
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_______________________________________
Happy Readingπ₯
Setelah menghabiskan waktu sore di taman itu, merekapun akhirnya kembali menuju kediaman Louis. Pria itu memutuskan untuk memberi Jane cuti pekerjaan khusus hari ini.
Hampir setengah jam berada di perjalanan, kini mereka akhirnya tiba di halaman rumah yang begitu luas. Bahkan rumahnya saja tak kalah luasnya dengan gedung apartemen.
Jane turun dari mobil setelah Louis membukakan pintu untuknya. Sebenarnya wanita itu merasa ragu untuk mampir ke rumah sang tuan, namun hatinya terus mengatakan untuk mampir saja.
"Selamat datang Tuan Louis, Nona Jane," sapa Lala, dia tersenyum sembari memandang keduanya.
"Terima kasih," sahut Jane, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
Pelayan itu langsung berlari menuju dapur untuk mengambilkan hidangan kecil. Sedangkan Louis pergi ke lantai atas untuk mengantar Alfred ke kamarnya, lantaran dia sudah tertidur sejak berada di dalam mobil.
Jane yang merasa bosan, lantas memainkan ponselnya. Namun dirinya terkejut, setelah tak sengaja melihat sebuah foto yang dikirim oleh pesan anonymous.
Bukan terkejut karena pesan anonymous, tetapi ia terkejut lantaran melihat sebuah foto dirinya bersama Louis saat duduk berdua di taman tadi.
Seketika rasa heran langsung muncul di benaknya, tentu ada seseorang yang telah merencanakan sesuatu dibalik semua ini.
Begitu Louis terlihat tengah menuruni anak tangga, Jane seketika memalingkan pandangannya. Orang pertama yang ia curigai adalah Louis, mungkin pria itu sedang merencanakan sesuatu.
"Kenapa diam? Tidak dimakan?" tanya Louis saat tiba di hadapan Jane.
"I-- ini, aku tidak selera," balasnya dengan asal.
"Mau ku ambilkan makanan lain?" tawar pria itu, membuat Jane reflek menoleh ke arahnya.
"Sebentar, akan aku ambilkan makanan lain."
Belum sempat menjawab, Louis langsung berjalan menuju dapur untuk mengambilkan sesuatu. Yah, kini Jane semakin heran, lantaran sifatnya juga berubah seratus delapan puluh derajat.
"Dia kesurupan apa?" batinnya.
Selang beberapa waktu kemudian, Louis kembali dengan tangan penuh berisi makanan, ia meletakkan makanan itu di atas meja ruang tamu dan menghidangkan nya untuk Jane.
"Apa sekarang sudah selera?" tanya nya lagi, kemudian Jane pun menggeleng meskipun dirinya sudah selera dengan semua makanan yang telah berada di hadapannya.
__ADS_1
Seketika Louis meraih dagu wanita itu, lalu mendekatkan wajahnya yang bahkan terlalu tampan, sampai tak sederajat dengan Jane yang memiliki wajah cantik level sedang.
"Apa kau selera dengan ini?"
Deg?!!! Jane terkejut, ia tak habis pikir dengan perangainya. Louis tiba-tiba membuka dua kancing kemeja bagian atas, dan menunjukkan lekukan dada yang sungguh menawan.
Jika author berada di situasi itu juga tidak akan menolak. Siapa sih yang menolak wajah tampannya? Hehe ....
"A-- apa? Tuan, anda bercanda?"
Tidak hanya sampai di situ, Louis yang sudah terlalu lama menahan hawa nafsunya untuk bermain dengan bibir milik Jane, kini mulai beraksi.
Pria itu memang tidak memandang tempat, padahal mereka sedang berada di ruang tamu, ruangan umum yang sering dilewati oleh kebanyakan para pelayan rumah.
Louis mulai mendaratkan bibirnya, merasakan sensasi kenyal yang nikmat. Sudah lama sejak istrinya pergi, ia sama sekali tidak merasakan kenikmatan itu, dan sekarang Louis memulainya lagi.
"Louis mencium bibirku di tempat ini? Nyalimu sungguh besar, Tuan," batin Jane yang juga sama tengah menikmatinya.
Setelah cukup lama bermain hingga posisi mereka saling bertubrukan di atas sofa, pria itupun menyudahinya. Air liur itu terlihat keluar saat Louis menarik ciumannya, dia mengusap air liur itu menggunakan lengan kemaja.
"Tidak kuduga, bibir wanita ini lumayan juga," ucap Louis dalam hati.
Wajah tampannya itu terlihat mengukir senyum tipis, yang tak ingin terlihat oleh wanita di depannya.
"Bibir mu ... lumayan," ungkap Louis, setelah sebelumnya hanya saling terdiam.
"Aaa!!! Apa dia tidak bercanda?!!" kejut Lala, yang juga tengah menyaksikan adegan itu dari atas tangga.
"Kau membuatku malu, Tuan," sahut Jane dengan pipinya yang berubah merah merona.
Karena suasana canggung yang hampir menyelimuti keduanya, Lala yang telah bersepakat dengan Alfred untuk menyatukan mereka lantas berjalan menuruni tangga untuk ke ruang tamu.
"Permisi, Tuan dan Nona," sapa nya seraya tersenyum lebar.
Sontak, Louis dan Jane sama-sama dibuat terkejut karena kedatangannya yang secara tiba-tiba.
"Makan malam sudah siap," tutur Lala pelan.
"I-- iya, sebentar," sahut Louis dengan gugup.
"Tuan, itu ... kancing kemeja anda." Lala menunjuk kancing kemejanya yang masih terbuka lebar, hingga membuat pria itu malu setengah mati.
__ADS_1
"Ah, benar. Kembalilah ke tempatmu," perintahnya dengan tegas, kemudian Lala berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Meskipun sejak tadi tampak terdiam, sebenarnya di dalam hati Jane terus tertawa lepas. Dia tak habis pikir dengan Louis, yang masih membiarkan kancing kemejanya terbuka dengan lebar.
*****
Ruang makan terlihat mewah dengan beberapa desain tembok yang terbuat dari berlian. Membuat Jane terkagum hebat saat menatapnya. Serta meja makan yang dipenuhi oleh makanan mewah kelas atas, yang bahkan sering banyak dijumpai di hotel-hotel mewah saja.
Jane duduk di sebuah kursi setelah seorang pelayan menarik kursinya. Hidup menjadi orang kaya memanglah praktis, selalu dilayani oleh pelayan rumah.
Sampai seluruh ruangan mampu bersih berkat para pelayan, yang hanya dibayar setiap akhir bulan.
Jane mulai melahap sajian makan malam itu, dirasakannya sensasi mewah mendarat di lidah. Selama seumur hidupnya, wanita itu sama sekali belum pernah merasakan makanan mewah seperti saat ini.
"Tuan, apa kau makan makanan ini setiap hari?" tanya Jane penasaran, lalu pria di hadapannya itu mengangguk.
"Wah ... keren sekali! Kau sangat beruntung."
"Sebentar."
Louis menghentikan tangan Jane yang hendak memasukkan makanannya ke dalam mulut, lalu meraih sebuah tisu dan mengusap pada bibir wanita di depannya.
Sontak beberapa pelayan yang sempat melihat kejadian tadi langsung bersorak karena salah tingkah.
"Te-- terima kasih," ucap Jane gugup.
"Aneh, pria ini sifatnya berubah dengan cepat. Apa benar foto yang terkirim ke ponselku adalah bagian dari rencananya?"
Setelah usai menghabiskan hidangan makan malam, Jane meminta berpamitan untuk pulang. Namun dengan terang-terangan Louis melarangnya, dengan alasan karena malam yang semakin larut.
"Tapi tidak baik juga jika aku di rumah pria saat malam hari, apalagi tidur di sini," tuturnya pelan.
Di tengah-tengah perbincangan antara keduanya, Lala tiba-tiba datang dari lantai bawah. Tampak beberapa perlengkapan bersih-bersih berada di tangannya.
"Permisi, kamarnya sudah saya siapkan," ucap Lala, sukses membulatkan kedua bola mata Jane.
"Kemari."
Louis langsung menarik lengannya, dan entah akan membawanya kemana, bahkan tidak ada yang tau. Termasuk Author :)
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ