
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________________
Happy Reading🥀
Suasana damai terlintas di dalam toko pakaian tersebut. Hawa dingin terasa menyejukkan akibat AC ruangan yang dinyalakan dengan kesesuaian suhu saat ini.
Jane berjalan mengelilingi setiap tempat pakaian yang di pajang di dalam toko tersebut. Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya menemukan sebuah pakaian kantoran yang tepat untuknya. Harga dan kualitasnya juga sederhana.
Begitu memakainya, Jane langsung membayar pakaian itu dengan Black card yang sebelumnya Louis pinjamkan terhadapnya.
"Terima kasih susah mengantarku. Aku tidak tau harus bagaimana jika kau tidak mengantarku kemari," ucap Jane tersenyum pada pria di sebelahnya.
**Flashback on**
"Makanya keluar dulu sana! Aku sedang menunggu taxi untuk membeli pakaian!" tegas Jane berusaha mengusir pria itu dari dalam ruangannya.
"Kenapa harus menunggu taxi kalau ada aku di sini?" tanya Dion dengan pandangan serius menatap Jane.
Lantas Jane berbalik tanya, dia memastikan dengan ucapan Dion barusan.
"Maksudmu, kau mau mengantarku ke toko pakaian?"
"Benar!"
Setelah keduanya saling setuju, mereka pun langsung berjalan menuju basement untuk menaiki mobil milik Dion. Hanya dalam waktu beberapa menit mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.
**Flasback off**
Sementara itu, Alfred yang sedang berada di dalam mobil tak sengaja melihat Jane bersama Dion di depan sebuah toko pakaian. Pasalnya, anak laki-laki itu sedang menuju ke perusahaan sang ayah setelah usai belajar di sekolah.
Lantas siapa sangka, dia melihat Jane tengah berduaan dengan Dion. Orang yang kerap dipanggilnya sebagai paman ketika di perusahaan ayahnya. Yah, meskipun tidak cukup dekat dengan Dion, namun Alfred cukup mengenal wajahnya.
Alfred segera meminta sopir pribadinya itu untuk menginjak rem mobil. Lalu sopir itupun menghentikan mobil secara mendadak tepat di tengah jalan, akibatnya beberapa mobil di belakang ikut berhenti secara mendadak.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya sang sopir menatap wajah Alfred dengan khawatir.
"Apa anda melihat perempuan itu?" Alfred menunjuk ke arah Jane dengan jari telunjuknya, lalu si sopir hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita jalan."
Sopir itu lekas melajukan mobilnya setelah banyak pengemudi lain protes karena mobil yang dikendarai nya berhenti secara mendadak di tengah jalan.
Untung saja tidak terjadi tabrakan kecil antara mobil yang satu dengan yang lain. Jika hal itu sampai terjadi, mungkin si sopir sudah mendapatkan masalah besar hanya gara-gara Alfred.
Tidak berselang lama, Alfred akhirnya tiba di perusahaan milik sang ayah. Dia turun dari mobil setelah sopirnya membukakan pintu mobil untuknya.
Anak lain banyak berpikir bahwa Alfred adalah anak yang paling beruntung lantaran memiliki hidup yang serba kecukupan. Namun mereka tidak tau, bahwa dibalik semua itu hati Alfred telah hancur karena tidak memiliki seorang ibu sejak dirinya masih berusia tiga tahun.
Apalagi Alfred adalah seorang anak tunggal dari Louis, tentu dia tidak memiliki teman bermain di rumah. Kesehariannya hanya ia lakukan dengan belajar dan bermain laptop atau sejenisnya yang dapat menghibur dirinya.
Menurut Alfred, aktivitas seperti itu sungguh membosankan. Impian terbesarnya adalah, memiliki seorang ibu.
*****
"Ayah!" teriak Alfred begitu masuk ke dalam ruangan Louis secara tiba-tiba. Sontak hal itu membuat si ayah terkejut bukan kepalang. Lagi-lagi anak itu mampu mengejutkan ayahnya.
"Wajahmu kenapa sepertinya itu?" tanya Louis saat melihat wajah Alfred tampak murung.
"Aku tidak mungkin menceritakannya kepada ayah kalau aku bertemu bibi Lil di jalan. Huh, menyedihkan!" gumamnya seraya duduk di sebelah Louis. Ia lantas menggeleng lalu tersenyum lebar agar tidak membuat sang ayah merasa khawatir.
Pintu ruangannya berbunyi, menandakan bahwa ada seseorang di balik pintu tersebut yang tengah mengetuk pintu.
"Masuklah," ucap Louis mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Kriett ...
Pintu itu terbuka, dan terlihat sosok Jane dengan pakaian kantoran mewah namun memiliki harga rendah. Seleranya itu sangat cocok dengan wajahnya yang cantik.
"Bibi Lil? Bibi sangat cantik dengan pakaian itu!" lontar Alfred memuji wanita di hadapannya.
"Ah, terima kasih. Ini bukan apa-apa, kok ... " balasnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Jane berjalan menghampiri sepasang ayah dan anak tersebut, dilihatnya sebuah Black card yang tengah berada di genggamannya. Dia lantas mengembalikan kartu tersebut pada Louis.
"Terima kasih banyak Tuan," papar Jane dengan membungkukkan tubuhnya beberapa kali.
"Apa itu pakaian baru?" tanya Alfred tiba-tiba. Dia hanya berbasa-basi karena sebelumnya sudah melihat Jane berada di toko pakaian bersama Dion.
__ADS_1
"Benar. Kau sangat pandai, ya!" sahut Jane.
"Oh ya Bibi, aku membelikan ini untuk Bibi Lil, apa Bibi menyukainya?" Alfred mengeluarkan sebuah coklat dari dalam tas nya, lalu memberikan coklat tersebut pada Jane.
"Wah, pasti enak. Tapi, apa benar untuk Bibi?" Jane tersenyum, tangannya itu terasa ragu untuk menerima sebuah coklat pemberian Alfred. Apalagi situasinya saat ini sedang berada tepat di hadapan Louis.
"Benar, aku sengaja memberikannya untuk Bibi."
Jane menatap Louis, tampak sorotan mata dingin yang tertuju padanya. Lalu pria itu terlihat mengangguk pelan tanpa adanya sedikitpun ekpresi di wajahnya.
"Terima kasih, Alfred adalah anak yang baik. Bibi sangat menyayangi Alfred."
Deg?!! Sontak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, warna pipi nya berubah drastis menjadi merah. Yah, anak itu sedang jantungan gara-gara ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Jane.
"Bibi bilang, dia menyayangi aku? Apa itu benar?" pikirnya masih dengan pandangan bengong.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Louis berusaha membuyarkan lamunan sang anak. Alfred lantas mengangguk dan tersenyum lebar menanggapi ucapan Louis barusan.
Setelah cukup lama berada di dalam ruangan tersebut, Jane pun meminta izin untuk kembali ke ruangannya. Wanita itu segera melaksanakan tugas berikutnya yang telah diberikan oleh sang atasan.
"Ada apa denganmu tadi?" tanya Louis merasa heran dengan sikap anaknya sejak tadi. Jika diperhatikan, Alfred sangat serius memandang Jane. Wajahnya amat sangat bahagia saat berhadapan langsung dengan wanita itu.
"Aku hanya senang dengan bibi Lil. Bukankah bibi itu sangat cantik?" tanya Alfred. Sontak hal itu mampu mengejutkan si ayah. Dia berdalih memandang jendela tanpa menghiraukan pertanyaan dari anaknya.
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Waktu tengah menunjukkan pukul 22.30. Malam yang sudah begitu larut, namun Jane masih berada di dalam ruangannya. Dia masih disibukkan dengan layar komputer yang masih menyala terang.
"Hoam ... " Jane menguap, dia tidak sanggup lagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tengah dikerjakan nya.
Ia lantas membuka layar ponsel, tak ada satupun orang yang mengirimkan pesan melalui WeChat. Yah, sebenarnya dia menanti sebuah pesan dari seseorang.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~
__ADS_1