
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
________________________________________
Happy Readingπ₯
Setelah bertemu dengan Jane, Louis mengajaknya untuk menemui si pemilik panti, yang tak lain adalah Delion.
Kebetulan saat itu beberapa anak panti sedang keluar bersama para pengasuh wanita, untuk mencari udara segar di tengah hutan.
"Tapi bukannya kita juga harus berbicara dengan anak-anak?" tanya Jane sedikit heran dengan keputusan Louis yang diambil secara sepihak.
"Aku ingin kita cepat pergi dari tempat ini, aku merasa ada yang tidak beres sejak awal kemari," ungkanya seraya menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
"Sebenarnya ... aku juga heran dengan Beliiago, dia selalu bersembunyi di bawah tangga."
"Siapa Beliiago?"
"Dia adalah-- "
Baru saja ingin menyebutkan namanya, Beliiago tiba-tiba datang dengan membawa sebuah benda di tangannya.
"Dia Beliiago," tunjuk Jane.
"Halo Bibi," sapa Beliiago dengan langkah kaki yang semakin mendekati keduanya.
"Ah, kenapa kau di sini? Bukankah anak yang lain sedang pergi keluar?" tanya Jane, lantas dibalas senyuman olehnya.
"Ini untuk Bibi." Beliiago menyerahkan benda itu pada Jane. Membuatnya bersama Louis terdiam bingung.
"Bukalah nanti," tuturnya lalu berjalan pergi tanpa berpamitan.
Kini hanya tersisa dua orang itu saja, mereka saling terdiam memandang sebuah benda yang berada di genggaman Jane.
Tak lama berselang, Dion tiba-tiba datang dan membuat keduanya terkejut secara bersamaan. Bahkan benda tersebut sampai jatuh ke lantai.
"Apa ini?" tanya Dion seraya mengambil benda yang baru saja terjatuh.
"I-- ini, bukan apa-apa," balas Jane langsung merebut benda itu dari tangan Dion.
"Penting, ya?" tanya nya.
"Emmm, iya. Ini sa-- sangat, penting ...."
Ketiganya pun berjalan meninggalkan tempat itu, untuk segera bertemu dengan si pemilik panti. Yah, pria itu selalu mengurung dirinya di kamar yang terletak di lantai atas.
__ADS_1
Setelah tiba di depan kamar Delion, Jane perlahan mengetuk pintu kamar tersebut, membuat seseorang di dalamnya keluar untuk melihat siapa orang yang baru saja mengetuk pintu.
"Kalian? Ada apa?" tanya Delion, dengan cepat dirinya segera menutup pintu kamar. Tentu, sikapnya membuat Jane dan Louis menjadi curiga.
"Sebenarnya, kami ingin segera mendonasikan sedikit uang dan beberapa perlengkapan makanan untuk anak panti," balas Jane dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Kenapa buru-buru? Apa ada masalah yang membuat kalian jadi buru-buru seperti ini?" tanya Delion kembali.
Saat hendak menjawab, Louis langsung menyela nya, "Ada banyak pekerjaan di perusahaan yang harus kami selesaikan."
"Hmmm, bagaimana jika menunggu sampai anak panti pulang saja?" usulnya, namun ditolak oleh Jane dan Louis secara bersamaan, membuat Dion yang tidak tau apa-apa menjadi keheranan.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita ke lantai dasar saja?"
"Oke."
Mereka semua berjalan menuruni anak tangga untuk menuju lantai dasar. Namun lagi-lagi Jane dibuat bingung oleh sosok Beliiago yang selalu mengumpat di bawah tangga, sama seperti sebelumnya.
"Tuan Delion, apa saya boleh bertanya?" ucap Jane saat semuanya telah tiba di sebuah ruangan di lantai dasar.
"Tanyakan saja."
"Sebenarnya ... saya heran dengan anak laki-laki di panti ini yang bernama Beliiago, kenapa anak itu selalu mengumpat di bawah tangga?" tanya nya dengan serius, seketika wajah Delion berubah seratus delapan puluh derajat.
Lantas Dion yang menyadari sesuatu langsung menggenggam erat tangan Jane, yang memang duduk bersebelahan dengannya.
Membuat wanita itu menoleh ke arahnya, sambil mengangkat alis karena heran.
"Oh, begitu ya?" timpal Dion.
Seketika Jane bersama Louis menjadi tambah kebingungan, mereka benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Keduanya bahkan merasa bahwa Dion telah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
Di waktu yang bersamaan, ponsel Louis berbunyi, menandakan bahwa ada seseorang yang menghubunginya.
Begitu melihat layar ponsel, ternyata Alfred lah yang menghubunginya. Merasa kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat, pria itu langsung menolak panggilan tersebut.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Delion menatap heran pada Louis.
"Tidak, ini bukan apa-apa. Oh ya, ini uang yang akan saya donasikan pada panti. Dan barang-barangnya sudah kami letakkan di depan bangunan panti," cakap Louis, lalu dibalas anggukan olehnya.
"Kalau begitu, kami langsung permisi saja. Maaf karena tidak bisa lama-lama," lanjut ucapnya.
"Sepertinya sangat terburu-buru. Baiklah, terima kasih atas semua yang telah Tuan Louis donasikan kepada panti ini. Saya berharap ke depannya anda bisa lebih sukses."
"He'em."
__ADS_1
Louis beranjak dari kursinya, ia langsung menarik lengan Jane, dan Jane menarik lengan Dion. Kini ketiganya sudah berada di ruang kamar untuk mengemasi barang milik masing-masing.
Diantara tiga orang itu, Jane lah yang paling banyak membawa barang. Ia membawa perlengkapan make up komplit dengan sabun pencuci wajah.
Lima belas menit telah berlalu, kini mereka sudah selesai mengemasi barang.
Tanpa harus berlama-lama, Louis mengajak Dion serta Jane menuju halaman panti, dimana terdapat mobil yang sebelumnya mereka bawa.
Terlihat dari kejauhan, tampak sosok Caroline yang sedang mengamati Louis yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Sosoknya di sadari oleh Dion yang memang sejak tadi sedang menatap jendela.
Dion kemudian membukakan mobil untuk tuannya dan Jane. Seperti sebelumnya, mereka duduk di kursi bagian belakang, sedangkan Dion duduk sendiri di bagian depan untuk mengemudi.
Perlahan mobil pun mulai berjalan, dan berlalu meninggalkan halaman panti. Namun sejak tadi Jane merasa tidak nyaman, lantaran pergi secara mendadak.
Selama diperjalanan, Jane terus melamun memikirkan isi yang terdapat di dalam benda yang sebelumnya diberikan oleh Beliiago.
Merasa penasaran, ia pun membukanya. Namun wanita itu seketika terkejut, membulatkan kedua bola matanya begitu melihat isi pada benda di tangannya.
"Kenapa?" tanya Louis saat dirinya menyadari bahwa Jane tampak terkejut.
"Apa maksudnya ini?" Ia menunjukkannya pada Louis, seketika pria itu sama terkejutnya.
"Berhenti!" seru Louis, sontak membuat Dion menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Ada apa Tuan?" Dion menoleh ke belakang, dan melihat wajah dua orang itu tampak pucat.
"A-- apa? Apa yang sebenarnya terjadi?"
***
Di lain sisi, Alfred tengah mengisi waktunya dengan membaca sebuah buku novel bergenre romansa. Membuatnya terbayangkan oleh sosok Jane jika menjadi kekasih ayahnya.
Lantaran terus melamun, anak itu sampai tidak sadar kalau roti yang sedang dipanggang sudah benar-benar gosong.
Hingga datang seorang pelayan wanita, setelah mencium bau tidak sedap dari arah dapur.
"Astaga! Tuan Muda, ada apa ini?" Pelayan itu berlari menghampiri Alfred, dimana ia tengah bersantai dengan secangkir teh hijau.
"Tuan! Kenapa anda membiarkan rotinya gosong?" tanya pelayan itu sedikit tegas, sukses membuyarkan lamunannya.
"Ah, aku lupa kalau aku sedang membakar roti ...," sahutnya cengengesan.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1