
Aku terbangun dan duduk di tempat tidur, pikiranku kosong.
Dewi terkejut melihatku sudah dalam posisi duduk, "Rat kamu sudah siuman!" ujarnya khawatir, tapi tatapanku masih kosong bahkan aku tak mendengar semua orang masuk ke kamarku. aku seperti orang linglung.
Paman menepuk pundakku dan aku mengerjapkan mataku, ku lihat sekelilingku, aku tau aku di rumah, dan banyak sekali orang yang berada di rumah. Aku menangis, Dewi memelukku dan ikut menangis.
Aku mengingat apa yang terjadi, ku pegang kepalaku yang mulai pusing. Detak jantungku tak beraturan, aku meringis kesakitan sambil ku pegang dada kiriku, NYERI itu yang kurasakan.
Paman mengambilkan obatku di tas dan meminumkannya!! obat itu ku bawa kemanapun aku pergi, dari luar memang aku sehat, tapi salah satu organku yang bermasalah. Ku lihat Faisal ikut menangis, dia tidak bisa masuk karena kamarku penuh dengan tetangga yang menenangkanku, termasuk ibu Fa'i.
Setelah mereka pulang, Fa'i masuk, "hai manis, kamu udah lebih baik? aku khawatir sama kamu!" katanya pelan, aku menghela nafas mencoba memberanikan diri mengatakan apa uang aku rasakan.
"i, aku tau kamu sayang sama aku, tapi aku mohon i, kamu cari perempuan lain yang lebih baik dari aku, lebih sempurna dari aku!! aku cuma perempuan yang mencoba mengejar kebahagiaanku sebelum jantungku berhenti berdetak. Aku nggak tau sampai kapan aku masih bisa bertahan." ucapku berderai air mata.
"Jangan pernah kamu bicara seperti itu, aku tau kamu sakit sejak dulu, aku sayang sama kamu bukan karena aku kasihan, aku tulus Rat, jangan pernah bicara seperti itu lagi". katanya sambil memelukku.
Beberapa ibu muda yang lewat memergoki kami, merekapun semangat menggoda kami, "Oalah pacarnya Isal itu mbak Ratna to! pantes suka nungguin jendela di buka!!" cetusnya sambil tertawa.
Aku malu karena sekarang banyak orang tau, Fa'i pun cuma senyum-senyum dan garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal, "Malu ya ketahuan pacaran?" tanyanya. Aku menggeleng pelan, "nggak malu kok mukanya merah kaya tomat!" celetuknya lagi.
"Apaan sih kamu, sana ah!" ucapku sambil mendorong dadanya agar menjauh, baru saja ketahuan sama tetangga, malah ibunya Fa'i memperhatikan kami berdua dari jendela kamar putranya sambil menggelengkan kepalanya. Aku yang melihat ibunya pergi merasa tidak enak hati.
Hingga sore hari Adnan dan Fa'i di rumah menemaniku, "Eh udah sore ni, aku pulang dulu ya!" kata Adnan pergi meninggalkan kamarku, "Kamu nggak pulang juga?" tanyaku kepada Fa'i yang masih santai di kamarku dan juga Dewi. "Kamu ngusir aku?" katanya langsung pergi sambil menekuk mukanya.
"Wi, emang kata aku barusan mengusir ya?" tanyaku berbisik, "enggak!! kalau ngusir itu begini, NGAPAIN MASIH DI SINI? SANA PULANG! itu baru ngusir!" jawabnya sambil tertawa.
.
.
Puk
.
.
"e e copot, siapa berani nimpuk aku pake bola kertas kaya gini, kurang ajar banget!" katanya sambil mengambil kertas itu dan membacanya, aku heran melihatnya senyum-senyum sendiri, "eh tutup jendelanya sana udah sore!" tukas dewi.
Tanpa perasaan aneh aku langsung menutup jendela dan jeng jeng jeng Fa'i sudah menungguku " halo manis selamat sore dan selamat istirahat!". "Hahahahahahahahhah" Dewi tidak bisa menahan tawanya, sambil memperlihatkan kertas yang dia bawa. "DEWI, ITU BUKAN BUAT KAMU!!!" teriak Fa'i dan langsung menutup jendela kamarnya dengan kasar.
.
__ADS_1
DUEEEEERRR
.
Seketika itu aku terkejut, tubuhku gemetar, kurasakan nyeri di dadaku. Dewi melihatku langsung membantuku ke tempat tidur, setelah itu keluar mengambilkan air minum dan obatku.
Aku istirahat, tidur dengan Dewi di sebelahku karena paman tidak mengizinkanku tidur sendiri, aku ingat kertas tadi sore ku baca salam hati sambil tersenyum.
hai manis, aku belum puas jalan-jalan, besok kita jalan-jalan lago, kalo bisa jangan ajak dua sejoli itu lagi, biar mereka pacaran sendiri.
"Tu kan baca aja sambil senyum sendiri!" kata Dewi. "Wi aku mau tanya soal...". "sssst aku tau, aku ceritain rumah itu tapi sambil tiduran" akupun setuju.
Flash Back On
Rumah itu milik orang kaya sekampung, orang-orang sering manggil dia Pak Wi, dia seorang yang pekerja keras baik dimata orang, tanpa orang tau sebenarnya dia bersikap baik ada maunya, banyak sawah orang-orang dibeli dengan harga yang tidak sepantasnya.
Orang-orang yang mengetahuinya menjadi benci, dan memperingatkan warga lain agar tidak termakan omongannya.
suatu hari Bu Siti, Istri Pak Wi mengantarkan makan siang yang biasanya dititipkan pekerja di sana, saat sampai di sawah Bu Siti melihat Pak Wi selingkuh sama perempuan dari desa sebelah yang kerja di sawah itu, dia melemparkan rantangnya ke arah Pak Wi dan pulang.
Pak Wi mengikuti Istrinya sambil membawa parang, sampai dirumah ke tiga anaknya ingin mengajak bermain, tapi Pak Wi malah mengayunkan parangnya menebas leherbketiga anaknya, kemudian dia mencari istrinya, saat Pak Wi akan menebasnya, Bu sri sudah membawa sabit, mbok tik yang menjadi saksinya, karena saat kejadian mbok tik membantu mengemasi baju bu siti. Tidak ada yang hidup di keluarga itu.
Flash Back Off
.
.
TOK
.
TOK
.
TOK
.
.
__ADS_1
Nenek, paman dan Bibi masuk ke kamarku. "Lho kok malah ke..." ucapanku belum selesai saat Paman menempelkan telunjuk di bibirnya menyuruhku diam.
"Ssst jangan berisik!"kata paman
Ku dengar banyak warga yang berlari seperti mengejar pencuri. "Ada pencuri paman?" tanyaku. "Jangan ada yang membuka pintu, tidur saja di sini" kata paman
Aku sangat tidak nyaman katena terlalu sempit tapi mau bagaimana lagi.
.
.
DUUUUARRRRR
.
.
Kami bangun, ku pegang tangan Dewi yang berada di sampingku.
.
.
DUUUUARRRR
.
.
Suara itu terdengar kembali, tiba-tiba tempat tidur kami bergerak-gerak dan semakin kencang. Aku takut, nenek paman dan bibi berdoa, berzikir. Tiba-tiba listrik padam, ku peluk dewi dengan sangat erat, suara-suara itu datang kembali.
.
.
Aku sangat ketakutan dan aku pingsan.
.
.
__ADS_1
Pukul tujuh aku terbangun