempatnya jauh! kita pergi naik sepeda lho!" katanya sambil memasang wajah lucu.


Aku ke belakang untuk mencuci piringku, "Bangkit ikut ya!! jantung Ratna itu bermasalah dia nggak bisa terlalu capek, kalau di rumah kasian juga kan!" itu yang dibisikkan Dewi.


aku kembali dari dapur, bangkit pamit pulang, namun tiba-tiba dia kembali dan bertanya, "eh besok kita berangkat jam berapa?" tanyanya kepadaku.


"hah kita?" aku malah balik bertanya dengan tampang bodohku, "WI, BANGKIT NANYA!" aku berteriak dari ruang tamu "JAM TUJUH", teriaknya dari dalam.


Bangkit mengangguk, "ya sudah saya pulang dulu, sampai ketemu besok jam tujuh!!" katanya sambil melambaikan tangannya, aku tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2