Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 18-Kecurigaan


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


___________________________________________


Happy Reading🥀


Semburat mentari pagi memancar ke seluruh ruangan. Angin bersiul masuk menembus melalui lubang udara. Jalanan kota telah ramai dipenuhi kendaraan, orang-orang telah mulai beraktivitas.


Louis membuka kedua bola matanya, ketika tak sengaja mendengar sebuah pintu yang terbuka dari luar. Tampaknya seorang security hotel tengah berkeliling, dan tak tanpa sengaja membuka kamar hotel tersebut.


"Tu-- Tuan? Anda sedang a-- " ucapannya terhenti, ketika Louis memotongnya.


"Jangan banyak bicara."


Lantas Jane terbangun, membuka kedua bola mata yang terasa berat akibat tidur larut malam. Ia bingung sekaligus terkejut ketika melihat sang tuan tengah berdiri memandangnya bersama seorang security di sebelahnya.


"Ah? Jam berapa ini?" tanya Jane seraya bangkit dari ranjang. Bukannya takut, wanita itu justru merasa malu karena seseorang melihatnya berada satu kamar dengan Louis.


"Jangan salah paham dengan apa yang kau lihat, ini semua hanya salah paham," ujar Louis berusaha untuk membenarkan kesalah-pahaman.


Lantas Jane pun tersadar, bahwa pria yang sedang berdiri di hadapan Louis memang merasa curiga akan sesuatu yang baru saja di lihatnya.


"Aiya, kami terjebak semalaman di sini. Seseorang iseng mengunci pintu dari luar!" timpal Jane dengan langkah yang semakin mendekati keduanya.


"Tenang saja, jika memang kalian sedang bersenang-senang maka saya tidak akan memberitahu orang lain," ujar si security.


Jane memegang dahi nya, dia hanya bisa geleng kepala dengan pemikiran pria itu. Yah, memang tidak ada bukti yang jelas mengenai kejadian semalam, lantaran seisi ruangan di hotel tersebut tidak dipenuhi oleh CCTV.


"Tapi benar, kami memang tidak melakukan apa-apa, benar kan Tuan?" Louis mengangguk, setuju dengan ucapan wanita di sebelahnya.


"Baiklah, saya percaya. Sebaiknya Tuan dan Nona asisten mandi terlebih dahulu. Bukankah kalian akan pergi ke perusahaan?"


"Ah, benar!" kata Jane yang baru tersadar bahwa ini bukanlah hari libur.


******


Selang beberapa waktu, Louis akhirnya tiba di kediaman Hanshen. Dia memang pria tidak peka, itulah kenapa Jane kembali ke rumahnya dengan menggunakan taxi.


Pria itu melangkah masuk ke dalam rumahnya, tampak setiap sudut ruangan yang telah rapih dan bersih yang bahkan sebutir debu pun tak nampak di lantai.


Dilihatnya, waktu telah menunjukkan pukul 08.00. Sudah hampir satu jam dirinya terlambat datang ke perusahaan. Tidak menggunakan waktu lama, Louis akhirnya selesai membersihkan diri. Dia mengenakan sebuah kemeja berwarna hitam dengan dominan warna abu.

__ADS_1


"Benar, Alfred!" ucapnya dalam hati.


Cek lek ...


Louis membuka pintu kamar sang anak, namun tak terlihat sosok anaknya berada di dalam sana.


"Alfred? Kau dimana?" teriaknya seraya berjalan mengelilingi ranjang. Ia lupa, bahwa Alfred seharusnya sudah pergi ke sekolah.


"Maaf Tuan, tuan muda Alfred sudah pergi ke sekolahnya," ucap seorang wanita selaku pelayan di rumahnya.


Louis mengangguk paham, dia kemudian berjalan menuju halaman rumahnya untuk menaiki mobil.


Hanya dalam waktu beberapa menit, pria itu akhirnya tiba di perusahaan HonE Entertainment. Banyak sepasang mata menatapnya, tak lain adalah karyawan perusahaannya sendiri.


"Jika ada masalah, bicarakan langsung dengan saya. Jangan menatap saya seperti itu," tegur nya dengan langkah kaki yang masuk ke dalam lift. Yah, ucapannya itu mampu membuat si wanita menjadi malu dan tidak berani menatapnya.


Brugh!


Louis menabrak seseorang ketika dirinya hendak keluar dari lift. Tampaknya dia adalah seorang pria yang cukup dekat dengannya. Tepat sekali, pria itu adalah Dion, seorang manager di perusahaan HonE Entertainment.


"Ah, maaf Tuan," ucapnya seraya membungkukkan badannya beberapa kali. Namun Louis terdiam tak menggubris ucapannya, dia berlalu meninggalkan pria itu.


"Se-- sebentar, Tuan Louis!" teriak Dion. Lantas sang tuan pun menoleh, dengan raut wajah dingin yang selalu ter selimut di wajahnya.


"Apa maksudmu?" balasnya dengan berbalik tanya lantaran bingung dengan pertanyaan Dion barusan.


"Bukankah semalam anda ada masalah pribadi, sehingga tidak dapat hadir di acara pesta perusahaan?"


"Sial, apa maksudnya? Siapa yang sudah berbicara seperti itu?" batin Louis merasa jengkel sekaligus heran.


"Tuan?" Dion melambaikan tangannya tepat di depan wajah Louis, membuat pria itu terbuyar dari lamunannya.


"Siapa yang sudah berkata seperti itu?"


"Hah? Apa maksud anda?"


Toh, keduanya sama-sama bingung. Mereka berusaha saling mengerti dengan ucapan masing-masing. Lalu terlintas di benak Louis, bahwa sepertinya ada seseorang yang sengaja menciptakan berita bohong mengenai keberadaannya semalam.


"Lupakan." Pria itu meninggalkan bawahannya, dengan langkah kaki yang semakin cepat menuju ruangan pribadinya.


*****

__ADS_1


Brak!


Louis mendobrak meja, dirinya sedang berhadapan dengan beberapa anak buahnya yang tampak menundukkan kepala. Tak ada satupun dari mereka yang berani menatap wajah sang tuan.


"Siapa yang sudah berani membuat berita bahwa aku sedang ada masalah pribadi semalam?" tanya Louis, tatapan matanya yang tajam mampu membuat para anak buahnya merasa takut.


"Maaf Tuan," balas salah seorang dari mereka.


"Apa ini ..., perintah Alfred?"


Semuanya terdiam, saling memandang satu sama lain. Namun tak ada yang berani membuka mulut, mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tampak seisi ruangan yang bersih dan tercium aroma wangi. Lantas ia pun langsung menyandarkan tubuhnya di kursi.


Kriet ...


Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Jane berdalih memandang seseorang yang baru saja membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Dion?" Jane terkejut, setelah melihat sahabatnya muncul tiba-tiba.


"Ah, semalam kau dimana saja?" tanya Dion merasa khawatir seraya berjalan cepat menghampiri Jane yang tengah bersandar di kursinya.


"A-- anu, aku pusing. Jadi langsung pulang," bohong Jane.


"Pantas saja kau tidak bisa di hubungi ... "


"Tapi, apa kau sudah baikan?" imbuhnya bertanya, tanpa sadar ia meletakkan telapak tangannya pada jidat wanita itu.


"Eh? Situasi macam apa ini?" batin Jane merasa gugup.


"Tenang, aku sudah baikan kok!"


Tidak berselang lama, pintu ruangannya kembali terbuka dan tampak Sora yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.


"Hai, Dion!" sapa nya dengan tangan yang langsung merangkul tangan Dion. Sontak Dion menjadi risih dan merasa tidak enak pada Jane. Namun Jane hanya menganggapnya biasa karena memang tidak masalah baginya jika Sora dekat dengan sahabatnya itu.


Bersambung🍁


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!

__ADS_1


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.


Terima kasih~


__ADS_2