
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Reading🥀
Langit tampak cerah di angkasa. Burung-burung berkicau menyambut hari yang baru. Pancaran sinar matahari mempu menembus kaca jendela. Suasana pagi yang nyaman nan damai membuat Jane bersemangat untuk melakukan aktivitas pertamanya hari ini.
Dia berjalan menuju pintu rumah, dilihatnya sebuah taxi berwarna hitam telah berada di halaman rumah miliknya. Wanita itu masuk ke dalam taxi yang kemudian langsung melaju.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit, Jane pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Sebuah perusahaan besar telah terlihat di depan matanya. Ia pun bergegas masuk sebelum terlambat.
"Huh, semoga saja ini menjadi hari pertama bekerja yang menyenangkan!" ucapnya seraya bersandar di sebuah kursi.
Jabatannya sebagai asisten pribadi tuan pemilik perusahaan bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Apalagi Jane belum melakukan interview, bahkan tidak melakukan evaluasi.
Tok ... tok ... tok ...
Seseorang tengah mengetuk pintu ruangan Jane, wanita itu lekas bangkit dari kursi untuk membukakan pintu tersebut.
"Selamat pa-- " Jane hendak menyapa, namun terhenti karena melihat sosok perempuan tengah mengunjungi ruangannya.
"Selamat pagi," sapa wanita di hadapan Jane. Wanita itu tersenyum lebar, dia asal masuk ke dalam ruangan.
"Siapa kau?" tanya Jane, ia tidak habis pikir dengan tingkah laku wanita itu.
"Aku? Aku Sora. Sora Vancette."
Sora Vancette, seorang wanita kelahiran Jerman Australia itu baru berusia 22 tahun. Rambutnya yang pendek berwarna hitam legam mampu menambah daya tarik dalam dirinya. Sosoknya dengan tubuh sedikit pendek juga membuatnya terlihat seperti gadis imut.
"Oh ya, apa kau asisten pribadi baru tuan?" tanya Sora. Dia tersenyum kecut menatap Jane.
Yah, tidak ingin membuat masalah. Jane hanya mengangguk pelan dan segera mengusir Sora dari dalam ruangannya. Tentu saja, itu membuatnya merasa terganggu di hari pertamanya bekerja.
"Hei, aku hanya ingin berkenalan denganmu," ungkap Sora. Dia mengulurkan tangannya, ingin berusaha mendekatkan diri.
"Apa dia benar memiliki niat baik? Mungkin saja, kan?" Jane bertanya dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, aku Jane Lilson. Panggilan ku Jane!" balas Jane yang juga membalas uluran tangan tersebut.
Selang beberapa waktu, Sora pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat bekerjanya dikarenakan waktu bekerja akan segera mulai dalam beberapa menit lagi.
Diawal pertemuan mereka, Jane sudah bisa mulai sedikit akrab dengan Sora. Yah, meskipun wanita itu sempat bersikap aneh saat tiba-tiba memasuki ruangan pribadi miliknya.
Belum lama setelah kepergian Sora, Jane mendadak mendapat sebuah panggilan dari perusahaan. Dia diperintah untuk segera menuju ke ruangan sang pemilik perusahaan. Tentu saja, mereka harus saling mengenal.
Wanita itu melangkah masuk menuju sebuah lift, dan terlihat beberapa orang tengah menatapnya dari dalam lift tersebut.
"Selamat pagi." Jane berusaha menciptakan keharmonisan diantara mereka lantaran terlihat tatapan sinis yang tertuju padanya.
Setelah tiba di lantai tertinggi, wanita itu lantas memasuki sebuah ruangan mewah. Lebih tepatnya disebut sebagai ruang VIP jika berada di hotel bintang lima.
Jane duduk di sebuah kursi yang telah disediakan, kini sosoknya tengah berhadapan dengan seorang pria.
"A-- anda?!!!" Jane terkejut, begitu melihat seorang pria di hadapannya yang ternyata adalah Louis Hanshen. Pria yang sempat bertemu dengannya beberapa hari lalu di sebuah toko swalayan.
"Iya," balasnya dengan senyum kecut di wajahnya. Pria dingin seperti Louis memang sulit untuk ditaklukkan oleh wanita manapun.
"Ah, pantas aku merasa heran sejak awal. Bagaimana bisa aku ditempatkan sebagai seorang asisten pribadi tanpa harus melakukan interview? Ternyata pemiliknya adalah pria ini?" gumam Jane dengan tatapan yang terus tertuju pada pria di hadapannya.
Setelah cukup lama saling bertatapan tanpa adanya sedikitpun topik, Jane akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Dia ingin segera kabur dari situasi canggung saat ini.
"Tunggu!" sergah Louis dengan tangan yang hendak meraih lengan Jane. Namun hal itu gagal, karena Jane tiba-tiba memutar balik tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Jane. Wajahnya terlihat jelas sedang menahan rasa takut. Sontak hal itu membuat Louis menjadi terheran-heran padanya.
"Anda takut?" Bukannya menjawab, Louis malah balik bertanya. Dia tampak tersenyum kecil begitu melihat ekspresi aneh dari wanita di hadapannya.
"Ti-- tidak! Untuk apa saya takut?" tandas nya.
"Baiklah,"
"Eh, kenapa anda memanggil saya tadi?"
"Tidak apa-apa. Jika saya membutuhkan anda, saya akan menghubungi anda lewat telepon perusahaan." Jane mengangguk, langkah kakinya berjalan menuju pintu utama ruangan.
__ADS_1
Wanita itu kembali memasuki lift untuk menuju ke ruangan kerjannya yang terletak di lantai bawah. Namun suatu hal yang tak diduga terjadi, Jane menjadi buah bibir diantara orang-orang yang berada di dalam lift tersebut.
Mau tidak mau, Jane pun memberanikan diri untuk menyela permbicaraan mereka.
"Permisi, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Jane seraya tersenyum. Jelas sekali, terlihat wajah kesal dalam dirinya.
"A-- anu, tidak ada!" kata salah seorang dari beberapa orang di sana.
Mereka seketika buyar dan berdiri tegak tanpa berkerumun seperti sebelumnya. Tak ada satupun orang yang berani membicarakan tentang Jane lagi.
"Sialan, pagi-pagi sudah bikin kesal!" pikirnya dengan tangan menepuk jidat.
〰︎〰〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Waktu menunjukkan pukul 12.01. Matahari tampak terlihat berada di puncak tertingginya. Suhu panas kian melonjak, bahkan membuat beberapa orang jadi tidak fokus dengan pekerjaan mereka.
Jane berjalan melewati sebuah tangga untuk menuju kantin perusahaan. Di hari pertama dirinya bekerja, tentu saja membuatnya sedikit bingung dengan tata letak ruangan perusahaan yang begitu luas.
Begitu tiba di depan sebuah toilet khusus, Jane tak sengaja mendengar beberapa karyawan lain tengah membicarakan dirinya. Lagi-lagi mereka tidak puas dengan gosip aneh yang telah menyebar. Jujur, hal itu membuat Jane merasa dirugikan.
"Hai, apa kau tau? Bukankah asisten baru itu sudah menggoda tuan Louis? Benar-benar tidak tau malu!" cibir seorang wanita dengan rambut panjang sepinggang. Lalu di angguki oleh wanita lainnya.
"Hei, jangan percaya dengan gosip seperti itu. Apa saya memang terlihat seperti wanita yang sudah menggoda tuan Louis?" tanya Jane setelah menghampiri kerumunan orang-orang tersebut.
Sontak hal itu membuat beberapa diantara mereka terkejut lantaran Jane tiba-tiba muncul seperti hantu.
"Bukankah memang begitu kenyataannya? Menjijikkan!" ujar teman wanita yang lainnya. Perkataannya tentu membuat Jane merasa sakit hati.
"Jane bukan wanita seperti itu!" timpal seorang pria yang baru saja datang. Dia mengenakan sebuah jas berwarna abu dengan setelah celana yang juga berwarna abu. Bola mata birunya mampu membuat siapa saja terperangkap dalam sebuah hubungan asmara.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~
__ADS_1