Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 36-Terungkap


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


________________________________________


Happy ReadingπŸ₯€


Jalanan ramai dipenuhi oleh mobil para polisi, sirine dibunyikan menandakan bahwa ada kasus yang akan mereka tangani.


Dari banyaknya mobil polisi yang melintas dan memenuhi jalanan kota, mobil milik Louis lah yang berada di posisi paling depan, mengiring para polisi itu menuju ke suatu tempat.


Kurang lebih tiga puluh menit berada diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di halaman sebuah bangunan panti, tempat yang mereka donasikan beberapa uang sebelumnya.


Para polisi langsung mengepung bangunan tersebut, membuat Delion menjadi panik dan tidak tau apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"Keluarlah jika tidak ingin kami tembak!" teriak salah seorang polisi, yang tak lain adalah sang inspektur.


Lantas Delion berlari menuruni tangga dengan beberapa pengasuh wanita, dan kini mereka berhadapan dengan para anggota polisi.


"Ke-- kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya Delion panik, tangannya terlihat ber gemetar lantaran tak kuasa menahan rasa takut.


"Kalian dituduh sebagai penjual organ ilegal ke luar negeri! Ikut kami, dan jelaskan di kantor polisi!" perintah sang inspektur.


"Apa maksudnya ini semua? Saya bahkan tidak melakukan penjualan organ ilegal ke luar negeri!" sanggah nya berusaha membela diri.


Namun beberapa pengasuh wanita tampak ketakutan, mereka saling terdiam dan menggenggam erat tangan masing-masing.


Dor!!


Salah seorang polisi melesatkan pelurunya, ketika melihat Delion yang hendak kabur. Kakinya terkena senapan peluru, membuat pria itu terjatuh sampai tak dapat berjalan.


"Ah!! Sakit sekali!!" teriaknya seraya memegang bagian kaki yang telah terluka.


Kini para polisi langsung membawa Delion beserta para pengasuh dan pengurus panti masuk ke dalam mobil mereka.


Tak lama berselang, beberapa mobil itu mulai melaju pergi. Namun masih ada sebagian yang berada di tempat tersebut.


"Kami yang akan mengurus anak-anak ini ke depannya," ujar salah seorang polisi.


"Baiklah."


"Bibi!" Beliiago tiba-tiba datang dan langsung memeluk erat tubuh wanita itu, membuat mereka yang melihatnya seketika terharu.


"Terima kasih sudah membantu ku dan teman-teman ku, kami jadi bisa hidup dengan tenang setelah mereka ditangkap," ucapnya dengan cairan bening yang terus mengalir dari kedua bola matanya.


"Iya, sama-sama."

__ADS_1


****


Ckit ...


Sebuah mobil berhenti di halaman depan rumah mewah. Tiga orang turun dari dalamnya, dan melangkah masuk ke rumah tersebut.


Suasana yang hening dan damai, hanya ada detik jam yang terus berbunyi. Bahkan ruangan di dalam rumah itu tampak kosong dari para penghuni.


Louis berjalan menaiki tangga, tujuannya adalah untuk menemui Alfred, anaknya yang sudah lama ditinggal pergi ke luar kota.


Begitu menginjakkan kaki di dalam ruang kamar sang anak, suhu dingin langsung menusuk tubuhnya, hampir saja membuat dirinya beku jika tidak segera mematikan pendingin ruangan tersebut.


"Alfred!" teriak Louis, namun yang didapat hanyalah suara hembusan angin yang masuk menembus kaca jendela.


Sementara itu, Jane bersama Dion sedang dilayani oleh beberapa pelayan rumah. Mereka menghidangkan makanan berupa minuman dingin.


Dion yang sudah kehausan lantas meraih minuman yang dihidangkan di meja dengan brutal.


Hingga sesuatu yang tak diinginkan terjadi, pria itu menjatuhkan sebuah piring dengan kue rasa coklat di atasnya. Tentu membuat keduanya terkejut secara bersamaan.


Di waktu yang sama, Alfred masuk ke dalam rumah setelah seharian pergi ke mall dengan didampingi oleh asisten pribadi ayahnya.


Begitu melihat sosok Jane, ia langsung terkejut. Dengan langkah cepat, dirinya berlari ke arah Jane dan memeluk tubuhnya dengan erat.


Dion dan si asisten pribadi itu hanya terdiam bengong melihat perangai tuan muda.


"Wah ... apa kau tau? Bibi juga sangat merindukanmu selama berada di panti asuhan," sahut Jane seraya tersenyum dan mengelus lembut kepala Alfred.


"Oh ya, aku membeli sesuatu dari mall. Sepertinya ini cocok untuk Bibi?"


Alfred mengeluarkan sebuah dress lengkap dengan aksesorisnya dari dalam tas mall.


Dress berwarna merah muda, serta topi dan sepatu yang sama berwarna merah muda, tentu membuat wanita itu bertanya-tanya dalam benaknya.


"Ini ... untuk apa? Sepertinya berlebihan?" tanya Jane dengan memandang dress tersebut.


"Tentu saja untuk besok. Besok di sekolahku mengadakan kontes dari anak-anak, termasuk diriku. Karena itu ... aku ingin mengajak Bibi Lil sebagai ibuku."


Semuanya terdiam, begitu mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Alfred.


Termasuk Louis, dirinya yang hendak menuruni anak tangga juga menjadi terdiam.


"Alfred! Kembali ke kamarmu!" tegas Louis yang masih berdiri di lantai atas.


"Ayah? Ayah di sana? Kenapa tidak kemari?"

__ADS_1


Bukannya takut, anak itu justru malah menyeringai lebar. Memberi kode pada sang ayah, meskipun sudah terlihat jelas bahwa ayahnya sedang kesal.


Dengan langkah cepat, Louis menghampiri mereka yang tengah berkumpul di ruang tamu. Dirinya menarik telinga Alfred, menimbulkan bekas merah pada telinga sang anak.


"Ayah! Ini sakit!!" teriaknya merasa kesakitan.


Namun pria itu bukannya melepaskan telinga Alfred justru malah menariknya semakin jauh, menyeretnya hingga mendekati anak tangga.


"Kembali ke kamarmu! Lalu belajar!" perintah Louis.


Meskipun rindu dengan sosok Jane, Alfred akhirnya menuruti perkataan sang ayah, daripada nantinya ia sendiri yang akan terkena masalah.


"Kau pergilah," ucap Louis pada asisten pribadinya yang memang sejak tadi masih berdiri di depan pintu masuk rumah.


"Baiklah, saya permisi," balasnya seraya meletakkan beberapa belanjaan milik Alfred di tempat itu.


Sebenarnya, Alfred memiliki kepribadian yang sangat membenci berbelanja. Namun ini semua dia lakukan demi membelikan sesuatu yang istimewa untuk Jane, sosok wanita yang ingin sekali dijadikan ibu olehnya.


Setelah tersisa tiga orang saja di sana, Louis pun duduk berhadapan dengan Jane dan Dion.


"Maaf Tuan, aku ingin memberi sedikit usul," tutur Jane pelan, berharap tidak akan membuat pria di hadapannya marah.


"Apa?" tanya Louis penasaran.


"Sepertinya, Tuan terlalu keras dalam mendidik Alfred. Aku harap, Tuan Louis bisa lebih baik lagi padanya."


"Ah, be-- benar. Kasihan dia," timpal Dion.


"Tidak perlu memikirkan soal Alfred. Yang perlu kalian pikirkan hanya perkerjaan saja, fokus pada hal itu."


Jane terdiam, hatinya benar-benar merasa sakit mengetahui bahwa Louis sepertinya lebih mementingkan uang dibandingkan dengan anaknya sendiri.


"Tuan, apa yang sangat anda inginkan di dunia ini?" tanya Jane lagi, membuat pria itu berpikir sejenak untuk bisa menjawabnya.


"Mungkin, uang."


"Benar dugaanku," gumam nya.


"Kenapa harus uang? Bukankah Alfred lebih berharga?"


"Karena ... uang bisa mengubah segalanya. Aku ingin hidup bahagia bersama Alfred dengan uang yang ku dapatkan, dan satu lagi ...."


"Satu lagi apa?" tanya Jane dan Dion secara bersamaan.


"Satu lagi, aku ingin memiliki pendamping hidup untukku dan anakku," ucap Louis dalam hati.

__ADS_1


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2