
Dia. . .kakakku
MAS, MAS ANDRI teriakku disamping tubuhnya yang membiru, dingin tak bernyawa.
Mereka mencari tau alamat rumahku dari kartu identitas yang selalu dibawa kakakku, kemudian aku diantar pulang, aku menyendiri di kamarku.
Tidak berapa lama, mobil jenazah datang membawa kakakku, aku menangis tersedu-sedu, pemilik dan penjaga kolam juga datang melayat, mereka meminta maaf kepada keluargaku.
"Kami minta maaf atas keteledoran kami bu, jika kami teliti, kejadian ini tidak mungkin terjadi, kami akan segera menonaktifkan kolam kami". kata pemilik kolam itu.
Kedua orang tuaku hanya saling pandang, dan bapak yang memilih berbicara.
"Sebelumnya kami berterima kasih, anda sudah berkenan datang ke rumah kami pak, dan inshaa allah untuk memafkan kami sudah memaafkan, kami juga sudah mengikhlaskan putra kami, memang berat, tapi ini sudah terjadi.
". Itulah keputusan yang diamhil olehbkeluarga kami, memaafkan.
Namun sejak saat itu aku sangat takut dengan sesuatu yabg berkaitan dengan air, bahkan ke pantaipun aku tidak pernah.
Orang tuaku juga melarangku pergi ke tempat itu, takut peristiwa seperti itu datang kembali.
Flash Back Off
Setelah beberapa tahun, kini aku kembali mencoba. Satu langkah saja, dan aku selesai.
"terima kasih!" hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku, Fa'i tersenyum melihatku, dan dia memilih menemaniku duduk di gazebo.
Aku melihat sorot matanya, "sepertinya kamu sangat ingin berenang, pergilah, aku akan tetap di sini!" kataku sambil menepuk bahunya pelan. Dia berbisik di telingaku, "aku lebih suka di sini bersamamu, dan aku juga takut kulit kuning langsatku berubah menjadi sawo hangus".
"Hahaha, mana ada sawo hangus!!", kuakui anak ini memang gokil abis, mungkin jika dia mau, semua yang ku katakan bisa menjadi bahan untuk tertawa.
__ADS_1
"Kamu tau, kita sudah jadia selama satu minggu lebih, tapi kenapa aku masih belum punya no. hp kamu?" katanya sambil menaikkan satu alisnya.
Benar juga, sejak pertama aku datang dia memang belum pernah minta no. hp!!.
Lagi-lagi aku tersenyum ku minta hpnya, dan kucattat no ku dan kuberikan lagi. Lagu Demitria Lovato terdengar mengalun, dan kutunjukkan padanya, "Apa menurutmu aku akan menipu dengan nomor palsu?" tanyaku sambil tersenyum.
"Senyumanmu membuatku semakin jatuh cinta padamu sayang!". "Ooh Nooo!", aku tidak sadar teriakanku membuat banyak mata mengawasi kami.
aduuuh kok mereka lihatin kita!! mulut kelewatan kalo kaget.
Kami hanya saling pandang dan mengangkat bahu, "kok malah kita dilihatin banyak orang!!", "nggak tau, pergi aja yuk!" ajakku kemudian.
kami pergi dari area kolam dengan bergandengan, mereka yang satu desa dengan Fa'i sudah tau, tapi mereka yang tidak tau, huuuh.
"Permisi pak", kataku saat melewati salah satu orang tua yang menghalangi jalan, kemudian beliau bergeser dari tempatnya tadi.
"Kok aku jadi ingin naik sepeda ya!" kataku kepada Fa'i, "Sepeda? ok saja, tapi bisa bilang lebih romantis nggak?".
"Okelah!" ku buang nafas perlahan,,"sayang, bisa nggak kita pulang naik sepeda? please!" kataku dengan senyum. "tentu, apa yang enggak buat kamu!"
Fa'i kembali masuk. Katanya neik sepeda kok malah masuk lagi, ku lihat dia berbicara dengan Adnan kemudian kembali dengan senyumannya yang, cukup manis.
"terus motor kamu gimana?" tanyaku bingung "nanti dibawa Adnan!"
Ini pertama kalinya aku naik sepeda di jalan yang ekstrem bagiku, karena naik turun. Ku perhatikan lagi jalan yang kami lalui jauh berbeda, "yang, tadi kita lewat jalan ini nggak sih?" aku memberanikan diri bertanya, "iya, emang kenapa?".
"Kayaknya dari tadi yang aku lihat cuma ladang deh, kok sekarang banyak rumah bagus, mewah lagi!" kataku sedikit berbisik.
Fa'i tidak menjawab sepatah katapun, malah mempercepat laju sepedanya, kulihat mulutnya mengucapkan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu masih lihat rumah nggak?" tanyanya berbisik di telingaku, aku tengok kanan kiri, memang sudah tidak ada. "enggak, udah kelewatan kali rumahnya!" jawabku sekenanya.
Aku tersenyum melihat keindahan alam di sini, tanpa terasa sudah tiga puluh menit Fa'i mengayuh sepedanya, "yang, aku capek", kataku sambil memegang tangannya.
"Kan aku yang ngayuh sepeda, kok malah kamu yang capek!". "kamu sadar nggak sih, yang aku duduki ini bukan lho!", balasku sambil memanyunkan bibirku, dan responnya hanya tertawa.
setelah kami memasuki perkampungan, Fa'i menuntun sepedanya, aku berjalan di depannya sambil terkandang berputar, seperti anak yang sangat senang diajak jalan-jalan.
Aku berlari kecil dan masuk ke sebuah warung untuk membeli minum, kasihan juga ngayuh sepeda sari tadi demi aku. Saat aku kembali, kulihat dia sedang ngobrol dengan seorang perempuan, akrab sekali.
Siapa dia? kok kaya akrab banget, mungkin temen sekolah.
"Hallo, ini diminum dulu sambil istirahat", ucapku seraya memberikan minuman yang sudah kubuka sebelumnya.
"Hallo mbak", sepertinya dia nggak suka sama aku, terlihat dia tidak mau kuajak berjabat tangan.
Aku sibuk mengabadikan momentku, dan dia melihatku dengan senyumannya, kulihat perempuan itu tidak suka melihat Fa'i memberikan perhatian kepadaku.
"WOW" teriakku kemudian tertawa, "Kamu suka?" tanyanya, aku mengangguk kemudian berkata, "I'm very happy, terimakasih!".
"Akukan sudah bilang, apapun untukmu" katanya kemudian.
Kami melanjutkan perjalanan kembali, "ayo naik lagi" ajaknya kemudian, aku menurut saja.
"emm yang, kok kayanya perempuan tadi nggak suka sama aku!, dia siapa sih?" pertanyaanku membuatnya murung.
"Dia Ani, dia mantan pacar dan rumahnya dekat sini, dia ingin aku selalu antar jemput dia, harus selalu ada kalau dia butuh, harus ini, harus itu, dan aku nggak bisa jadi seperti apa yang dia mau, setelah itu putus".
"Udah? cuma gitu doang? emang pacarannya cuma sehari doang?" tanyaku sambil melihat ke arah matanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Jangan di bicarain dong, lupain ya!" akupun mengangguk.